
| Selasa, 4 November 2003 | Berita Utama |
87 Korban Terserang Penyakit
BANYUMAS- Kurang lebih 87 warga Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas dilaporkan mulai terserang sejumlah penyakit, menyusul banjir yang melanda daerah mereka Sabtu-Minggu lalu. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah, mengingat warga yang berobat ke posko kesehatan dan pukesmas terdekat terus berdatangan. Penyakit pascabanjir yang dialami warga di antaranya gatal-gatal, diare, infeksi saluran pernapasan, dan rematik. Data Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Pemkab menyebutkan, dari jumlah tersebut paling banyak adalah penderita gata-gatal, yakni 61 orang, saluran pernapasan 21 orang, sedangkan sisanya merata untuk beberapa penyakit lain. Kepala Pukesmas Sumpiuh 2, dr Anggoro, selaku koordinator tim posko kesehatan wilayah Sumpiuh kepada Suara Merdeka mengemukakan, penyakit gatal-gatal pada kulit terutama banyak dialami anak-anak. Sebab, kondisi air kotor dan lingkungan becek mudah membawa kuman.
''Yang terkena diare dan saluran pernapasan akibat cuaca dingin dan gizi buruk. Daerah tersebut juga tergolong lembab. Sementara itu, air yang mereka minum juga kurang layak. Meski demikian, secara umum bisa ditangani,'' ujar dia Secara terpisah Kepala DKKS, dr Choirul Mufid mengatakan, sejauh ini persediaan obat-obatan masih cukup. Karena itu, berapa pun yang dibutuhkan warga bisa dipenuhi. Tim medis dan sejumlah dokter juga siap memberikan pertolongan 24 jam. Ia menambahkan, karena kondisinya belum begitu mengkhawatirkan, pihaknya baru menyediakan dua posko kesehatan, yaitu polindes di Desa Wiradadi dan Pukesmas Sumpiuh Dua. ''Stok obat kami masih cukup. Berapa pun permintaan langsung kami kirim. Sekarang yang perlu diwaspadai adalah masalah kekurangan gizi dan cuaca dingin. Apalagi, sekarang bulan puasa, konsumsi makan mereka juga terbatas,'' katanya. Untuk mengatasi masalah kekurangan air bersih, lanjut Kepala DKKS, pihaknya telah berkoordinasi dengan PDAM Banyumas. Sejak Sabtu lalu PDAM juga telah mengedrop air pada warga yang membutuhkan. Banjir bandang juga melanda Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), sejak Minggu (2/11) malam. Hingga Senin (3/11) petang, 70 jenazah korban banjir berhasil dievakuasi. Sementara, 110 orang lainnya belum diketahui nasibnya. Bantuan Air Gubernur Mardiyanto kemarin juga langsung mengirimkan bantuan tiga tangki air bersih. Penyerahan itu dilakukan oleh Dinas Permukiman dan Tata Ruang (Kintaru) Pomprov, langsung kepada Bupati Banyunas Aris Setiono di lokasi bencana. Setelah itu, rombongan bupati meninjau kondisi terakhir tanah longsor yang menutup jalan kabupaten di Desa Parungkamal-Besuki, Kecamatan Lumbir. ''Sementara itu, sumur warga yang kemasukan lumpur, rencananya mulai besok (Selasa 4/11) akan dilakukan pengaporitan. Kalau dilakukan kemarin, air sumurnya kan belum mengendap. Warga yang sumurnya belum diberi kaporit, kami minta mengambil air ke sumur terdekat yang aman atau menunggu kiriman air PDAM. Ini untuk menjaga kesehatan mereka,'' jelasnya. Mufid menambahkan, untuk menyiagakan penanganan kesehatan secara menyeluruh di wilayah Banyumas, sehubungan dengan datangnya bencana alam, dalam waktu dekat DKKS akan mengumpulkan seluruh kepala puskemas dan petugas posko kesehatan yang telah ditunjuk. Di Langkat Sementara itu, Senin (3/11) malam, 70 jenazah korban banjir yang berhasil dievakuasi, dibawa oleh keluarganya. Tim SAR masih mencari sedikitnya 110 orang yang belum diketahui nasibnya. Namun sekitar pukul 21.00, Tim SAR menghentikan upaya pencarian karena situasinya tidak memungkinkan untuk dilakukan pencarian para korban. Keterangan yang diperoleh dari posko bantuan di halaman Mesjid Bustanul Mukminin, Desa Bukit Lawang menyebutkan, enam korban turis asing sudah dievakuasi ke RS Dokter Pirngadi, Medan, sekitar pukul 18.00. Warga asing yang menjadi korban di lokasi kejadian yang berjarak sekitar 90 km dari Medan tersebut adalah Mathias asal Austria, Florian Luf (Austria), Tan Tek Kai (Singapura), Elly (Jerman), serta Roy dan Ross (Belanda). Gubernur Sumut HT Rizal Nurdin, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Tri Tamtomo, dan Bupati Langkat Syamsul Arifin semalam meninjau lokasi. Banjir melanda daerah itu sejak Minggu (2/11) malam. Kondisi arus air di daerah aliran sungai (DAS) Bahorok yang cukup deras dan berlumpur menyulitkan upaya pencaharian terhadap korban yang belum ditemukan. Mereka diperkirakan terseret banjir yang dilaporkan setinggi 10-12 meter itu. Sejumlah penduduk di sepanjang pinggiran DAS Bahorok, terutama di sekitar Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bukit Lawang, Langkat, masih mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya banjir bandang susulan. Mereka masih trauma untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing meski posisi air di DAS Bahorok menjelang Senin (3/11) siang mulai surut. Beberapa penduduk memilih tinggal sementara di rumah-rumah sanak saudara mereka ataupun di posko penampungan korban bencana banjir di Masjid Baiturrahman, Bukit Lawang. "Bisa saja banjir datang lagi, sebab di sekitar gunung (Taman Nasional Gunung Leuser-Red) kami lihat masih mendung," kata seorang warga di Desa Bukit Lawang. Posko penampungan korban banjir Sungai Bahorok tersebut juga dijadikan sebagai tempat penampungan sementara setiap mayat yang baru ditemukan, sebelum dibawa oleh masing-masing keluarga ke rumah duka. Sedikitnya enam unit ambulans hilir mudik mengangkut jenazah korban banjir dari posko ke rumah duka dan RSU Dokter Zoelham di kota Binjai yang berjarak sekitar 50 km dari lokasi kejadian bencana banjir tersebut. Adapun 30 korban yang mengalami cedera hingga Senin sore masih dirawat di Puskesmas Kecamatan Bahorok. (G22, ant,dtc-13,78i) |