
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
''Silaturahmi Politik'' Adang Mega
JAKARTA-''Silaturahmi politik'' sejumlah pimpinan partai politik (parpol) besar, Senin (3/11), diselenggarakan di kantor DPP PKB Jalan Kalibata Jakarta Selatan. Acara yang dikemas dalam bentuk berbuka puasa bersama itu disebut-sebut oleh beberapa pihak sebagai koalisi besar, melebihi poros tengah pada Pemilu 1999, untuk mengadang Megawati Soekarnoputri di Pemilu 2004. Hadir pada pertemuan itu antara lain Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum DPP Alwi Shihab, dan Wakil Ketua Umum DPP Mahfud MD, Ketua Umum DPP PAN Amien Rais dan anggota Fraksi Reformasi DPR Alvin Lie.
Selain itu, Sekjen DPP Partai Golkar Budi Harsono dan Ketua DPP Slamet Effendi Yusuf, Ketua Partai Pelopor Rahmawati Soekarnoputri, dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono. Dari PDI-P hadir Wakil Sekjen DPP Pramono Anung, serta Ketua FPDI-P MPR Arifin Panigoro. Dari PKS Presiden Hidayat Nurwahid, dan dari PNBK hadir ketua umum Eros Djarot, dari DPP PPP hadir Wakil Sekjen Endin Syaifuhara, serta tokoh Partai Bintang Reformasi Ade Nasution. Acara yang digagas sejumlah pengurus lintas parpol itu diawali dengan berbuka puasa dilanjutkan shalat magrib berjamaah. Sebelum mereka melakukan pertemuan, yang diistilahkan oleh Amien sebagai ''kongkow-kongkow petinggi parpol'', satu per satu diminta memberi sambutan. Acara itu dipandu Sekjen DPP PKB Saifullah Yusuf (Ipul). Pabrik Mercon Gus Dur selaku tuan rumah diberi kesempatan pertama menyampaikan ucapan pembuka. Bukan Gus Dur jika tidak membuat hadirin ger-geran. Mantan presiden, yang didampingi Rahmawati, langsung mencairkan suasana dengan mengatakan bahwa yang hadir di sini tidak ada lagi masalah. Dia mengatakan silaturahmi politik seperti ini adalah penting betapa pun selaku petinggi parpol pernah terjadi letupan-letupan. ''Parpol ini seperti pabrik mercon yang terkadang terjadi letusan-letusan. Itu wajar.'' Meski demikian, hubungan secara pribadi tetap berjalan dengan normal dan baik kendati ada perbedaan pendapat. ''Wajar jika pernah beda pendapat. Tapi itu tidak akan menghalangi hubungan di antara kami.'' Pada kesempatan itu, ia juga menegaskan,'' Undangan buka puasa ini tidak ada unsur politisnya. Ini hanya buka puasa bersama. Kalau ada yang bilang ini silaturahmi politik, itu kan katanya koran." Amien, yang dulu memelopori poros tengah dan berperan melengserkan Gus Dur dari jabatan presiden pun dengan semangat memberi sambutan hangat. ''Saya datang ke sini sudah kali kedua. Pertama saat peresmian dan kedua acara buka bersama ini.'' Dia bernostalgia ketika sejumlah pengurus PBNU bersama Gus Dur bersilaturahmi ke kantor PP Muhammadiyah Jalan Menteng Raya. Silaturahmi saat itu juga membuahkan hasil positif, meski di tengah perjalanan terjadi letupan politik. ''Yang terpenting letupan itu bisa diredam lewat silaturahmi seperti ini. Soal kesalahan, mari sama-sama diperbaiki.'' Dia mengakui bahwa pertemuan elite politik seperti ini bisa saja membahas masalah politik sampai ke masalah calon presiden. ''Tidak mungkin kami bahas secara terbuka. Ya nanti kalau sudah dalam pertemuan terbatas,'' kata dia, yang disambut aplaus hadirin. Namun ia menyatakan kurang sependapat menggunakan istilah yang tidak elegan, misalnya untuk mengadang atau menjegal Megawati pada Pemilu 2004. Pasalnya, menurut dia, bagaimana pun upaya pimpinan parpol tak akan bisa berhasil banyak karena rakyat yang akan menjadi penentu dan hakim. ''Rakyatlah yang memilih secara langsung. Jadi tidak ada istilah halang-menghalangi.'' Pramono juga menepis anggapan bahwa silaturahmi ini bisa digunakan untuk menjegal atau menghalang-halangi pimpinan PDI-P untuk maju menjadi presiden lagi. ''Kan ada dari PDI-P, ya tidak mungkin bisa untuk menjegal.'' Dia mengakui untuk presiden yang akan datang bisa dilihat dari langkah-langkah Amien. ''Sekarang tinggal melihat sepak terjang dan langkah Pak Amien. Itulah nanti presiden yang terpilih,''ujarnya. Alwi Shihab juga membantah silaturahmi ini untuk menjegal Mega. Forum itu disebutnya untuk menyamakan persepsi menghadapi pemilu mendatang. Yang jelas, kata dia, berjejernya elite Partai Golkar dan PDI-P itu akan menenangkan dua warga parpol di Buleleng, Bali, yang belum lama ini terlibat bentrok. Susilo Bambang Yudhoyono yang datang agak terlambat, memberi sambutan singkat dengan melihat arti penting dari silaturahmi. Adapun Rahmawati menekankan perlunya kesabaran menghadapi krisis yang terjadi sekarang ini. Sementara itu, silaturahmi pimpinan parpol itu diyakini akan mempunyai pengaruh arah politik lebih besar. Bahkan Saifullah Yusuf memprediksi kekuatannya lebih besar dibanding poros tengah pada Pemilu 1999 yang berhasil menggolkan Gus Dur menjadi presiden. ''Intinya kan bertujuan untuk melakukan perubahan.'' Amien secara ekplisit menyebut pimpinan parpol yang berkumpul di sini sudah sepakat membangun kekuatan proreformasi untuk menghadapi pihak-pihak yang tidak setuju reformasi. ''Itu kesepakatan kami untuk menghadapi yang antireformasi.'' (di,dtc-13) |