
| Kamis, 13 November 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Dilarang Bongkar Barang di Depan Pasar
BATANG - Mulai H-3 Hari Raya Idul Fitri, kendaraan boks atau angkutan barang dilarang parkir di depan pasar Batang. Bagi mereka yang akan membongkar barang disediakan tempat di belakang pasar, yakni di Sub-Terminal Patimura. Kebijakan itu dilakukan Kantor Perhubungan dengan tujuan mengurangi kepadatan arus saat mudik. Sebab, Pasar Batang berada di pinggir jalan raya utama pantura. ''Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kelancaran arus lalu lintas di jalan raya pantura Batang sedikit terganggu karena ada pasar tumpah. Agar tidak terjadi kemacetan, kendaraan boks atau angkutan barang yang akan membongkar muatan kami alihkan di belakang pasar,'' ujar Kepala Kantor Perhubungan Bambang Hindrarso SH di sela-sela memantau jalur pantura Alas Roban, kemarin. Adapun kendaran pribadi dan umum masih diizinkan parkir di depan pasar. Kendaraan angkutan barang bisa parkir di depan pasar mulai sore. Penumpukan Keramaian Pihaknya juga akan menempatkan pedagang bunga yang semula di luar pasar dan di trotoar Jl Yos Sudarso menjadi satu di Jl Dr Cipto (selatan pasar). Hal itu dilakukan, juga agar tidak terjadi penumpukan keramaian di sekitar pasar. ''Selama ini pedagang bunga yang mulai ramai H-1 (biasa disebut pasar kembang cilik) memadati trotoar di Jl Yos Sudarso depan ruko. Hal itu membuat arus lalu lintas semrawut, sehingga secara koordinatif akan kami tempatkan menjadi satu di Jl Dr Cipto, termasuk yang di luar kompleks pasar,'' jelas Bambang Hindrarso SH. Sementara itu, dalam pemantauan sepanjang jalur Batang-Gringsing kemarin, kendaraan yang mendominasi di jalan adalah truk pengangkut barang. Kebanyakan truk itu datang dari Jakarta dengan tujuan kota-kota di Jateng dan DIY. Sebaliknya, kendaraan dari timur menuju Jakarta juga banyak. Sebagian mereka ada yang membawa ternak dan buah-buahan. ''Saya membawa sapi dari Madura dengan tujuan Jakarta. Dua minggu hingga satu minggu sebelum Lebaran merupakan puncak permintaah daging di Jakarta,'' ujar Soleh dari Sampang saat ditemui sedang istirahat. Hal senada juga dikatakan Abdul Rahman, pengemudi truk asal Kepanjen Malang yang dalam perjalanan menuju Ibu Kota membawa buah-buahan. Mereka menyebutkan, sebenarnya jalan raya Batang sudah memadai. Tidak seperti sebelum dilebarkan menjadi empat lajur. Hanya, masih ada simpul kerawanan dan kemacetan, yaitu di depan pasar. ''Kalau kami boleh usul, sudah saatnya Batang membangun jalur lingkar untuk menghindari kemacetan akibat keramaian pasar. Misalnya, Weleri dan Kaliwungu yang sudah mempunyai jalan lingkar. Sekarang di sana lancar dan kami pun bisa cepat sampai tujuan,'' ujar Abdul Rahman. (ar-58e) |