logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Berita Utama  
Line

Azahari Diduga Masih di Jateng-Jabar

  • Bersama Noordin Bawa Bom Siap Ledak
FOTO: Kabagreskrim Mabes Polri, Komjen Pol Erwin Mappaseng memperlihatkan foto terbaru Noordin Moch Top, salah satu tersangka pelaku utama bom Hotel JW Marriott, yang masih buron.(55i)

JAKARTA-Tersangka bom Marriott dan bom Bali Dr Azahari bin Husin dan Noordin Moch Top diduga belum melarikan diri ke luar negeri. Keduanya diduga masih bersembunyi di Jateng atau Jabar.

Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Erwin Mappaseng mengatakan hal itu dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/11).

Adapun Kapolri Jenderal Pol Drs Da'i Bachtiar seusai rakor polkam di Kantor Menko Polkam mengatakan, jajarannya optimistis dalam waktu dekat bisa menangkap dua tersangka itu. ''Penangkapan Azahari tinggal tunggu waktu.''

Erwin lebih lanjut mengatakan, Mabes Polri berharap masyarakat melapor bila melihat tersangka itu di sekitar lingkungannya. Hari ini, polisi menyebarluaskan foto terbaru Noordin.

Foto itu diperkirakan dibuat dua minggu sebelum penangkapan Ismail dan Tohir, 29 Oktober 2003. Klise foto Noordin ditemukan di tempat kos Jalan Kebon Kembang, Tamansari, Bandung.

Menurut Tohir dan Ismail, foto itu untuk keperluan pembuatan KTP Noordin di Bandung. "KTP atas nama siapa dan di mana tempatnya itu belum diketahui, karena baru rencana," kata Mappaseng.

Ciri Baru

Selain menyebarluaskan foto, polisi memberikan ciri-ciri terbaru yang lebih terperinci tentang kedua tersangka itu. Noordin disebutkan memiliki ciri-ciri, umur 33 tahun, tinggi 175 cm, berperawakan sedang, rambut sebahu, dan berkulit putih bersih.

Ciri lain yang sulit disembunyikan adalah dialog Melayunya yang kental. Selain itu, bawaannya mudah curiga dan selalu waspada. Tersangka itu juga biasa membawa tas cangklong (sandang).

"Biasanya dia menyamar di wilayah kampus dan mengaku sebagai mahasiswa S2 yang berbisnis pembuatan skripsi."

Adapun Azahari, polisi memperkirakan mempunyai empat penampilan baru. Doktor itu berumur 45 tahun dengan tinggi 173 cm dan berkacamata sangat tebal dengan bola mata menonjol keluar.

"Kacamatanya sangat tebal. Jadi, kalau tak pakai kacamata akan sulit melihat. Azahari pasti takkan pernah melepaskan kacamatanya."

Perawakan Azahari sedang dengan kulit agak gelap serta rambut sepunggung. Dialeknya sama dengan Noordin, Melayu. Dengan dialek yang sulit diubah ini, Azahari biasanya mengaku orang Medan atau wilayah lain yang berdialek Melayu.

"Walaupun jarang bicara karena untuk menutupi dialek Melayunya, sikapnya ramah."

Ciri lainnya, penampilan tersangka ini necis dengan kebiasaan mengenakan topi haji, baju koko, dan membawa tas cangklong. "Tapi untuk menyamarkan diri, dengan kulit gelap dia bisa saja menyamar jadi pemulung."

Tersangka ini juga memiliki kebiasaan lari pagi untuk menjaga kesehatan dan pergi ke warnet.

Erwin juga mengingatkan, kedua tersangka masih membawa bom dalam keadaan siap ledak. Menurut Ismail, bom tersebut daya ledaknya 2-3 kali dari bom miliknya. "Bila ketemu jangan panik. Tapi segera hubungi polisi terdekat."

Pintar Membujuk

Mengenai Azahari, Erwin mengatakan, tersangka itu tahan banting dan pintar membujuk.

''Ismail, salah seorang tersangka bom Marriott, mengaku terlibat 'proyek' itu atas bujukan Azahari.''

Saat ini Ismail dan Tohir beserta barang bukti yang ditemukan di Cirebon dan kos-kosan di Bandung, sudah berada di Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Dia menjelaskan, biasanya Azahari mendekati calon kadernya dari segi keyakinannya. Ismail mengaku sudah direkrut Azahari 6 bulan sebelum bom Marriott yang meledak 5 Agustus 2003. Dia bertemu Azahari di Bengkulu.

"Perekrutan bukan waktu yang singkat, bukan 1-2 hari. Prosesnya panjang."

Karena butuh waktu itulah, Azahari hingga kini belum punya kader baru. Namun Azahari pun siap melakukan operasi selanjutnya. "Azahari pun mengatakan sudah bersedia untuk melakukan peledakan."

Peledakan yang direncanakan saat ini adalah di Bandung dan Jakarta. Karena itu, Erwin meminta jajaran Polda Metro Jaya, Polda Jabar, Polda Jateng, dan polda-polda di Sumatera untuk waspada, menyusul kaburnya Azahari yang membekali diri dengan bom siap ledak.

Selama sembunyi di Bandung, Azahari dkk merencanakan untuk mengebom Citibank di Jalan Asia Afrika. Juga ada tiga target lainnya, namun Erwin tak memerincinya. Hanya tiga target itu merupakan aset-aset asing.

Lantas apakah mereka yang mau dibujuk itu mendapat banyak uang? Ternyata tidak. Ismail dan Tohir yang terlibat ''proyek besar'', mengebom Hotel JW Marriott Jakarta, mengaku hanya mendapat Rp 1 juta untuk biaya kabur dari Noordin.

Terkait dengan penangkapan kedua tersangka itu, polisi memboyong 43 item barang bukti dari rumah kos-kosan Azahari, Noordin, Tohir, dan Ismail di Kebon Kembang, Tamansari, Bandung.

Di tempat itu juga ditemukan puluhan sidik jari laten. Di kamar kos Azahari-Noordin, misalnya, ditemukan 21 sidik jari laten. Adapun di kamar kos Tohir dan Ismail ditemukan 15 sidik jari laten, dan di barang elektronik ada 10 sidik jari laten.

Uang

Dari pengakuan Tohir dan Ismail, jalur penyaluran dana belum terungkap. "Dari Hambali baru diketahui melalui WN Malaysia bernama Lili yang diserahkan kepada salah seorang kurir WNI di Malaysia bernama Johan," kata Erwin, yang tak bisa memastikan dana 45.000 dolar AS yang dikirim Hambali apakah digunakan seluruhnya untuk pengeboman Marriott, 5 Agustus 2003. Hambali pun dibekuk 11 Agustus.

"Selain pengiriman dari Hambali, ada juga yang didapat dari fai (perampokan) Rp 5,5 juta, yaitu hasil merampok money changer di Medan dan Dumai," kata Erwin. Dari dana itulah Ismail dan Tohir mengaku hanya diberi Rp 1 juta oleh Noordin untuk kabur.

Sementara Ismail-Tohir mengaku tidak tahu berapa kekuatan bom yang dibawa Azahari dan Noordin, karena bom itu dirakit sendiri-sendiri.

"Bom Tohir dan Ismail dirakit oleh Ismail, bom Noordin dan Azahari dirakit Azahari. Diperkirakan kekuatan bom yang dibawa Azahari 2-3 kali lebih besar dibandingkan dengan yang dirakit Ismail," tutur Erwin. (F4,dtc-13t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA