
| Selasa, 4 November 2003 | Internasional |
Kekayaannya Setara dengan GDP Tahunan IslandiaKHODORKOVSKY, yang tercatat sebagai orang terkaya Rusia dan peringkat 26 dunia, punya hubungan erat dengan kaum liberal yang menentang Presiden Vladimir Putin. Pada usia yang baru saja memasuki 40 tahun, raja minyak itu diduga memiliki kekayaan pribadi delapan miliar dolar AS (sekitar Rp 68 triliun), atau setara dengan GDP (produk domestik kotor) tahunan Islandia. Dalam pekan-pekan belakangan ini dia semakin terperangkap dalam kampanye - yang disebut-sebut dilancarkan kubu Putin - untuk menjatuhkan perusahaan yang dipimpinnya, Yukos. Raksasa minyak tersebut menjadi fokus penyidikan ''tidak membayar pajak dan manipulasi''. Namun Khodorkovsky - pengkritik terang-terangan Presiden Putin - mengatakan penyidikan itu bermotifkan politik. Para analis yakin, kesulitan yang dihadapinya mungkin berawal dari pernyataan konglomerat itu belum lama ini: dia siap membiayai lawan-lawan politik Putin untuk bertarung dalam pemilu parlemen, Desember mendatang. Beberapa bulan lalu, dia ditanyai kejaksaan tentang tuduhan tidak membayar pajak kepada negara, dan juga melakukan manipulasi. Dan, Sabtu pekan lalu dia ditangkap petugas keamanan di bawah todongan pistol saat naik pesawat di Siberia (Rusia timur jauh). Dari Siberia dia diterbangkan ke Moskwa, dan langsung dijebloskan di sebuah rumah tahanan sambil menjalani investigasi intensif. Investigasi yang sebenarnya, telah dimulai Juli lalu. Saat itu, petugas kejaksaan menangkap Platon Lebedev, salah seorang pemegang saham utama Yukos. Dia didakwa ''mencuri harta milik negara'' pada saat swastanisasi sebuah pabrik pupuk pada 1994. Rezeki Swastanisasi Penangkapannya dipandang sebagai peringatan jelas terhadap Khodorkovsky agar tidak campur tangan dalam urusan pemilu mendatang. Namun dia bersikukuh, Yukos tidak mendukung suatu kelompok politik mana pun. Yukos adalah perusahaan minyak terkemuka Rusia. ''Perusahaan-perusahaan besar tidak mungkin membiayai partai-partai politik, karena para pemegang saham dan karyawannya punya pandangan politik berbeda,'' katanya kepada para wartawan, bulan lalu. Namun dia tidak merahasiakan bahwa dia mendukung kaum liberal yang menentang Presiden Putin. ''Secara ideologi saya dekat dengan Uni Kekuatan Sayap Kanan dan Yabloko. Saya akan terus membiayai kedua partai itu,'' katanya, belum lama ini. September lalu dia memperoleh hak untuk mempublikasikan koran prestisius Moskovskiye Novosti, dan mempekerjakan seorang wartawan investigatif - yang selama ini menjadi pengkritik Putin - sebagai redaktur. Khodorkovsky memulai kariernya sebagai anggota lokal Partai Komunis pada era Uni Soviet. Pada 1987 - empat tahun sebelum ambruknya Soviet - dia mendirikan Bank Menatep. Hingga sekarang dia masih punya saham yang besar di bank tersebut. Warga kelahiran Moskwa itu memperoleh kekayaan melimpah yang pertama pada awal 1990-an, ketika Menatep mengambil alih mayoritas saham perusahaan-perusahaan yang diswastanisasi. Terbesar Ke-4 Dia membeli Yukos - yang tadinya milik negara - lewat lelang resmi pada 1995 dengan harga 350 juta dolar AS (waktu itu nilainya sama dengan Rp 800 miliar). Dengan nilai dolar sekarang, harga tersebut sebanding dengan Rp 2,9 triliun). Dia sekarang menguasai 36 persen saham Yukos, sementara Menatep menguasai 60 persen yang lain. Dia konglomerat pertama Rusia yang mengungkapkan kekayaannya, dan tercatat pada peringkat ke-26 orang terkaya dunia versi majalah Forbes, terbitan awal tahun ini (yang memuat daftar 476 orang terkaya dunia). Yukos baru-baru ini merampungkan merger dengan Sibneft, perusahaan minyak lain Rusia. Perusahaan baru itu, YukosSibneft, bakal menjadi penghasil minyak swasta terbesar ke-4 di dunia. Tetapi para analis mengatakan, aktivitas politik Khodorkovsky, bukan kekayaannya, yang memancing Kremlin untuk mengobok-obok Yukos. (bbcnews-ed-30) |