
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
Kondisi PTDI Makin Tak Karuan, Karyawan Terima Gaji 10%BANDUNG - Upaya penyehatan di tubuh PT Dirgantara Indonesia (DI) belum menunjukkan hasil menggembirakan. Kemarin malah ada kabar gaji 9.000 karyawan pada bulan Oktober hanya diberikan antara 10%-25% dari seharusnya yang mereka terima. Hanya ada dana Rp 2 miliar yang tersisa di kas perusahaan industri pesawat terbang nasional tersebut. Direktur Umum PTDI Muhamad Nuril Fuad yang kemarin dihubungi wartawan membenarkan penerimaan gaji karyawan yang tidak utuh itu. Jumlah gaji minimal karyawan perusahaan itu adalah Rp 1,5 juta. "Masalahnya, tidak ada keuntungan dari proyek yang selama ini menjadi sumber penggajian karyawan. Karena itu, kami menunggu dana talangan dari pemerintah," katanya. Nuril pun menyatakan, dengan kondisi yang ada sekarang PTDI bisa dinyatakan bangkrut. Hanya bantuan dana dari pemerintah yang bisa menyelamatkan mereka. Sayangnya, ajuan dana ke Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) sebesar 54 juta US dolar yang sudah dibahas sejak Maret-Juni belum turun-turun juga. Selain untuk modal kerja, dana sebesar itu juga dialokasikan bagi rencana rasionalisasi 6.000 karyawan sebesar Rp 300 miliar. Sedangkan dana yang dibutuhkan untuk membayar gaji karyawan setiap bulannya mencapai Rp 26 miliar. Menurut Nuril, pihak perusahaan saat ini benar-benar membutuhkan dana talangan dari pemerintah itu Rp 140 miliar. Selain untuk membayar gaji karyawan berdasarkan kesanggupan mereka hingga bulan November, juga dialokasikan untuk membayar pesangon gelombang pertama. Sejauh ini, baru 150 karyawan yang menyatakan bersedia kena PHK. Dia optimistis dana talangan dari pemerintah bisa turun secepatnya. Apalagi pada bulan ini pun karyawan berhak mendapatkan THR. "Jika belum turun juga karena keterbatasan dana, THR itu menjadi utang perusahaan kepada karyawan," katanya. Sesuai Jadwal Meski kondisi keuangan perusahaan sedang parah, Direktur Operasional dan Niaga Budi Wuraskito menyatakan, pemenuhan pengerjaan pesanan pesawat masih sesuai dengan jadwal. Beberapa pesanan yang sedang dikerjakan adalah pesanan CN-235 senilai 36 juta dolar AS dari Tentara Udara Diraja Malaysia, akan diserahkan pada akhir tahun ini. Pada Desember, pesanan Pakistan atas pesawat yang sama juga sudah mesti harus dikirim. Selain itu, 3 pesawat N-212 tipe patroli maritim pesanan TNI-AL pada Januari harus rampung juga untuk diserahkan Januari 2004. "Yang jelas, semua proyek ini harus diselesaikan secepatnya," kata Budi. Kemarin, ribuan karyawan PTDI kembali menggelar unjuk rasa menyoal gaji yang tidak utuh plus THR. Aksi yang dimulai sejak pukul 08.00 di seputaran kawasan Mesjid Habiburachman itu sempat panas karena karyawan ingin masuk ke areal fabrikasi yang tak jauh dari kawasan tersebut. Akhirnya karyawan diizinkan masuk, namun pertemuan dengan manajemen tidak membuahkan hasil. Manajemen mengaku perusahaan benar-benar "tidak punya uang". Ketua SP FKK PTDI, Arief Minardi, menyatakan tindakan manajemen tidak bisa diterima. "Ini tindakan yang semena-mena," katanya. Pihaknya bersama karyawan akan menuntut gaji dan THR melalui serangkaian aksi. (dwi-78t) |