logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Surat Pembaca  
Line

Karanganyar-ku yang Ngambang

Mengikuti perkembangan pemilihan dan hasil Pilbup Karanganyar sampai saat ini, sungguh memprihatinkan. Saya yang merasa putra daerah meski 15 tahun hidup di luar kota masih merasa memiliki Karanganyar sebagai daerah kebanggaan.

Saya wajib mengikuti perkembangan baik dari sisi ekonomi, sosial maupun politiknya. Sebagai orang kecil yang tidak pernah belajar politik, tetapi punya rasa ingin tahu terhadap situasi politik, saya prihatin dengan hasil Pilbup yang sampai kini masih terkatung-katung legalitasnya.

Seandainya para elite politik mau berbesar hati dan punya komitmen terhadap kepentingan yang lebih luas, tidak memaksakan kepentingan kelompok, partai atau bahkan pribadi, saya yakin hal tersebut tidak berkepanjangan seperti sekarang.

Bagi saya atau mungkin masyarakat kebanyakan, sosok seorang Bupati dan Wakil Bupati tidak terlalu dituntut kriteria macam-macam. Yang penting memenuhi syarat yang ditentukan. Hanya sekadar tahu Bupati saya si A, wakilnya si B.

Hal itu merupakan wujud kalau daerahnya memenuhi syarat, karena dilengkapi perangkat pemerintahnya.

Kalau begini kenyataannya, berarti para wakil rakyat sendiri yang harus bertanggungjawab. Pilbup ulangan tentu memakan anggaran yang tidak sedikit. Belum tentu berjalan mulus dan diterima semua pihak.

Lebih baik Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang sudah ada dilantik, dipercaya untuk menjalankan pemerintahan. Nantinya dimintai pertanggungjawaban pada LPJ tahunan secara periodik untuk melakukan penilaian kemampuan eksekutif menjalankan tugasnya.

Tidak ada sosok yang sempurna. Akan lebih mulia kalau mau introspeksi diri. Mencari-cari kesalahan orang jelas perbuatan tidak terpuji. Semoga hati para wakil rakyat legowo dan menerima masukan ini, sehingga tidak lagi terdengar keinginan sebagian wilayah Karanganyar ingin bergabung daerah lain.

Haryanto
Jl Dr Sutomo Rt 2/Rw 6 Slawi, Tegal

***

Konsultasi LKPA

Saya merasa sangat gembira dengan rubrik Suara Perempuan di Suara Mereka. Kami para Ibu-ibu rumah tangga, yang mempunyai beberapa perkumpulan seperti PKK, Paguyuban Profesi Guru dan lainnya mendapatkan bahan bermanfaat untuk menyelesaikan problem.

Terutama soal rumah tangga yang terkait dengan agama. Semula sebagian kami hanya beli Suara Merdeka secara eceran, karena sudah langganan koran lain di kota kami. Namun dengan adanya LKPA, banyak ibu yang berlangganan Suara Merdeka. Kalau bisa kami mengusulkan agar konsultasi LKPA bisa ditampilkan setiap minggu.

Ny Hj Nurul Suprapto
Suronatan Ng 2/96 Yogyakarta

***

Terima Kasih Kiriman Lagu-lagu Lamanya

Mengingat beberapa penyumbang lagu-lagu kuno yang saya mintakan pada para pembaca lewat Surat Pembaca terbitan 4 Oktober 2003, ada yang mencantumkan alamat dan ada pula yang sama sekali tidak. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih atas kiriman lagu-lagu lama yang saya perlukan.

Saya sangat senang atas kepedulian saudara-saudara sekalian, mudah-mudahan dalam waktu mendatang saya dapat bersilaturahmi. Sekali lagi terima kasih banyak

Bambang Poernomo
Jl Raya Kranggan 36 Temanggung

***

Dibingungkan Dealer Pelangi Cemerlang Motor

"Pembeli adalah raja", ternyata pepatah ini tidak berlaku pada dealer Suzuki Pelangi Cemerlang Motor Jl MT Haryono 565 A Semarang. "Pembeli adalah orang yang dapat dibingungkan", itulah istilah yang cocok untuk mengganti pribahasa di atas.

Kepada pimpinan dealer saya ucapkan selamat kepada dealer yang dapat membingungkan keluarga saya dalam penggurusan BPKB motor. Orang tua saya beli motor 21 Juni 2003 dan dijanjikan BPKB keluar tiga bulan.

Namun setelah ditunggu serta ditanyakan ke dealer yang Anda pimpin, hanya mendapatkan janji. Terakhir saya tanyakan, karyawannya menjawab: "Berkas Bapak di Samsat hilang, harus mengurus lagi dari awal. Jadi kesalahan bukan pada dealer tetapi keterlambatan pada Samsat".

Kalau disimak jawaban tersebut terkesan adanya lempar kesalahan. Namun sebenarnya jawaban tersebut sangat pintar dalam menghindari perbuatan wanprestasi yang dilakukan. Karena pembelian motor Suzuki Shogun dilakukan dengan dealer, bukan Samsat.

Acmad Cahya S
Genuksari 37 Rt 1/Rw 8 Semarang

***

Penyakit Playstation

Playstation merupakan salah satu hiburan menyenangkan khususnya bagi anak-anak usia SD sampai SLTA. Betapa tidak, bermain playstation ibarat melihat film secara langsung yang bisa membuat anak tertawa ria, hati was-was, bahkan emosi bila sang anak kalah bermain.

Permainan ini memang menarik dan digemari anak. Setiap kampung sudah banyak orang menyewakan dengan berbagai macam bentuk film. Di antaranya film sepakbola, balap motor, robot, perang dan lainnya. Yang disayangkan hanya saja aturan dalam tarif sewa.

Ada yang menyewakan satu jam tarifnya Rp 2.000 atau Rp 2.500 bahkan ada yang lebih. Bagi anak-anak yang sudah rnaniak playstation akan selalu mengejar terus sampai berulang-ulang sehingga lupa belajar. Penyakit playstation yang berlebihan.

Di desa saya ada laporan kelakuan anak berubah, dulunya pendiam sekarang menjadi ugal-ugalan dan menjadi anak nakal. Dia sering menipu orang tuanya, misal minta uang untuk beli buku pelajaran, setelah dicek uangnya untuk main playstation.

Orang tua sering kehilangan uang. Setelah diteliti ternyata diambil anaknya yang juga sering membolos, karena bermain barang tersebut. Permainan ini ternyata sangat berbahaya bagi anak-anak karena belum bisa mengendalikan diri.

Kalau dibiarkan berlarut-larut tanpa ada pengawasan ketat dari orang tua, sangat berbahaya dan bisa jadi kalau dewasa menjadi penjahat. Tolong Bapak Polisi permainan playstation di kampung-kampung segera ditindaklanjuti. Jangan pakewuh sebab bahayanya sangat besar bagi anak.

Nunik Hartrini
Kaloran Lor Rt 1/Rw 6 Giritontro, Wonogiri

***

Tanggapan RRI Semarang

Kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian Sdr Amar Makruf, Purwogondo Kalinyamat Jepara, terhadap siaran RRI Semarang di Surat Pembaca 27 Oktober lalu dengan topik "Banyak Acara RRI Tidak Mengudara."

Selanjutnya kami jelaskan bahwa acara Kumandang Sastra yang dulu diasuh Kak Rusdianto karena ada perubahan pola acara Siaran RRI tahun 1989, diubah menjadi Wacana Sastra disiarkan Minggu pukul 15.00 s.d 15.30. Formatnya berbeda, dulu bersifat puitisasi, sekarang apresiasi dengan titik berat telaah sastra baik puisi, cerpen, maupun novel dan drama.

Mengenai sandiwara Radio Berbahasa Daerah, tetap ada, tetapi waktu penyiarannya berubah. Kalau dulu setiap Kamis malam Jumat, sejak Januari 1999 disiarkan setiap hari Jumat malam Sabtu, pukul 22.00-23.00.

an Ka RRI Cab Madya Semarang
Asisten Manajer Divisi Siaran
Martoyo SH


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA