logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 13 November 2003 Budaya  
Line

Gairahkan Seni Jawa di Suriname

HAMPIR lima bulan lamanya, sejak Juni hingga Oktober 2003 lalu, lelaki itu berada di Negara Republik Suriname. Hal itu dilakukannya untuk memenuhi undangan khusus dari masyarakat (Jawa) yang ada di sana. Untuk apa?

''Tujuan awalnya untuk memberikan pelatihan tentang kesenian tradisi Jawa, seperti pedalangan, karawitan, dan tembang (olah vokal),'' ujar lelaki tersdebut, Bambang Suwarno SKar MHum.

Ya, tujuan awal. Karena ketika baru beberapa hari berada di negara bekas koloni Belanda tersebut, dia mendapatkan pengalaman yang sungguh-sungguh di luar perkiraannya. Pengalaman itu, kemudian memunculkan keraguan dalam hatinya: Tepatkah dia memberikan pelatihan kepada mereka (masyarakat Suriname)?

"Mereka yang akan saya latih itu sudah mempunyai latar belakang kesenimanan (Jawa) yang sudah sedemikian kuat,'' ujarnya seakan tidak habis mengerti. Namun dia kemudian maklum, setelah mengenal lebih dekat lagi tentang perkembangan kesenian Jawa di negara tersebut, khususnya di wilayah Para Maribo, ibukota Suriname, dan Nikeri, kota terbesar kedua.

Betapa di dua wilayah tersebut menjamur beberapa kelompok karawitan, dalang, sindhen (pelantun lagu), dan penari Jawa. Juga upacara ritual, semacam bersih desa dan ruwahan yang selalu menjadi ajang pergelaran kesenian.

Lebih maklum lagi, ketika dia tahu tentang latar belakang sejarah masyarakat Jawa di negara tersebut. ''Menurut cerita orang di Suriname, komunitas masyarakat Jawa yang di tempatkan Belanda di negara itu sekitar 113 tahun lalu kebanyakan adalah kaum seniman. Karena itu, tidak heran kalau generasinya sekarang -yang merupakan keturunan ketiga- juga mewarisi bakat tersebut,'' paparnya.

Nyepuh

Akhirnya, dengan berbekal kenyataan itu Bambang Suwarno kemudian lebih membenarkan istilah yang dilontarkan Duta Besar Indonesia untuk negara tersebut, Drs Suparmin Sunjaya, yang mengatakan kedatangannya itu untuk nyepuh (memoles) kesenian tradisi Jawa yang memang sudah lama berkembang di Suriname.

''Hanya memoles saja, dan sedikit menambahi perkembangan kesenian yang sudah terjadi di tanah Jawa. Lebih dari itu, saya takut kalau nanti malah diesemi (dicibir-Red).''

Ya, dia takut kalau kejadian lama terulang lagi, seperti apa yang didengarnya. Pernah suatu ketika, ada pendatang yang mengaku bisa menguasai kesenian tradisi Jawa, namun saat dipraktikkan, ternyata orang itu tidak mampu. ''Orang itu mungkin tidak tahu, kalau masyarakat di negara tersebut mempunyai daya apresiasi yang tidak kalah dengan orang Jawa di Indonesia. Tidak tahu, kalau mereka juga bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk.''

Maka, ketika memberikan materi yang sudah dibawanya dari Solo, dia lebih senang mengungkapkannya dengan mengajak belajar bersama. ''Belajar bersama, dengan tujuan untuk lebih menggairahkan lagi kehidupan kesenian tradisi Jawa. Entah itu tentang notasi, balungan, wilet kendang, irama rangkep, maupun nibani dan lain sebagainya,'' tuturnya, seperti yang dia katakan kepada masyarakat Suriname.

Bahkan, lanjut dia, juga belajar bersama tentang spirit dari kesenian Jawa itu sendiri. Sama seperti spirit pada masyarakat ketika membuat patung gunungan di tengah kota. ''Cerita tentang kali pertama kedatangan masyarakat Jawa ke tempat tersebut, yang dituangkan melalui diaroma dalam patung itu, akan selalu menumbuhkan semangat mereka untuk tetap eksis,'' papar Bambang.(Wisnu Kisawa-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA