
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
Wisata Gunung Jadi ModelBali merupakan contoh yang bisa ditiru dalam pengembangan objek wisata Dieng. Sebagai gambaran, objek wisata di Bali sekarang lebih memanfaatkan keindahan alam pegunungan. Dulu, orang awam -khususnya wisatawan domestik- menelusuri bagian selatan Bali, sebatas Gilimanuk, Negara, Tabanan, Denpasar, dan sampai ujung timur di Karangangsem. Bagaimana bagian tengah? Nah inilah yang perlu ditiru Dieng. Di bagian tengah Bali, khususnya lereng selatan bukit barisan yang membelah Pulau Dewata, kini sudah mulai nyambung dengan fasilitas jalan mulus dengan merehabilitasi jalan peninggalan Belanda. Jika menyusur dari Kintamani, tak perlu lagi kembali ke Denpasar. Tetapi dapat langsung ke Bedugul, Jatiluwih, sampai Desa Wongaya Gede -tempat salah satu pura besar (Pura Batukaru) yang menjadi objek wisata pula. Di sepanjang jalan di kaki bukit dan desa berhawa sejuk, sudah banyak ditemukan bungalo, restoran dan kafe. Hotel-hotel berbintang pun mulai bertaburan di atas tebing. Berbanding Terbalik Tapi ketika melihat Dieng, rasanya berbanding terbalik dengan keadaan di Bali. Pada tahun 1980-an, wisatawan asing yang datang setiap tahun rata-rata 80.000 orang. Namun tiga tahun terakhir ini, jumlahnya melorot tajam. Sepanjang tahun 2001 hanya 15.000 turis asing dan 75.000 turis domestik yang berkunjung. Tahun 2002 makin payah, tinggal 10.000 turis asing dan 70.000 domestik. Menurut Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, kemerosotan arus wisatawan itu selaras dengan penurunan daya tarik lokasi di Dieng. Menyadari Dieng merupakan objek wisata harapan Banjarnegara dan Wonosobo, mau tak mau kedua pemkab harus bisa menyelamatkan berbagai potensi yang ada. Perlu diketahui, Dieng menyimpan peninggalan peradaban nenek moyang yang hidup sekitar tahun 809. Di sana terdapat kumpulan candi hindu seperti Candi Arjuna, Semara, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Catutkaca, Bima dan Dwarawati. Ada juga tuk Bima Lukar, Watu Kelir, dan sejumlah peninggalan sejarah lainnya. Selain itu, Dieng memiliki sejumlah objek wisata alam yang menawan. Misalnya Kawah Sileri, Sikidang, Candradimuka, Telaga Balekambang, Merdada, Dringo, Telaga Warna, Telaga Pengilon, sumber air panas Bitingan, Curug Siware, serta panorama alam yang indah dan sejuk. Hanya saja, seperti terjadi saat ini, kondisinya sudah tidak asli lagi. Selain kurang mendapat dukungan pemeliharaan dari warga, pengelolaannya tidak ramah. Untuk menggairahkan wisata di sana, banyak hal yang dapat dilakukan. Misalnya, melakukan pemeliharaan tata ruang objek wisata, peningkatan kualitas objek dan pelaku wisata, pemberdayaan dan perbaikan manajemen pengelolanya, dan yang tak kalah penting mempergencarkan kegiatan promosi. Berkaca pada kasus di Bali, mungkin bisa dibangun jalan lintas dengan menggali kemungkinan situs-situs purbakala sebagai pusat wisata relegius. Kita melihat bagaimana Candi Prambanan bisa menyedot wisatawan asing maupun domestik karena memiliki kharisma unsur religi itu. Merangkul pihak luar, misalnya Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), baik pusat maupun Jateng, perlu dilakukan untuk mendukung program Dieng sebagai sarana wisata religi. Membuka Jalur Banyak hal yang masih bisa dilakukan. Untuk menghidupkan suasana di sana, kita perlu mengembalikan kondisi lingkungan alam yang sudah rusak. Bisa juga dengan membuka jalur atau akses yang lebih baik dari pantai utara (pantura) -melalui Batang, membangun atau memperbaiki sarana jalan dan sebagainya. Semua ini bisa direncanakan tahap demi tahap, dengan dukungan Pemprov Jateng dan Pusat. Untuk mengembangkan Dieng, memang diperlukan sarana serta prasarana penunjang lainnya. Misalnya, kondisi jalan yang mengakses ke sana, baik dari Wonosobo, Banjarnegara, dan Batang. Peningkatan kualitas jalan provinsi maupun kabupaten ini mutlak diperlukan, agar kawasan Dieng mudah dijangkau dari berbagai sisi, serta memberikan kenikmatan bagi para pengguna jalan. Masyarakat sekitar juga perlu dididik untuk menjadi pelaku wisata yang baik, seperti pemandu wisata, pengelola penginapan, perajin/pengusaha cenderamata, dan sebagainya. Kelompok-kelompok kesenian tradisional masyarakat setempat pun perlu dihidupkan. Memang, bukan pekerjaan yang gampang untuk mengembalikan kondisi Dieng seperti semula. Tetapi angan-angan itu harus tetap terpaku pada semua unsur terkait, baik pemerintah, masyarakat setempat, maupun pelaku wisata yang menggantungkan hidup di sana. Menyelurusi Dieng rasanya seperti ke dunia lain. Bayangkan, saat mendaki dari arah Wonosobo, kita pasti akan melewati kawasan yang tertutup awan. Selepas menembus awan, sinar mentari pun kembali menyeruak. Kita memang seperti berada di kahyangan. Dunia sana yang sulit kita jumpai di daerah lain. (48) |