
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
Berpuasa di Negeri Jiran
Sahur hingga Pukul 05.38 Pagi
BAGI kita yang hidup di Jawa Tengah, sahur pada pukul 05.38 pagi merupakan hal yang aneh. Tapi, itulah yang benar-benar terjadi di Malaysia. Saya sendiri kaget, ketika baru pertama kali berkunjung ke negeri tersebut di awal Ramadan ini. Saya tiba pada sore hari, 29 Oktober, dalam rangka peliputan peralihan jabatan perdana menteri yang tanpa gejolak, dari Dr Mahathir Mohamad kepada Abdullah Ahmad Badawi, 31 Oktober. Meski sebagai musafir, yang mendapatkan kemurahan untuk membatalkan puasa, saya berniat untuk tetap menunaikan ibadah puasa selama empat hari di negeri seberang tersebut. Dan alhamdulillah, Allah memberi kakuatan, meskipun pada hari kedua di Malaysia, saya terpaksa tidak sahur. Hal itu lantaran ketidakmengertian saya mengenai jadwal puasa di negeri ini. Tanggal 30 Oktober, pada pukul 05.00 pagi, saya bangun. Saya anggap waktu imsak telah lewat, sehingga saya putuskan untuk berpuasa meski tanpa sahur, karena kebiasaan berpuasa di Semarang, kita harus sudah menghentikan makan dan minum pada pukul 03.39 WIB. Namun apa yang terjadi, 36 menit kemudian, saya baru mendengar azan subuh. Kelihatannya enak kaum muslim di negeri jiran tersebut, mereka masih boleh makan sahur hingga pukul 05.38. Tapi jangan keburu ke Malaysia dulu untuk memperoleh keringanan puasa, kalau tak tahu hal sebenarnya. Sebab, bagi mereka, waktu untuk berbuka puasa juga mundur. Kalau di Semarang, pukul 17.39 kita sudah basa melepas dahaga, namun bagi warga Kuala Lumpur dan sekitarnya harus menunggu hingga pukul 18.58. Informasi jadwal salat dan imsak yang saya peroleh lewat koran lokal, Berita Harian, menyebutkan, subuh jatuh pada pukul 05.38, zuhur pukul 13.01, asar pukul 16.17, magrib pukul 18.58, dan isya pukul 20.09. Mengapa perbedaan itu bisa terjadi? Ini hanya karena perbedaan kebijakan dalam soal waktu oleh masing-masing negara, Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, kita mengenal tiga waktu, yakni waktu Indonesia bagian timur (WIT), waktu Indonesia bagian tengah (Wita), dan waktu Indonesia bagian barat (WIB), yang antara wilayah satu dengan wilayah berikutnya terpaut satu jam. Sedangkan di Malaysia, kini hanya dikenal satu waktu, yakti waktu Malaysia. Dulu memang ada dua macam waktu di sana, yakni waktu di Sabah - Serawak dan waktu di Semenanjung Malayu. Di antaranya keduanya, terpaut 30 menit. Namun, pada awal Mahathir memimpin negeri itu, dalam rangka mengubah sikap dan budaya orang Malaysia agar lebih maju, ia melakukan beberapa kebijakan, antara lain, perubahan dalam soal waktu, yakni memajukan waktu 30 menit di Semenanjung Melayu, di samakan dengan waktu di Sabah dan Serawak. Kini, dibandingkan dengan WIB, waktu di Malaysia adalah satu jam labih awal. Kalau di Indonesia bagian barat pukul 06.00, misalnya, maka di Malaysia sudah menunjukkan pukul 07.00. Pasar Ramadan Saya merasa tidak ada kesulitan dalam menunaikan ibadah puasa di negeri rantau ini. Dalam mendapatkan konsumsi untuk berbuka maupun sahur di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim ini tidak ada masalah. Tak jauh dari hotel tempat saya menginap, yakni Hotel Putra, di Jalan Putra, Kuala Lumpur, banyak warung-warung makan yang menjual nasi dan masakan yang tidak jauh bedanya dengan di Indonesia. Apalagi ada tradisi di Malaysia, setiap bulan Ramadan tiba, ratusan pasar tiban, yang di sana disebut dengan ''Pasar Ramadan'', muncul di berbagai wilayah. Di tempat dan ruang-ruang terbuka, banyak orang mengembil kesempatan untuk membuka usaha musiman dan sambilan dengan menjual masakan bagi keperluan berbuka puasa. Pasar Ramadan itu, misalnya dapat kita jumpai di Melawati, Shah Alam, Kerinchi, Jalan Telawi, Bangsar dan Kampung Baru. Dan yang menarik, bukan hanya muslim yang saja yang membeli, tetapi mereka yang non-muslim juga tertarik untuk merasakan masakan khas berpuka puasa itu. Para pedagang menawarkan berbagai macam lauk, sayur, martabak, hingga berbagai macam kue. Mazlina Dahlan (38 tahun) yang dibantu temannya Anis Isa, misalnya, adalah salah satu yang membuka usaha musiman ini. Ia mengaku baru pertama kali ikut mremo, guna mendapatkan penghasilan sampingan. ''Ini adalah kali pertama kami berjualan, dan sambutan pembeli pada hari pertama sangat luar biasa,'' katanya. Baginya, Ramadan adalah waktu yang sesuai untuk mencari rizki yang halal dengan cara berjualan. Salah satu hal yang menarik dari suasana Ramadan di Kuala Lumpur adalah pemandangan yang unik di Masjid Jamek, di Kampung Baru. Setiap sore, menjelang waktu berbuka puasa, kita dapat melihat banyak orang antre memanjang untuk mendapatkan bubur lambuk. Oleh takmir masjid, bubur itu sudah disiapkan dalam kantong-kantong plastik, untuk dibagikan secara gratis kepada warga yang menginginkan. Meski Malaysia terdiri dari berbagai macam suku, dan agama, namun kerukunan tetap berjalan baik. Bagi yang bergama Islam, silakan menjalankan ibadah puasa, dan bagi yang non-muslim, mereka bebas melakukan aktivitasnya masing-masing. Meski di bulan puasa, di berbagai tempat saya menjumpai rumah-rumah makan dan restoran yang dikelola warga non-muslim membuka dagangannya di siang hari dengan tanpa malu-malu. Malaysia yang berpenduduk 22 juta jiwa itu, 60 persen di antaranya beretnik Melayu, 30 persen etnik Cina, dan 10 persen India, dengan latar belakang agama yang berbeda-beda: Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Tao, dan kepercayaan. (Muhammad Ali) | |||||