
| Selasa, 4 November 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Guru di Salatiga Ancam Gudangkan Buku WajibSALATIGA - Sejumlah guru SD dan SMP di wilayah Kota Salatiga mengancam akan memasukkan ke dalam gudang buku-buku wajib yang diproduksi oleh Penerbit Balai Pustaka (BP) Jakarta. Alasannya, saat para guru membedah isinya belum lama ini, ternyata masih mengacu kurikulum lama. Setelah diteliti ternyata hanya sampulnya saja yang diperbarui atau diganti baru. ''Kami memperoleh banyak masukan dari beberapa guru yang mengikuti bedah buku produksi BP. Ternyata, sebagian besar isinya bersandar pada kurikulum lama. Hanya sampulnya yang diperbarui,'' ujar seorang guru yang enggan disebut namanya, akhir pekan lalu. Karena itulah mereka banyak memberikan catatan tersendiri untuk dimasukkan ke dalam buku tersebut. Mereka berharap catatan-catatan dimasukkan ke dalam buku wajib yang akan dibagikan kepada ribuan pelajar SD dan SMP di Salatiga secara gratis. ''Bila catatan-catatan itu tidak dimasukkan, kami sepakat tidak akan menggunakan buku tersebut. Justru akan segera kami masukkan ke dalam gudang. Biar dimakan rayap sekalian,'' kata guru lain .
Sayang, Kepala Dinas P dan K Salatiga Drs Bakri MSEd tak berani memberikan jawaban saat dimintai konfirmasi. Dia meminta Suara Merdeka wawancara langsung dengan Sekda Drs Sutedjo.''Wah, saya tak berani memberikan keterangan. Silakan Anda menghubungi Sekda saja,'' pinta Bakri. Telepon genggam Sutedjo, saat dihubungi tak diaktifkan. Menurut sumber di lingkungan Pemkot, Pemkot Salatiga segera memberikan proyek pengadaan buku senilai sekitar Rp 8 miliar kepada Penerbit PT BP dengan cara penunjukan. Padahal, sesuai dengan ketentuan pengadaan barang atau jasa pemerintah sebesar itu, harus dilakukan melalui lelang terbuka. Sebelumnya diumumkan melalui media massa. Bila penunjukan tetap dilakukan, sejumlah penerbit di Jateng dikabarkan akan menyeret Kepala Dinas P dan K Salatiga Drs Bakri ke pengadilan. ''Biar seperti Kepala P dan K di salah satu kota di Sumatera yang dihukum karena kasus seperti ini'' ujar seorang penerbit. (A2-84) |