
| Selasa, 4 November 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Pengrajin Jam Klasik First Clock dari Pegandon
TAK berlebihan seandainya Alwi Hamid (48) disebut seorang maestro. Hasil karya ayah tiga anak tersebut terbilang rumit, dan dibutuhkan ketelitian ekstra. Terlebih jam ding-dong hasil karyanya, mulai pembuatan komponen hingga menjadi produk jadi, hampir seluruhnya diproses secara hand-made. Satu-satunya komponen yang belum mampu dibuat adalah mangkuk bel ding- dong. Konon, jam ding-dong adalah alat pengukur waktu pertama kali menggunakan teknologi pegas dan gir. Bentuknya rata-rata besar, baik yang berdiri maupun yang ditempel di dinding. Suaranya sangat anggun sekaligus mantap, diing... doong... Tempo dulu jam berbentuk klasik tersebut lazim terpampang di rumah gedong juragan tanah, pejabat pemerintahan, pembesar istana. Boleh dikata barang itu menjadi simbol status ekonomi bagi seseorang. Sesuai namanya, jam produksi Alwi Hamid diberi label first clock. Rumah merangkap toko komponen elektronik yang terletak di belakang Pasar Pegandon, Gang Laris nomor 38 RT 4 RW 1, dari depan tidak sedikitpun menampakkan tempat penghasil jam antik. Tempat tersebut baru diketahui rumah seorang maestro seniman pembuat jam, manakala masuk ke dalam rumah. Di kamar yang terletak di sudut kanan belakang rumah, tampak sejumlah rangkaian mesin dan boks kayu jam ding-dong masih tercerai-berai. Bahan baku, antara lain kawat kuningan untuk membuat rantai bandul, plat kuningan untuk membuat jarum, gir komponen jam, kayu mahoni untuk boks tampak berserakan. Kondisi serupa juga terlihat pada perkakas usaha, misalnya besi pencetak plat penunjuk waktu, bor manual yang terbebat debu dan rumah laba-laba. Pesanan ''Kecuali mangkuk lonceng, semua komponen jam first clock diproduksi dan dirancang sendiri. Mangkuk lonceng dulu menggunakan bel dokar, karena lambat laun barang itu semakin langka, maka akhirnya saya memesan mangkuk lonceng secara khusus ke pengrajin di daerah Juwana, Pati. Mengenai bahan baku seperti kawat dan plat kuningan, timah, kayu mahoni mudah diperoleh di pasaran,'' kata Alwi. Di ruangan tempat bekerja Alwi Hamid dan tiga karyawannya tersebut, tak ada satupun ditemui produk barang jadi berupa jam ding-dong. ''Saya memproduksi jam hanya berdasar pesanan. Umumnya mereka adalah para pedagang langganan di Jakarta, Surabaya, Madura dan Semarang.'' Sejak mewarisi ketrampilan membuat jam dari orangtuanya Hamid pada 1987, Alwi mengaku tidak pernah memasarkan sendiri hasil karyanya itu. ''Untuk membuat sebuah jam dibutuhkan waktu antara 1-tiga bulan.'' Suami Ny Ipah Salimah itu menambahkan, sejak terjadi krisis ekonomi beberapa tahun lalu penjualan jam hasil produksinya cenderung merosot. ''Hingga kini, saya telah memproduksi first clock sekitar 115 buah, namun akhir-akhir ini dalam setahun paling banter memproduksi 4-6 jam ''ding-dong.'' Harga yang ditawarkan beragam, lanjut dia, bergantung besar kecilnya ukuran, yaitu mulai Rp 800 ribu hingga Rp 5 juta. ''Harga yang ditawarkan ke pelanggan lebih rendah. Saya tidak pernah meng-kalkulasi besaran keuntungan dari menjual produk ini. Namun dilihat dari proses pembuatan dan biaya operasional yang dikeluarkan, relatif minim.'' Alwi seolah hanya sekedar ingin meneruskan keahlian warisan dari ayahnya Hamid yang telah berkecimpung membuat kerajinan jam ding-dong sejak 1972. (Setyo Sri Mardiko-84 ) |