
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
AS Berkabung tapi Bertekad Raih KemenanganWASHINGTON - Amerika Serikat, yang kehilangan warganya terbanyak, Minggu lalu, sejak jatuhnya Saddam Hussein April lalu, berkabung. Namun negara adidaya itu berjanji tidak mundur dari ajang tempur menghadapi terorisme kecuali keluar sebagai pemenang. Para pejabat AS mengatakan, ditembak-jatuhnya helikopter AS yang menewaskan awak dan penumpangnya yang berjumlah 15 serta pada hari yang sama meninggal juga dua orang kontraktor AS, tidak akan membuat AS urung dari niatnya untuk memenangkan perang melawan terorisme. AS juga mengakui banyaknya kendala untuk menciptakan Irak yang stabil apabila Saddam masih bebas. ''Kelompok teroris berkeinginan membunuh anggota pasukan koalisi dan warga sipil Irak yang tak berdosa karena mereka menginginkan kami pergi, tetapi tekad dan semangat kami tak dapat mereka patahkan,'' kata juru bicara Gedung Putih, Trent Duffy. Duffy mengatakan Presiden George W Bush yang tengah berakhir pekan di peternakannya di Texas telah diberitahu soal ditembak jatuhnya helikopter AS, namun tidak memberikan pernyataan untuk umum. Lima belas orang tentara AS tewas dan 21 lainnya terluka pada saat helikopter militer AS ditembak jatuh dekat Fallujah saat sedang dalam perjalanan menuju bandara Bagdad, kata seorang perwira tinggi AS. Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld, mengatakan helikopter jenis CH-47 Chinook kemungkinan jatuh terkena tembakan peluru kendali . Tutupi Dampak Kejadian itu merupakan serangan terhebat yang dialami pihak AS di Irak sejak jatuhnya pemerintahan partai Baath yang kini diduduki militer AS.
Seorang anggota tentara AS juga tewas terbunuh pada ledakan bom terpisah di Bagdad dan dua orang kontraktor AS yang bekerja untuk pihak militer AS juga tewas terkena bom dijalan raya di Fallujah, daerah yang paling tinggi penolakannya terhadap kehadiran militer AS. Kejadian ditembak jatuhnya helikopter telah membawa jumlah korban jiwa dipihak AS menjadi 138 sejak Presiden Bush menyatakan perang utama telah usai pada tanggal 1 Mei. Pihak AS berusaha menutupi dampak jatuhnya helikopter AS tersebut. Tindakan itu merupakan aksi perlawanan yang didasari rasa antipasukan koalisi yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk ledakan bom 27 Oktober terhadap kantor pusat Badan Palang Merah Internasional yang menewaskan 43 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. ''Dalam masa perang yang panjang kita akan menemui hari-hari tragis seperti yang terjadi Minggu lalu. Hal itu adalah bagian perang, memang sulit dan rumit,'' kata Rumsfeld kepada stasiun televisi ABC. ''Kami dapat memenangkan perang ini, kami akan memenangkannya,'' lanjutnya. Belum Punya Bukti Rumsfeld mengatakan pihaknya sejauh ini belum mempunyai bukti yang mengatakan adanya keterlibatan Saddam Hussein dalam serangan Minggu lalu, namun menyiratkan kemungkinan gerilya asing datang masuk menyusup ke Irak. ''Kami belum mempunyai bukti kuat bahwa Saddam yang mengatur semua ini,'' kata Rumsfeld. Dia menambahkan aksi perlawanan tak akan jauh berbeda seandainya Saddam tertangkap. ''Pada perkiraan saya, Saddam Hussein memegang peranan atau setidaknya dalam artian hal itu disebabkan karena rasa takut rakyat Irak akan sosok Saddam, rasa takut dan cemas dia akan kembali,'' kata Senator Pat Roberstson, ketua komisi urusan rahasia negara di Senat. Seorang Senator Demokrat, John Rockefeller, dari West Virgina setuju bahwa menangkap Saddam adalah prioritas utama misi pasukan koalisi di Irak. ''Kami harus menangkapnya (Saddam),'' kata Rockefeller kepada CNN. ''Sekarang, pada saat seperti ini, hal itu menjadi sangat penting dalam menangani masalah Irak.'' Dalam rangka mengupayakan mengurangi ketegangan di pihak pasukan AS, Rumsfeld mengatakan sebanyak 500 ribu tentara Irak yang kini non-aktif diupayakan untuk dipekerjakan lagi dengan catatan sebagaian dari mereka yang merupakan pasukan yang setia kepada Saddam tidak akan disertakan. Peristiwa jatuhnya helikopter juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan dan penjagaan depot tempat penyimpanan senjata milik pemerintahan Saddam yang tidak menerima penjagaan yang sebagaimana mestinya. ''Kami telah mempelajarinya dari udara jauh sebelum penyerangan,'' kata Rumsfeld. Ratusan peluru kendali yang sebagian besar buatan Rusia SA-7 diperkirakan tersebar di negera itu. Pihak koalisi telah menjanjikan hadiah sebesar 500 dolar bagi setiap penemuan satu peluru kendali. Sebanyak 350 orang telah memanfaatkan tawaran tersebut namun banyak pula yang menjual peluru kendali di pasar gelap dan kegiatan tersebut meningkat mencapai 10 kali lipat . ''Isu-isu menyebutkan bahwa sebanyak 600 ribu ton amunisi masih tersebar di negara itu dan tak ada satu pun berada dalam pengawasan yang berwajib,'' kata Senator Joe Biden dari Partai Demokrat.(ant-46) |