logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 13 November 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Petani Coba Pola Tanam Baru, Satu Lubang Satu Batang

HUJAN deras disertai petir yang menggelegar bagi petani di Banyumas merupakan pertanda untuk memulai menanam padi. Dengan pertanda alam itu petani meyakini air sudah benar-benar bisa mencukupi untuk sawah mereka.

Sesuai dengan perhitungan, saat ini memang sudah saatnya bercocok tanam dalam musim tanam Oktober-Maret. Di Kabupaten Banyumas areal sawah yang akan ditanami padi pada musim tanam kali ini-sesuai dengan pendataan Dinas Pertanian Kabupaten-sekitar 34.000 hektare.

''Melihat gejala alam yang ada, petani saat ini tidak ragu lagi untuk bercocok tanam. Kebutuhan air sudah mencukupi, sehingga mereka tak perlu khawatir kekurangan air,'' kata Kepala Dinas Pertanian Ir Djoko Wikanto MM kepada Suara Merdeka kemarin.

Bedanya pada MT kali ini Dinas Pertanian sedang melakukan uji coba pola baru yang disebut pengelolaan tanaman terpadu (PTT), yakni sebuah pola dengan pengelolaan lahan sawah yang efisien.

Djoko yang didampingi Kasi Padi Palawija dan Ketahanan Pangan Supriyatmono mengemukakan, pola baru yang tengah diujicobakan merupakan hasil pengembangan Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi Subang yang diterapkan di Banyumas. Dalam pola itu pesemaian dilakukan dalam bedeng-bedeng yang spesifik. Pembibitan di bedeng menggunakan pupuk campuran yakni anorganik dan organik (pupuk kandang).

Merang Basah

Kemudian, di atas pesemaian diberi merang basah, sehingga akar bibit padi yang diberi pupuk organik tumbuh di atas merang basah tersebut. ''Dalam pola ini, bibit padi yang ditebar cukup 14-15 hari. Kalau persemaian biasa sampai 30 hari. Kemudian, bibit dalam persemaian mudah dicabut. Lalu, bibit dipindah ke sawah dengan ditanam satu lubang satu batang, tidak perlu tiga batang seperti pada pola biasa. Pola itu dalam satu hektare sawah menggunakan bibit 15 kg. Padahal, cara konvensional membutuhkan bibit 30 kg,'' katanya.

Melihat perbedaan dengan pola biasa itu, dengan PTT bisa dihemat waktu hingga 15 hari dan biaya berkurang cukup banyak. Masa panen pun lebih cepat karena sejak dari pembibitan sudah efisien 15 hari.

PTT, kata Djoko, sedang diujicobakan di 10 unit di enam kecamatan di Kabupaten Banyumas yang pada 2003 mendapat program peningkatan mutu intensifikasi padi. Areal yang dipakai untuk uji coba PTT itu ada 500 hektare.

''Dengan pola ini petani yang semula digencarkan agar memakai sistem metuk, yakni mengorbankan satu petak untuk pesemaian dalam setiap panen, bisa meninggalkan sistem tersebut. Sebab, petani tak perlu mengorbankan satu petaknya saat panen. Panen selesai, PTT pesemaian bisa langsung dilakukan.''

Seorang petani, Muslim (55) asal Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen mengatakan, pola PTT itu memang baru pertama dia coba. ''Pola ini memang sangat efisien. Penyemaian bibit hanya butuh 15 hari, tidak 30 hari seperti biasa. Kemudian, satu lubang cukup satu batang, tidak tiga batang, sehingga hemat bibit 15 kg. Kalau bibit harganya Rp 3.500/kg, berarti bisa menghemat lebih dari Rp 50.000 setiap masa tanam,'' tuturnya.

Djoko mengakui, PTT belum bisa memberikan jaminan produktivitasnya bakal naik. ''Dinas Pertanian tidak akan banyak menjanjikan, tapi akan terus memantau uji coba yang sedang dilakukan ini mulai penebaran benih, persemaian, pertumbuhan hingga panen. Kita lihat saja hasilnya saat panen,'' ujar dia. (Sigit Oedianto-20e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA