logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Berita Utama  
Line

Waduk Kedungombo Justru Lumpuh

  • Pasokan Air Terpaksa Dihentikan

KUDUS- Musim penghujan kali ini telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di Cilacap dan Kebumen. Namun, Waduk Kedungombo yang terdapat di perbatasan tiga daerah, yakni Boyolali, Sragen, dan Grobogan justru lumpuh. Waduk itu mengalami krisis air sangat hebat.

Sementara itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) lewat surat Nomor 139 UPT-HB/BPPT/X/2003 yang ditandatangani Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan, Ir Baginda Patar Sitorus, mulai 1 November hingga 30 November nanti, melaksanakan hujan buatan di sekitar Waduk Kedungombo.

Operasional modifikasi cuaca itu dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Gubernur Jawa Tengah. Selain di Kedungombo, operasional hujan buatan juga dilakukan di sekitar Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Hal yang sama telah dilakukan di Waduk Sempor dan Wadaslintang.

Kelumpuhan Kedungombo yang sistem irigasinya selama ini menjadi gantungan 63.624 hektare sawah di Grobogan, Demak, Kudus, dan Pati, mendorong pihak terkait memutuskan mulai Senin kemarin menghentikan pasokan air untuk kepentingan irigasi areal tersebut.

Kondisi itu juga mengancam PDAM Grobogan, sedangkan PAM Kudu Semarang sama sekali tak mendapat suplai air baku dari sistem irigasi Kedungombo. Praktis PAM Kudu yang dapat pasokan air sekitar 3 m3/detik, kini hanya menggantungkan suplai dari Kali Lusi yang distribusinya diatur Bendung Klambu Grobogan.

''Semestinya masih ada 36 juta meter kubik khusus untuk air minum. Namun, cadangan air baku ini tidak akan kami lepas. Sebab, siapa yang menjamin kalau dilepas bisa benar-benar sampai sasaran atau digunakan untuk air minum, bukan untuk sawah?'' tandas Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air wilayah Sungai Serang, Lusi, dan Juwana (BPSDA Seluna), Ir Agus Purwadi.

Rapat koordinasi yang dipimpin Agus Purwadi itu, antara lain dihadiri para pejabat teknis terkait dari Pemkab Kudus, Pati, Demak, dan Grobogan. Selain itu juga hadir Koordinator Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Kecamatan Undaan, Kudus, Kaspono, dan Koordinator P3A wilayah Bendung Sedadi, Robert.

Terparah

Dilaporkan, kondisi elevasi Kedungombo hingga kemarin pada posisi pukul 06.00 hanya 67.78 m di atas permukaan laut (dpl). ''Sebenarnya pada elevasi ini waduk harus sudah ditutup, tetapi kemarin masih melepas air 20 m3/detik,'' cetus Agus Purwadi.

Namun, tambah dia, begitu elevasi nanti menyentuh 67.50 m dpl, tidak ada alasan lain waduk harus ditutup. Menurut dia, sangat berbahaya bagi kelangsungan fungsi waduk ke depan bila elevasinya telah masuk pada 67.50 m dpl, waduk tak juga ditutup.

''Sebab, secara otomatis upaya untuk mengembalikan elevasi pada posisi normal 86.00 saat puncak musim kemarau menjadi semakin berat. Sejak waduk dibangun hingga kini, krisis air sekarang adalah paling parah,'' ucap dia. Posisi elevasi per 3 November 2001 83.22 m dan 3 November 2002 sudah turun menjadi 70.67 m.

Ia menerangkan, semestinya alokasi air yang dibutuhkan wilayah hilir atau sistem irigasi Waduk Kedungombo untuk Bendung Sidorejo misalnya 2,50 m3/detik, Bendung Sedadi 14,340 m3/detik, Bedung Klambu 15.95 m3/detik, Saluran Klambu Kiri 13.19 m3/detik, Klambu Wilalung 4.39 m3/detik, dan Klambu Kanan 6.89 m3/detik.

Elevasi waduk itu, semakin cepat parah setelah airnya tiap detik dikonsumsi sebanyak 60 m3 untuk pertanian selama 22 hari, mengairi tanaman padi dalam musim tanam (MT) 1 yang dimulai 1 Oktober lalu. Sebelumnya, selama dua pekan dikonsumsi untuk MCK sebanyak 15 m3/detik.

Guna menyiasati krisis air itu, Kaspono mengajak petani untuk memanfaatkan air yang selama ini terbuang percuma di saluran drainase (pembuangan). ''Jadi, kita ambil lagi air yang biasanya terbuang setelah untuk mengairi lahan, dengan menyedot pakai pompa diesel,'' tuturnya.

Untuk membantu meringankan beban petani, wakil petani dari Kudus, Grobogan, dan Demak sepakat mendesak bupati masing-masing memberi perhatian terhadap masalah yang mereka hadapi. ''Kami minta BPSDA menyurati bupati, agar saat menghadap, bupati sudah mengetahui maksud kami,'' pinta Robert. (yit-64i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA