
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
Bali Berpacu Pulihkan PariwisataSETELAH tragedi peledakan bom di Legian, Kuta, 12 Oktober tahun lalu, dunia pariwisata Bali terpuruk. Bersama media yang difasilitasi Kantor Informasi dan Komunikasi (KIK), Pemkab Karanganyar belum lama ini melakukan perjalanan wisata ke Badung, Bali. Di tempat itu masih kelihatan dampak peledakan bom itu. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Langgeng Widodo.
Tempat duduk wisatawan untuk menyaksikan pertunjukan tari barong dan keris yang digelar di salah satu tempat pertunjukan di Badung banyak yang kosong. Bahkan, sebagian tempat duduk itu hanya diisi wisatawan domestik yang sedang berlibur. Adapun wisatawan mancanegara alias bule bisa dihitung jumlahnya. ''Ini belum seberapa, sebenarnya ada empat tempat yang menggelar tari barong itu. Namun karena kunjungan wisatawan mancanegara sepi sejak peristiwa peledakan itu, tiga lainnya sudah ditutup,'' kata I Made Sardula, pemandu wisata. Pantai Kuta, salah satu pantai favorit bagi bule yang dijadikan ajang untuk berjemur badan dan berselancar air, juga menunjukan hal yang sama. Biasanya bule yang berjemur banyak, tapi sekarang jumlahnya berkurang drastis. ''Setiap hari biasanya saya memijat empat, bahkan delapan bule setiap hari, sekarang untuk memijat satu saja sulitnya bukan main,'' kata seorang perempuan pemijat. Pasar seni Sukawati juga menunjukkan demikian. Itu bisa dilihat dari mobil atau bus yang digunakan mengantar para turis. Demikian juga pengakuan para pedagang, baik grosir maupun eceran. ''Sekarang sepi, tidak seperti tahun lalu. Jika hanya mengandalkan turis domestik untungnya sedikit, berbeda dari kalau yang membeli bule.'' PAD Menurun Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung Oka Darmawan mengungkapkan, sejak peristiwa 12 Oktober itu, angka kunjungan hotel menurun drastis. Bahkan sehari setelah kejadian itu, tingkat hunian hotel turun hingga satu digit atau sekitar 8%. Padahal sebelumnya tingkat hunian hotel di seluruh Provinsi Bali rata-rata berkisar 70%-80%. Dalam tiga tahun terakhir, lanjut dia, dari catatan yang diperoleh dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, kunjungan wisatawan mancanegara mengalami kecenderungan penurunan. Tahun 2000 sejumlah 1,4 juta orang, tahun 2001 tetap 1,4 juta orang, sedang tahun 2002 turun menjadi 1,2 orang. ''Tahun 2003 belum bisa diketahui secara keseluruhan, tapi kelihatannya masih menunjukkan penurunan juga.'' Ia menyebutkan, secara signifikan penurunan kunjungan wisatawan mancanegara sangat berpengaruh pada pendapatan asli daerah (PAD) di tiap kabupaten di Provinsi Bali ini. Sebab sekitar 80% PAD itu berasal dari pariwisata. Di Badung, realisasi PAD tahun 2002 mencapai Rp 203,8 miliar, tahun 2001 naik menjadi Rp 256,6 miliar, tahun 2002 naik lagi hingga 310,6 miliar. ''Tapi hingga semester I bulan Juni 2003 realisasinya mengalami penurunan Rp 11,6 miliar.'' Oka berharap kondisi Bali segera pulih seperti sediakala. Sebab jika kondisinya masih seperti sebelumnya, masyarakat juga yang menanggung. Tidak hanya masyarakat Bali, tapi masyarakat seluruh Indonesia pada umumnya. Bisa Dipetik Lantas apa yang bisa dipetik dari kunjungan Pemkab Karanganyar bersama para wartawan. ''Banyak, banyak sekali,'' kata Kepala KIK Lukman Suyono. Ia mengatakan, meski mengalami penurunan PAD, Badung masih jauh dibanding dengan Karangayar. PAD Karanganyar hanya Rp 20 miliar, sedangkan Badung masih lebih dari Rp 200 miliar per tahun. Sumbangan PAD terbesar didapat dari sektor pariwisata, yaitu lebih dari 80%. Menurut dia, nilai lebih yang dimiliki Badung adalah sudah tertatanya sektor pariwisata yang menjadi andalan itu. ''Itu yang ingin kami pelajari sehingga kami mengadakan press tour.'' Dalam penataan itu, lanjut dia, ternyata sektor pariwisata tidak berdiri sediri. Pariwisata juga terkait dengan pertanian, usaha kecil, dan perdagangan. ''Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Bali, banyak pula mereka yang berbelanja membeli barang-barang. Entah itu makanan, suvenir atau lainnya. Otomatis sektor pertanian dan perdagangan juga terangkat.'' (13i) |