logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 6 November 2003 Ekonomi  
Line

Pangsa Pasar Sarung 70 Juta

SURABAYA-Bulan Ramadan mendatangkan berkah langsung kepada produsen sarung. Pada bulan suci ini omzet penjualan mereka naik sekitar 70%. "Pokoknya bulan Ramadan merupakan masa emas bagi produsen sarung," kata Djamal, Direktur Utama PT Sukorintex, produsen sarung merek Wadimor, kemarin.

Djamal mengungkapkan pangsa pasar sarung secara nasional sekitar 70 juta orang dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia. "Dalam bisnis sarung kami merasa tak memiliki pesaing karena pangsa pasar dalam negeri memang sangat besar," tambahnya.

Tahun lalu, pihaknya memproduksi sarung sebanyak 50 ribu kodi dan per kodi berisi 12 helai. Jumlah produksi sebanyak itu sebenarnya belum mampu memenuhi pasaran dalam negeri. "Pada bulan puasa hampir setiap muslim membeli sarung baru sehingga permintaan meningkat tajam," jelas dia.

Selama ini, lanjut dia, sarung merek Wadimor lebih banyak dipasarkan di luar negeri, yakni sekitar 80%. Antara lain ke Malaysia, Arab Saudi, Yaman, Kenya, dan negara-negara di Timur Tengah serta Afrika. Sisa produksi sebesar 20% dijual ke pasar lokal. Pada tahun ini diproyeksikan penetrasi ke pasar lokal 30% sampai 40%.

"Pabrik kami yang berlokasi di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, menyewa lahan pemerintah kabupaten," tuturnya, Perspektif ke depan, pihaknya berencana ekspansi ke Jateng untuk membangun pabrik sarung di provinsi itu. Pilihan lokasinya adalah Kabupaten Batang atau Pekalongan.

Menurut Djamal, di Pekalongan sebenarnya banyak tenaga ahli bidang persarungan. Tenaga dari Pekalongan dikenal ahli membuat motif.

Mereka memiliki kemampuan teknis tinggi untuk membuat sarung dengan motif bercita rasa seni tinggi dan bahan bakunya dari sutera.

"Pekalongan itu gudang tenaga ahli persarungan. Sayangnya, di sana banyak industri kecil dan menengah sarung gulung tikar akibat tak mampu mengejar kenaikan bahan baku dan kimia untuk pewarna," jelasnya.

Selama ini, kata dia, bahan kimia pewarna untuk sarung didatangkan dari Cina dan Jepang, sedangkan benangnya produksi lokal. Kendati produksi lokal namun mengikuti kurs dolar karena harga kapas patokannya internasional. (G14-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA