
| Kamis, 13 November 2003 | Budaya |
Desentralisasi Panggung HiburanMEMASUKI 2003, ada fenomena menarik dalam dunia hiburan. Di tengah-tengah masih banyaknya artis penghibur yang punya nama, bintang-bintang baru pun muncul berkilapan; antara lain penyanyi Audy dan Tere. Bukan itu saja. Fenomena menarik lainnya adalah munculnya semacam desentralisasi dalam hal tempat berlangsungnya pertunjukan. Beberapa tahun lalu, tempat pertunjukan -seperti konser-konser musik akbar- seolah-olah hanya boleh memusat di kota-kota. Pada tahun ini, tempat pertunjukan sudah bisa meluas ke kota-kota kecil. Lihat saja, bagaimana dimanjakannya masyarakat di kota-kota kecil di Jawa (Indonesia) yang sempat merasakan kehadiran band-band papan atas di Indonesia seperti Jamrud, Gigi, Padi, Tipe-X, Slank, Sheila on7, Boomerang, /rif, dan bahkan grup mancanegara seperti Blindspot dan Too Path. Padahal sebelumnya, boleh dibilang kota kecil hampir tidak pernah dilirik oleh entertainer papan atas. Kalau dirunut, bisa jadi kenyataan itu bagian dari strategi manajemen sang bintang untuk meraih pasar yang lebih luas, termasuk pasar musik di daerah yang sebetulnya memang sangat potensial. Simak saja respons penonton yang selalu antusias untuk menonton pertunjukan yang nyaris selalu digelar dengan tiket murah meriah. Contohnya, hanya dengan lima ribu perak saja penonton di kota kecil bisa menikmati untuk satu pertunjukan grup bintang, plus atraksi kembang api yang langka. Tak pelak lagi, fenomena itu dengan jeli telah dilihat oleh para penggelola bisnis hiburan, sebutlah event organizer (EO). Maka, bermunculan banyak EO, tak terkecuali di kota-kota kecil. Nah, sebuah EO dari kota semacam Purwokerto yang dibangun oleh beberapa anak muda pun berusaha merespons fenomena yang ada tersebut. Nama EO-nya ''Hitam Putih'', yang di dalamnya terdapat aktivis-aktivis muda seperti Dedy, Andri, Mulyono Rahmad, Yudistira Setiawan, dan Arif Saputra. Bukan EO Baru Sebenarnya, EO "Hitam Putih" bukan lembaga yang baru saja terjun ke bisnis hiburan. EO yang merupakan salah satu divisi CV Hutama Persada itu, sebenarnya telah lama mengaktualisasikan kiprahnya lewat berbagai event besar yang digelarnya: mulai dari kontes modelling, drag bike competition hingga berbagai event musik akbar, seperti konser Jamrud, Gigi, dan Padi. Pada 2000, ketika jenis musik ska berjaya, Hitam Putih juga sempat memanggungkan Shaggydog dari Yogyakarta. Terakhir yang cukup spektakuler digelar ''Hitam Putih'', adalah konser Boomerang di empat kota Jateng: Purworejo, Cilacap, Tegal, dan Pemalang. Maka, EO itu hadir dengan kredo yang memikat Entertainment is News and News is Entertainment. Tak melulu di panggung hiburan, para awak EO itu juga melengkapi kiprahnya di bidang lain seperti fotografi, multimedia, properti, dan agencies. ''Kami punya komitmen membuat lembaga bisnis hiburan yang cerdas, jujur, bertanggung jawab, dan professional,'' ujar Arif Saputra, lajang kelahiran Purwokerto yang kini menjadi leader di EO yang beralamat di Jalan Kober 129 Purwokerto itu. Arif menandaskan, ''Hitam Putih'' memiliki filosofi Yin dan Yang. Maksudnya, ia berusaha mengomposisikan dua sisi yang saling berkaitan dan membuat keseimbangan dalam kehidupan menjadi satu kesempurnaan. ''Intinya, kami harus bisa membedakan baik dan buruk, agar semuanya serbatransparan,'' tandasnya. Dengan visi dan misi yang positif itu, ''Hitam Putih'' kini menjadi EO cukup disegani, baik oleh EO lain maupun para artis dan kalangan pers yang pernah berhubungan dengan pihaknya. Dan memang, sejauh kiprahnya, EO itu telah menunjukkan keandalan. ''Kami punya obsesi menjadi entertainment terbaik dan mampu berbicara banyak. Itu tak mudah. Maka kami harus bekerja keras dan bertanggung jawab,'' kata alumnus D3 Sastra Inggris Unsoed Purwokerto itu lagi. Sebagai leader sebuah EO, Arif boleh jadi memiliki kompetensi untuk itu. Dia pernah menjadi penyiar sebuah stasiun radio, dan banyak aktivitas kemahasiswaan yang diiikuti sehingga mendukung kiprahnya sekarang. Kalau melihatnya di sebuh konser musik, boleh jadi Anda akan mengambil simpulan: lelaki muda itu memang pekerja keras dan ulet, yang telah dengan jeli mampu menangkap fenomena, betapa telah ada desentralisasi di panggung hiburan.(Saroni Asikin-41) |