logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Sala  
Line

"Kami Minta Tanggung Jawab"

KEMENAKAN atau ahli waris korban kecelakaan, Purwito (35), mengaku tidak menuntut nominal atau nilai uang dari pengusaha bus Apolo.

"Yang saya tuntut kepada pihak pengusaha adalah bertanggung jawab dan bersedia membayar pengobatan Sulastri yang hingga kini masih berbaring di Rumah Sakit Yarsis Solo. Jadi, (kami) tidak menentukan jumlah biaya pengobatan," ungkapnya.

Berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Purwito yang ikut pertemuan dengan pengusaha.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan Sulastri?

Saya tidak tahu. Yang pasti, pengusaha harus mengeluarkan Sulastri dari RS dan selanjutnya membayar ongkos pen yang dipasang pada bagian bahu. Dia menderita patah tulang bahu dan tulang kaki. Bahkan sampai sekarang pun, Sulastri belum diberi tahu bahwa suaminya meninggal dalam kecelakaan itu.

Apakah Rp 15 juta tidak cukup?

Saya juga tidak tahu. Yang dituntut keluarga dan warga itu bukan nominal uang, melainkan pengusaha bersedia membayar pengobatan RS dan biaya mengeluarkan pen.

Mengapa warga mengadang dan mencegat tiga bus?

Coba bayangkan, sejak terjadi kecelakaan hingga kemarin, pengusaha belum memberi santunan apalagi menjenguk korban di RS. Pencegatan bus merupakan salah satu cara agar pengusaha mau mengerti tuntutan warga.

Apakah Anda sadar, cara itu juga melanggar hukum?

Saya sadar. Namun harap diketahui, warga tidak menyandera. Yang dilakukan hanya pencegatan. Selain itu, tidak ada perusakan atau penganiayaan kepada pengemudi.

Apakah Anda bisa menjamin?

Yang bisa menjamin itu siapa? Yang pasti, setelah diadakan pertemuan kedua, warga bersedia melepas ketiga bus tersebut, kemudian dibawa di Mapolres. Ini membuktikan warga mempunyai iktikad baik.(Suti Harjoyo-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA