
| Selasa, 4 November 2003 | Sala |
Kepala Dinas Ditantang Ajukan ProposalWONOGIRI-Para kepala dinas instansi di Kabupaten Wonogiri ditantang Bupati untuk cepat mengajukan proposal sebagai langkah terobosan guna meminta bantuan ke Pemerintah Provinsi Jateng, pusat, atau ke pihak ketiga. ''Sebab, kalau hanya muthek (bergantung-Red) pada APBD, mustahil walau dalam waktu setengah abad pun rakyat Wonogiri dapat ditingkatkan kesejahteraannya,'' kata Bupati H Begug Poernomosidi SH, kemarin pada upacara penyerahan bantuan delapan traktor tangan kepada delapan kelompok tani dan sebuah mobil untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Wonogiri. Upacara penyerahan bantuan itu, dihadiri Sekda Drs Mulyadi MM, para kepala dinas isntansi, kalangan camat, dan para ketua kelompok tani. Upacara tersebut, kata Bupati, merupakan peristiwa kesekian yang dilakukan di Wonogiri. Upacara seperti itu, mengandung maksud agar setiap gerak langkah kita dapat transparan. ''Langkah-langkah transparansi tersebut, termasuk gerak langkah Bupati yang suka blusak-blusuk melakukan tilik desa, tilik RT dan RW, guna memberikan kepedulian kepada rakyatnya sampai ke pelosok desa, saya kira baru kali ini terjadi,'' katanya. Begug bertekad menyikapi masyarakatnya tanpa harus membeda-bedakan warna partai dan politiknya. ''Semua harus disikapi. Tak peduli kalau saya sebagai Bupati adalah kader PDI-P, dan Pak Dokter Sumarmo itu kader Partai Golkar,'' kata Bupati. Bantuan delapan traktor mesin yang diberikan, kata Kepala Dinas Pertanian Ir Guruh Santosa MM, dibeli dengan dana dari APBD Wonogiri. Kepada kelompok tani penerima bantuan, diwajibkan mengembalikan biaya pembelian Rp 12 juta per unit, dengan cara diangsur, untuk kemudian digulirkan lagi ke para kelompok tani lain yang belum menerima. Kemampuan Terbatas Para kelompok tani yang menerima terdiri atas Ngudi Mulyo, Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Cinde Semampir (Joho, Purwantoro), Sedulur Tani (Boto, Baturetno), Esti Martani (Slogo, Slogohimo), Suka Makmur (Jimbar, Pracimantoro), Sumber Rejeki (Bumiharjo, Giriwoyo), Sumber Mulyo (Kebonagung, Sidoharjo), dan Ngudi Rahayu (Minggarharjo, Eromoko). "Kalau kita hanya muthek pada APBD, jelas itu tidak akan memakmurkan rakyat. Sebab kemampuan APBD sangat terbatas, sementara yang diperlukan untuk menangani rakyat miskin di Wonogiri membutuhkan banyak dana,'' papar Bupati. Karena itu, dia menuturkan, perlu terobosan-terobosan dengan mengajukan proposal guna meminta bantuan ke mana pun yang peduli pada rakyat Wonogiri. ''Berkali-kali saya menyerukan agar para pejabat di Wonogiri membuat proposal, tapi setelah lama saya tunggu-tunggu, tak ada yang memedulikannya. Saya menjadi heran bagaimana harus menyikapinya. Karena itu, sekali lagi saya serukan, hendaknya proposal tersebut jadi dalam waktu tiga hari ini,'' katanya. Menurut dia, jangan ada pejabat atau aparat yang menanggapi apatis terhadap seruan pembuatan proposal. ''Memang betul yang namanya prosposal tersebut sebagai upaya meminta bantuan. Yang belum tentu nanti terkabul atau tidak. Meski demikian, kita jangan pesimistis dulu. Sebab, akan lebih mustahil lagi kalau kita tidak mengajukan proposal permintaan bantuan,'' katanya. Dia mencontohkan, ketika ada bantuan Rp 1 miliar yang dialokasikan dari pemerintah pusat terpaksa hangus, hanya karena daerah tidak mampu mengajukan proposal. ''Ini kan ya sangat ironis namanya. Ketika dana disediakan, tapi malah daerah tak mampu ketika hanya diminta membuat proposalnya,'' tambahnya.(P27-14s) |