logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Berita Utama  
Line

Perlu Dijadikan Isu Nasional

Oleh Hadi Supeno

DIENG! Ah, siapakah yang tak mengenal daerah ini? Ia merupakan dataran tinggi -mungkin tertinggi di Jawa Tengah- dengan ekosistem alam yang tidak tertandingi. Di sana terdapat panorama yang bervariasi dalam satu hari, udara dingin, aneka produk pertanian, sumber gas alam, serakan benda cagar budaya, tradisi masyarakat sekitar, dan aneka objek wisata lain yang mengagumkan.

Tak pelak jika banyak orang mengartikan Dieng sebagai edi (indah) dan aeng (langka). Sekitar 15 tahun lalu, kita masih bisa menyaksikan Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang airnya beraneka warna, ditingahi polah kawanan burung belibis yang berarak di tengah telaga.

Lingkungan hijau menyediakan burung jalak khas Dieng, bunga tulip yang tumbuh subur, dan berbagai daya tarik lainnya yang sanggup mengundang ribuan turis mancanegara.

Tetapi kenangan itu kini musnah. Sejak 10 tahun lalu, Dieng mulai kehilangan pamornya. Hutan-hutan digunduli, termasuk hutan lindung. Tanah-tanah sekitar situs berganti kepemilikan dan fungsinya sebagai penyangga benda-benda purbakala.

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah tanaman kentang. Telaga-telaga telah mengering, seperti Telaga Balekambang, Telaga Merdada, dan Telaga Sewiwi yang bahkan lenyap sama sekali. Telaga Warna dan Pengilon pun bisa lenyap jika tidak dilakukan upaya nyata dan segera.

Selang-selang air yang berjumlah ratusan melintangi jalanan, menyedot air-air telaga. Sementara sebuah ''keajaiban baru'' muncul, yaitu kemunculan banjir di dataran tinggi; sesuatu yang dulu hanya sebuah kiasan belaka.

Harus Diselamatkan

Melihat semua itu, saya menangis, ngungun dan getun. Mengapa Dieng jadi merena begini? Dua tahun lalu, saya mengajak semua pihak terkait seperti Perhutani, Lingkungan Hidup, Camat Batur, Bappeda, Dinas Pariwisata dan teman-teman pers untuk berdiskusi di Paviliun Soeharto-Whitlem.

Kami bicara dari hati ke hati, mendeskripsikan apa yang sesungguhnya terjadi di Dieng. Kesimpulannya: Dieng harus diselamatkan. Kami kontak dengan Pemkab Wonosobo, karena kawasan ini memang berada di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

Kita kemudian sepakat agar Dieng dijadikan isu nasional. Teman-teman pers juga mendukung. Berbagai macam isu lantas menjadi topik pemberitaan. Kami kirimkan persoalan ini kepada berbagai pihak, mulai dari presiden, menteri terkait, DPR hingga gubernur.

Kemudian sebuah momentum historis pun lahir. Sebuah MoU antara Pemkab Wonosobo dan Banjarnegara ditandatangani, dengan saksi Gubernur Jateng H Mardiyanto. Secara resmi pula pada hari itu, 31 Oktober 2002, dilakukan reboisasi secara simbolis di kawasan Kawah Sikadang yang sebelumnya sudah jadi kebun kentang.

Saya menganggap historis, karena sebelumnya kedua pemkab saling berebut rezeki bagi hasil dari Dieng. Bahkan pada tahun 1990-an, bupati dari kedua daerah ini pernah tidak saling bertegur sapa dalam sebuah pertemuan. Ironisnya, dalam hal rezeki berebut, tetapi dalam perawatan saling melupakan.

Setelah itu, berbagai agenda kita lakukan untuk mengembalikan kejayaan Dieng. LSM Kembang Emas bekerja keras dalam melakukan sosialisasi serta pemberdayaan masyarakat sekitar. Perhutani Banyumas getol melakukan penghijauan di bawah komando Asper Karangkobar, Djoko Purnomo. Diparta Banjarnegara berhasil meraih bantuan dari Depdagri untuk penataan kawasan candi-candi utama.

Kami juga menggandeng Pusat Studi Pariwisata UGM untuk diskusi dan minta advis solutifnya. Kami melakukan anjangsana ke Menko Kesra, Menneg Lingkungan Hidup, Menparbud, dan Menhut, untuk menjelaskan betapa penting penyelamatan Dieng.

Karena itu, meski kami sudah melakukan banyak aktivitas, hasilnya belum terasa betul. Melalui forum ini pula, saya ingin sampaikan bahwa Pemprov Jateng sudah saatnya berkonsentrasi menyelamatkan Dieng.

Borobudur sudah jalan, lalu wisata Merapi di Ketep sedang booming. Maka, sekaranglah giliran Dieng. Saya sudah dua kali secara khusus menyampaikan hal ini kepada Gubernur, untuk menjadikan upaya penyelamatan Dieng sebagai salah satu ikon pariwisata di Jateng.

Keterbatasan dana adalah salah satu alasan, mengapa penanganan Dieng berkesan lamban. Soal pertanian,misalnya, selama ini kami melarang petani untuk menanam kentang. Tetapi kami belum mampu menunjukkan secara pasti mengenai tanaman pengganti yang senilai.

Untuk itu, campur tangan Pemprov menjadi sebuah imperatif. Menyelamatkan Dieng harus dilakukan segera. Sebab apa yang terjadi di Dieng, yang mengalirkan mata air Bima Lukar dan menjadikan Sungai Serayu, juga akan berdampak pada saudara-saudara kita yang tinggal di Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Dieng milik kita bersama! Dieng adalah ikon yang harus diselamatkan. Daripada anggaran APBD Provinsi digunakan buat pelesir anggota Dewan keluar negeri, ya mendingan digunakan untuk membeli bibit pohon penghijauan, atau membuat rumah-rumah home stay untuk para tamu yang berkunjung ke Dieng.

Atau, bisa juga untuk wajah Dieng secara komprehensif, atau membangun kembali puluhan Puskesmas yang nyaris ambruk. Maka, ayo semua pihak bahu-membahu dalam menyelamatkan Dieng. (48)

-Drs Hadi Supeno, MSi, Wakil Bupati Banjarnegara.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA