logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Berita Utama  
Line

Selamatkan Objek Wisata Dieng

PADA musim kemarau lalu, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardhika mampir di kawasan wisata Dieng. Dia meninjau kawasan candi Hindu di sana, yang disebut-sebut sebagai peninggalan masyarakat Hindu tertua di Tanah Air, serta mengunjungi objek wisata lainnya. Kondisi Dieng secara keseluruhan memang agak menyedihkan. Bukan soal pemeliharaan objek wisata saja, tetapi juga lingkungan Dieng secara umum. Wartawan Suara Merdeka I Nengah Segara Seni menurunkan laporannya mengenai kondisi Dieng yang sering disebut-sebut sebagai daerah kahyangan-nya Banjarnegara itu.

Berbicara soal Dieng, sebenarnya ada empat aspek yang harus kita lihat, yaitu aspek wisata, konservasi alam (hutan lindung), kebudayaan (cagar budaya), dan pertanian (pertanahan). Keempat hal ini perlu mendapat perhatian khusus, bukan hanya dari Pemkab Banjarnegara, tetapi juga Pemprov Jateng, bahkan pemerintah pusat.

Tetapi saat berkunjung ke sana, bulan lalu, banyak hal sangat mengenaskan yang muncul. Bayangkan, tatkala kekeringan melanda sebagian besar wilayah Jateng -termasuk bagian selatan- pengunungan itu pun mengalami hal yang sama. Dieng merangas, akibat perilaku manusia yang sudah tidak terkontrol lagi.

Dari obrolan dengan sejumlah pencari nafkah, seperti pedagang kaki lima (PKL), pemandu wisata dan sejumlah petani, muncul kesan kondisi buruk itu akibat ulah manusia. Pernahkan Anda membayangkan, Telaga Warga yang merupakan salah satu objek wisata unggulan justru mengering? Warnanya nyaris tidak terlihat lagi. Bunga-bunga dan rimbun pepohonan yang dulu menghijau, kini menguning didera terik mentari.

Kondisi daerah di sekitar candi-candi juga tidak tarawat. Rumput-rumput liar dibiarkan menjalar kemana-mana. Sementara pada sejumlah ruas jalan, terlihat lapisan tanah bekas lumpur dan longsor menutupi aspal, Sungguh tidak menarik ketika kita kembali menyebut Dieng sebagai kawasan wisata, budaya, cagar alam, dan hutan lingdung yang dibanggakan.

Potensi Besar

Pertanyaan sekarang, betulkah kita masih menganggap Dieng sebagai aset yang mestinya mendapat perhatian khusus? Pertanyaan ini dijawab tegas oleh Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno. "Tak ada jalan lain, kita harus melakukan langkah-langkah cepat dan terancana untuk menyelamatkan Dieng. Jangan sampai kawasan itu hancur karena ulah kita sendiri," katanya.

Untuk mengamankan Dieng, belum lama ini disusun naskah kerja sama antardaerah dalam penanganan kawasan tersebut, yakni Pemkab Banjarnegara dengan Wonosobo, yang ditandatangani Bupati Banjarnegara Drs Djasri ST MM dan Bupati Wonosobo Drs Trimawan Nugrohadi.

Kedua daerah itu, secara adminstratif, memang bersingungan dengan Dieng. Kerja sama itu bersifat menyeluruh, artinya menggarap keempat aspek di atas, sebagai potensi besar dan potensial dalam memakmurkan masyarakat sekitar.

Paling tidak, dari sisi pariwisata, Dieng bisa dijadikan objek wisata berkelas internasional. Juga kandungan alamnya. berupa uap panas dari perut bumi, bukan tidak mungkin mampu mendukung kebutuhan energi listrik nasional.

Dulu, Dataran Tinggi Dieng merupakan hamparan hutan lindung yang luasnya tidak kurang dari 1.200 hektare, belum termasuk kawasan situs purbakala yang seluas 640 hektare. Dengan demikian, keberadaan alam di perbukitan itu sangat vital bagi warga masyarakat di bawahnya. Yang jelas, kawasan ini mestinya merupakan areal resapan air, sekaligus pengatur ekosistem.

Sebagai wilayah pertanian nan subur, tentu saja areal puluhan ribu hektare itu mampu menjadikan Dieng sebagai daerah yang sangat produktif. Tetapi diperlukan kontrol ketat dalam pemanfaatan tanah (lahan), sehingga tak mengancam kondisi alam sekitar.

Kini, kondisi hutan dan tanah di Dieng sudah amat mengkahawatirkan. Bukan saja hutannya yang habis, tanahnya pun telah digarap warga sebagai lahan pertanian. Secara ekonomis potensi Dieng dari sisi pertanian sangat besar, karena membawa dampak langsung pada kemakmuran warganya.

Dalam perkembangan teknologi yang pesat sekarang ini, juga merupakan tantangan bagi Pemkab Banjarnegara dan Wonosobo untuk membina petani. Potensi masyarakat perlu dikembangkan, agar mereka jadi SDM andal dalam mengelola kekayaan alam.

Penanganan Khusus

Wilayah yang terletak sekitar 2.000 meter dari permukaan laut, dengan wilayah seluas 2.321 ha, itu seperti diciptakan Tuhan sebagai wilayah sangat istimewa. Lima desa berada di Banjarnegara, dan dua desa lainnya masuk Wonosobo, dengan jumlah penduduk sekitar 17.000 jiwa yang sebagian besar merupakan petani.

Dalam dua tahun terakhir, kerjasama dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan Dieng sudah dilakukan kedua daerah. Diperlukan kesamaan visi, persepsi, maupun menghilangkan ego kedaerahan dan bekerja sama lebih sinergis dalam pengelolaan dan pengembangan Dieng.

Tetapi, melihat kondisinya sekarang, yang bisa dianggap sudah rusak, tentu ini merupakan pekerjaan mahaberat dan membutuhkan dana besar. Harus ada prioritas program, keharmonisan dalam penanganan, penyusunan strategi, serta pelaksanaan dan lain sebagainya, sehingga penggarapannya tidak gedabyah.

Sementara dari sisi pendanaan, jika cuma mengandalkan kemampuan dua kabupaten, tentu sangat berat, bahkan mustahil bisa dilakukan. Mengapa? Selain pekerjaan sangat berat, perbaikan yang dilakukan pun harus berpacu dengan waktu. Apabila terlambat sedikit, bisa jadi kerusakan bakal makin parah.

Perlu ada tahapan pembiyaan serta mencari alternatif sumber dana bantuan, baik dari pemkab dan pemprov, swasta, maupun dari masyarakat. Melihat kondisi ini, bukan mustahil jika Pemprov (melalui APBD) dan Pusat (APBN, atau departemen terkait) ikut mengucurkan dana.

Kendala dana itulah yang selama ini membuat usaha pengembangan seluruh potensi di Dieng amat lamban. Hadi Supeno pun mengakui Banjarnegera termasuk kabupaten miskin. Kondisi alamlah yang menjadikan 90.000 dari 850.000 warganya miskin. "Bayangkan, 13 persen penduduknya baru tamat SD. Sisanya tak tamat SD, bahkan belum sekolah dan tidak pernah sekolah," kata dia.

Bagi Banjarnegara, keberadaan Dieng memang sangat vital sebagai tempat menaruh harapan di masa depan, untuk mengangkat derajat hidup warganya. Karena itulah, usaha membangun, mengembangkan, dan memanfaatkan kekayaan alam terus dibangun: cepat atau lambat!

"Bagi kami, yang penting ada niat dan usaha. Sebagai warga Banjarnegara, saya dan Pak Bupati akan melakukan yang terbaik bagi masyarakat maupun wilayah ini. Hal serupa tentu dilakukan teman-teman dari Wonosobo," tambah Hadi Supeno.

Semangat, sekaligus rasa keprihatinan, itu pun diperlihatkan Made Ardhika. Dia juga sepakat, Dieng harus diselamatkan, dikembangkan, serta dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat sekitar, serta demi keharuman nama bangsa dan negara. (48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA