logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Internasional  
Line

FOKUS

Raksasa Minyak Yukos Korban Perebutan Pengaruh

RUSIA gempar atas ditangkapnya Mikhail Khodorkovsky, bos raksasa minyak Yukos, pekan lalu. Tidak adanya fakta kuat mengenai apa yang terjadi, menyulut spekulasi mengenai kemungkinan bagi-bagi kekayaan dan aset Yukos.

Ada banyak pembicaraan mengenai ''perebutan pengaruh'' antara berbagai kelompok politik dan ekonomi. Cerita tentang penyidikan Yukos, dan penangkapan bosnya, sungguh kelam.

Pada tingkat paling dasar, cerita itu berkisar pada perubahan dramatis keseimbangan kekuatan politik di Rusia. Pada akhirnya, yang untung adalah rekan-rekan Presiden Vladimir Putin di Dinas Keamanan Rusia (eks KGB).

Sebagian analis Rusia mengatakan, waktunya tidaklah kebetulan. Mereka mengacu pada pemilihan anggota parlemen, Desember mendatang. Menurut mereka, salah satu prioritas Putin adalah membatasi ambisi politik para konglomerat.

Di Rusia, hanya para konglomerat - bukan media atau partai politik - yang sungguh-sungguh tetap menjadi pusat kekuatan alternatif yang independen. Inilah kasus sebenarnya yang dihadapi Khodorkovsky, mengingat kekayaannya yang luar biasa besar.

Inilah kunci untuk memahami gonjang-ganjing Yukos. Yang terpenting, setelah lebih dari tiga tahun periode pertama kepemimpinan Putin, sebagian besar media tunduk atau hanya mengekor pemerintah. Parlemen dan partai politik, hampir tidak pernah bersikap oposan.

Mikhail Khodorkovsky telah dikerjai dengan telak. Tetapi, para pebisnis lain Rusia yang juga terlibat dalam politik, sejauh ini lolos dari bidikan dari Presiden Putin.

Bukan Preseden

Apa yang membuat Khodorkovsky berbeda, adalah keinginannya untuk mendanai partai-partai politik yang berpotensi menjadi kekuatan oposisi. Putin berulang kali mengatakan, situasi sulit yang kini dihadapi Khodorkovsky bukanlah suatu ''preseden''.

Putin tidak sependapat dengan PM Mikhail Kasyanov, yang telah menyatakan khawatir atas dampak penangkapan konglomerat tersebut terhadap investasi di Rusia.

Bahkan Putin tetap tegar pekan ini, walaupun dua proyek investasi besar yang melibatkan perusahaan-perusahaan Barat tampaknya bakal gagal. Sang presiden sadar, dirinya dikelilingi orang-orang yang diketahui mempunyai pandangan antiliberal, anti-Barat, dan antibisnis.

Dia masih mendukung - setidaknya di depan publik - visi demokrasi berbasis pasar dan wirausaha bebas. Sulit untuk menemukan penjelasan mengenai paradoks ini.

Penjelasan yang dapat diandalkan mungkin berasal dari Gleb Pavlovsky, seorang penasihat mantan kepala administrasi kepresidenan Aleksandr Voloshin, pada musim panas lalu.

Pavlovsky menerbitkan suatu catatan analisis melalui internet. Dalam analisis tersebut, dia mengklaim Putin sedang menghadapi ''kudeta istana'' dari kalangan garis keras di dalam pemerintahannya sendiri.

Putin sekarang tampaknya telah mengambil langkah mundur dalam upaya konsolidasi lengkap atas otoritas mereka.

Pengangkatan Dmitry Medvedev yang pengacara, bukan pejabat bidang keamanan, menggantikan Voloshin sebagai kepala Administrasi Kepresidenan, memberi kesan presiden percaya bahwa harus ada pembatasan terhadap pengaruh siloviki (orang kuat).

Tentu saja ada faktor budaya, selain politik. Sehari-hari, para konglomerat dipandang dengan penuh kecemburuan. Asal-usul kekayaan mereka tidak jelas, bukan dari hasil kejujuran.

Tetapi ada pemahaman yang telah berurat akar, bahwa mencari keuntungan dan melakukan bisnis secara jujur adalah perbuatan keliru: ''bukan ciri khas orang Rusia''.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA