
| Selasa, 4 November 2003 | Sala |
Putra-putri Penghuni Eks Lokalisasi GP pun MengajiSETIAP Ramadan tiba, seluruh masjid pasti mengalami peningkatan aktivitas ibadah. Seluruh jamaah mulai anak berusia di bawah lima tahun hingga yang berusia lanjut pun selalu berlomba-lomba mengisi waktunya dengan ibadah. Hal itu juga dilakukan seluruh jamaah masjid As Sujud Brontowiryan, Kelurahan Ngabeyan, Kecamatan Kartasura. Setiap hari, terutama menjelang buka puasa tiba hingga subuh, Masjid As-Sujud tak pernah sepi dari aktivitas ibadah. ''Kami menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan yang diikuti seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua,'' kata Edi Purwanto, Ketua Remaja Masjid Assujud. Seusai shalat asar, lebih dari 50 santri yang termasuk dalam Taman Pendidikan Alquran (TPA) Assujud mengikuti kegiatan mengikuti BTAQ (Baca Tulis Alquran) di masjid yang lokasinya tak begitu jauh dari eks lokalisasi Gunung Pare (GP) itu. Tak heran bila beberapa santrinya pun ada juga yang merupakan putra-putri dari penghuni eks lokalisasi tersebut. ''Santri-santriwati TPA kami cukup beragam. Sebagian besar merupakan warga sekitar masjid, tapi ada juga yang berasal cukup jauh dari sini seperti daerah eks lokalisasi GP yang kini ada yang tinggal di desa sebelah,'' kata Edi. Tak hanya anak-anak, ibu-ibu dan bapak setengah baya juga ada yang mengikuti kegiatan BTAQ di masjid itu. Biasanya, mereka mulai menjalankan aktivitasnya bersamaan dengan para remaja masjid yang mengadakan tadarus Alquran seusai shalat tarawih. ''Seperti santri kami, ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti BTAQ itu juga menggunakan metode Iqro'. Selain diajari jamaah seusianya, kami para remaja juga ikut mengajari para orang tua itu,'' ujar Hazin, Sekretaris Remaja Masjid Assujud. Selain mengadakan tadarus Alquran, para remaja masjid tersebut juga memberikan materi ceramah. Seusai menjalankan shalat subuh berjamaah, seluruh remaja masjid mendapatkan kesempatan paling sedikit satu kali. Melatih Da'i Muda ''Kegiatan ini sekaligus untuk melatih remaja masjid menjadi da'i muda, meski hanya sekelas kampung. Kalau tidak dibiasakan mulai sekarang, bagaimana kami bisa melakukannya saat tua nanti. Karena itu, kami memiliki jadwal kultum (kuliah tujuh menit-Red) khusus bagi remaja masjid,'' imbuh Hazin. Berbeda dari hari-hari biasa, jumlah jamaah yang menjalankan shalat di masjid saat Ramadan selalu meluber hingga halaman masjid. Karena terlalu banyak, pengurus masjid pun memisahkan saf (barisan) antara anak-anak dan orang tua untuk menghindari kegaduhan saat menjalankan shalat. ''Maklum saja, anak-anak kan biasanya ramai, karena itu kami menempatkannya di saf paling belakang biar orang tua yang berada di saf depan bisa beribadah dengan khusyuk.'' Menjelang Idul Fitri, remaja masjid ini pun selalu mengoordinasi zakat fitrah maupun zakat mal yang dititipkan warga setempat. ''Kami telah memiliki daftar warga setempat untuk menerima zakat yang kami terima dari warga setempat.'' (Anie R Rosyidah-14n) |