logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Sala  
Line

Tiga Bus Apollo Disandera Massa

  • Buntut Tewasnya Sajimin

BOYOLALI- Tiga bus Apollo, Senin kemarin sekitar pukul 05.10 disandera massa di Dukuh Ngangkruk, Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Boyolali.

Pencegatan bus itu buntut dari kecelakaan yang mengakibatkan kematian Sajimin (44), warga Dukuh Ngangkruk, Desa Ngaru-aru.

Pada 24 Oktober lalu, korban membocengkan istrinya, Sulastri (44), dengan motor Yamaha Alfa menuju ke Ngasem, Kabupaten Karanganyar. Sesampai di dekat SPBU Bangak atau sekitar 4 km dari rumahnya, dia tertabrak bus Apollo AD-2835-AA yang dikemudikan Zaenal (40), warga Desa/Kecamatan Teras.

Akibatnya, Sajiman meninggal seketika, sedangkan istrinya hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Yarsis Solo. Kini pengemudi bus Apollo, Zaenal, ditahan di Mapolres. Karena sejak terjadi kecelakaan hingga kemarin tidak ada kepastian pemberian santunan kepada almarhum Sajiman ataupun beaya perawatan untuk Sulastri, warga menjadi kecewa.

Dengan membawa pentungan atau potongan kayu, ratusan penduduk dari berbagai desa di Kecamatan Banyudono, sejak sahur mulai berjaga-jaga di pinggir jalan raya Solo-Boyolali atau sekitar pertigaan jalan menuju ke objek wisata Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono. Bahkan dalam aksi pencegatan itu, ikut pula ibu-ibu dan para kusir dokar.

Begitu melihat bus Apollo datang dari arah Solo, warga memblokade jalan sambil mengacung-acungkan pentungan. Warga menghentikannya dan meminta pengemudi agar menurunkan penumpang. Lima menit kemudian datang lagi bus dari perusahaan yang sama, dan warga juga meminta penumpang diturunkan. Ada tiga bus yang disandra oleh warga.

Ketiga bus yang dicegat dan dihentikan bernomor polisi adalah AD-2862-AA dikemudikan Suyud (40), warga Demak; AD-2925-BA dikemudikan Sutomo (40), warga Ungaran; dan AD-2964-AA disopiri Slamet (49), warga Bulu, Kecamatan Ampel, Boyolali.

Setelah semua penumpang diminta turun, ketiga bus tersebut disandera di jalan kampung, persis di depan rumah korban kecelakaan, Sajiman. Ketiga pengemudinya diminta menunggu hasil negosiasi antara warga dan pengurus PO Apollo serta polisi.

Pengemudi, Slamet, menuturkan, saat massa mengadang dan mencegat bus, ketiga pengemudi diperlakukan dengan baik dan tidak ada penganiayaan. Meski sebagian warga membawa pentungan, mereka tidak melakukan kekerasan. "Saat itu saya minta yang disandera satu bus saja. Jika tiga bus, akan mengurangi pendapatan," ucapnya.

Namun, warga bersikeras menyandera ketiga bus, dengan alasan pihak pengusaha belum memberikan santunan kepada korban kecelakaan. Slamet mengungkapkan, dalam sehari satu bus jurusan Solo-Semarang rata-rata menyelesaikan dua tangkep atau empat rit. Untuk satu tangkep pemasukan mencapai Rp 1 juta. Adapun ketiga bus yang disandera warga itu belum menyelesaikan satu rit pun.

Pada saat bus disandera warga, keluarga korban kecelakaan yang diwakili Purwito didampingi Kepala Desa Ngaru-aru Triatmono bernegosiasi dengan pengurus PO Apollo, Yongki, yang disaksikan Kasatlantas Iptu Purnomo Subagio.

Dalam pertemuan di ruang kerja Kasatlantas itu, pengusaha bus menyanggupi memberi santunan Rp 15 juta. Pihak keluarga tak bisa menerima, dengan alasan belum mencukupi.

Selanjutnya, diadakan pertemuan lagi antara warga, keluarga korban, dan Kasatlantas yang didampingi Kapolsek Banyudono Iptu Kambali di sebuah warung Dukuh Ngangkruk. Dalam pertemuan kali kedua ini ada kemajuan, ketiga bus sekitar pukul 12.00 dibawa di Mapolres untuk menghindari hal-hal yang tidak diingingkan. Adapun negosiasi dengan pengusaha dilanjutkan lagi pada Selasa ini.

Kasatlantas mengungkapkan, dalam pertemuan yang pertama, pengusaha akan menuntut warga karena merasa dirugikan akibat penyanderaan bus sehingga tidak bisa mengangkut penumpang. Jika itu terjadi, masalahnya akan panjang. "Karena itu, saya mengharapkan agar tidak memperpanjang masalah," tandasnya.(shj-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA