logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Berita Utama  
Line

Tanah Longsor Meluas

  • Penduduk Enggan Mengungsi

KEBUMEN - Bencana tanah longsor di daerah pegunungan Gombong selatan Kebumen terus meluas dengan lokasi terpencar. Sedikitnya 119 rumah, satu sekolah, dan jalan di Kecamatan Ayah kini rusak terkena longsoran.

Namun, penduduk yang tinggal di sela-sela perbukitan dan tanah miring di Kecamatan Ayah itu enggan pindah. Mereka yang rumahnya rata dengan tanah atau rusak berat, saat ini hanya mengungsi atau menumpang di rumah saudara terdekat.

Seorang warga kemarin mengatakan, tanah longsor terjadi akibat hujan lebat empat jam, mulai pukul 15.00-19.00 pada Jumat lalu. Warga di Desa Kalibangkang, Watukelir, Srati, dan Jintung waswas setelah hujan lebat mengguyur daerah dataran tinggi itu.

Pada pukul 19.00-20.00 ternyata benar-benar terjadi tanah longsor di beberapa lokasi terpencar. Camat Ayah Sugiono Pw SSos mengatakan, di Desa Kalibangkang 66 rumah rusak dengan kerugian Rp 69 juta, di Desa Watukelir 37 rumah rusak dan ada yang rata dengan tanah. Kerugian Rp 150 juta.

Di Desa Srati sebelas rumah rusak terkena longsoran dan di Desa Jintung 5 rumah rusak dan kerugian belasan juta rupiah. Desa-desa itu berbatasan dengan wilayah Kecamatan Buayan, seperti Desa Pakuran, Gebluk, Wanadadi di deretan pegunungan Gombong selatan.

Rawan Bergerak

Wakil Bupati KH M Nashiruddin AM didampingi Sekda H Suroso SH dan pejabat lain kemarin meninjau lokasi bencana tanah longsor di Desa Kalibangkang dan Watukelir. Wakil Bupati menyerahkan bantuan uang kepada warga yang rumahnya rusak berat.

Di Desa Watukelir yang termasuk terparah, lokasi longsoran terpisah di beberapa tempat. Selain menimpa 37 rumah, lantai dan dinding bangunan MI Sultan Agung yang memiliki 100 siswa kini retak-retak.

Wakil Bupati meminta, jika ada lokasi yang aman, sebaiknya para murid MI tersebut dipindah untuk sementara. Namun, karena tidak ada tempat, dia mengimbau agar para guru dan pamong desa selalu waspada.

''Pokoknya, bila hujan lebat lebih dua jam, warga harus waspada karena kemungkinan terjadi longsoran susulan,'' pintanya.

Wakil Bupati mengatakan, saat ini Pemkab sudah menginstruksikan agar setiap kecamatan menghidupkan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB). Bahkan, berbagai pihak seperti PMI, KSR, dan RAPI diminta siaga penuh dengan memberlakukan piket 24 jam.

Wakil Bupati menyebutkan, dari 26 kecamatan di Kebumen memang terdapat beberapa wilayah dataran tinggi yang rawan longsor. Yakni, meliputi Kecamatan Ayah, Rowokele, Buayan, Sempor, Karanggayam, Karangsambung, Sadang, Alian, dan Padureso.

Adapun daerah rawan banjir terdapat di wilayah Kebumen selatan, seperti Kecamatan Puring, Adimulyo, Kuwarasan, Mirit, dan sebagian Kecamatan Ayah.

Kabid Fisik Prasarana Bappeda Ir Djoenedi Faturahman MSi di Desa Watukelir menjelaskan, dari penelitian Geololgi Tata Lingkungan Bandung direkomendasikan beberapa desa di Kecamatan Ayah rentan tanah bergerak.

Yang termasuk rentan tingkat tinggi misalnya Desa Srati dan Jintung, yang tingkat sedang yaitu Desa Watukelir dan Kalibangkang. ''Tanah longsor kali ini terjadi di daerah sedang,'' jelas Djoenaidi.

Dia menyatakan, di Kebumen kini terdapat 25.000 hektare tanah kritis. Sebanyak 41% di antaranya berada di lahan Perhutani dan dataran tinggi, seperti di Kecamatan Ayah. Pada umumnya lahan Perhutani itu sebagian besar gundul akibat penjarahan.

Mengenai banjir, Djoenedi menambahkan, saat ini pihak pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Serayu Bogowonto (PIPWSSB) di Sempor telah mengalokasikan dana Rp 60 miliar guna mengatasi problem banjir di pantai selatan. Namun, pekerjaan fisik proyek belum sepenuhnya selesai.

Dari wilayah longsor di Kecamatan Ayah, Wakil Bupati kemarin meninjau ke Kecamatan Buayan dan melihat banjir di Kecamatan Kuwarasan, Puring, dan Petanahan. Sebagian lahan sawah di tiga kecamatan itu masih tergenang.

Camat Puring Sumarno SSos menjelaskan, banjir saat ini menimpa sawah dan pekarangan di Desa Sidobunder, Madurejo, dan Sidodadi. Namun, tidak ada korban jiwa dan untuk sementara belum dibuka dapur umum.

Sebagian desa itu tergenang lantaran air Bengawan Suwuk meluap. Luapan air dari beberapa anak sungai di dekat Pantai Karangbolong itu kembali ke utara, sehingga beberapa desa tersebut menjadi langganan banjir.

Sementara itu, bantuan kepada warga yang tertimpa bencana tanah longsor kemarin mulai datang. PMI Cabang Kebumen membantu satu ton beras dan sejumlah mi untuk 119 warga di Kecamatan Ayah.

Pemkab Kebumen juga mulai menyalurkan 15 ton beras dari stok 25 ton dan uang tunai kepada warga korban bencana masing-masing Rp 250.000. Secara simbolis Wakil Bupati menyerahkan bantuan uang kepada Sumarto, warga Desa Watukelir, dan Kades Samijo. (B3-78e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA