
| Selasa, 4 November 2003 | Ekonomi |
Kasus BNI Membuat Investor Konservatif pada Bank BUMNJAKARTA - Barangkali pasar uang dan pasar saham yang paling cepat bereaksi terhadap skandal bobolnya dana Rp 1,7 triliun di PT Bank BNI Tbk melalui L/C fiktif. Diperkirakan saat ini investor bersikap konservatif terhadap saham sektor perbankan, terutama bank BUMN. Sebab, skandal BNI membuktikan sistem pengawasan internal di bank pemerintah masih lemah. Sekjen Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Djoko Santoso Soenoe di Jakarta, Senin, mengatakan, kalau kini investor bersikap hati-hati, itu karena bukan tidak mungkin kasus BNI terulang di bank BUMN yang lain. Sementara itu, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menempatkan implikasi negatif terhadap Bank BNI berikut obligasi Rp 1 triliun dan obligasi subordinasi 100 juta dolar AS. Lemahnya Kontrol Analis Pefindo M Diana Boeky dalam siaran persnya menyebutkan, implikasi negatif itu diberikan menyusul kasus L/C tak tertagih Rp 1,7 triliun. Dia menyebutkan, dari sisi performa keuangan, BNI saat ini memiliki potensi kerugian Rp 1,2 triliun. Hal itu mengindikasikan masih lemahnya kontrol internal dan pengelolaan risiko (risk management) perseroan. Melihat kondisi itu, Pefindo akan segera mengambil aksi pemeringkatan setelah memperoleh informasi dan klarifikasi. Kini Pefindo memberikan peringkat A untuk obligasi biasa dan BBB+ untuk obligasi subordinasi. Djoko Santoso Soenoe menambahkan, investor melihat potensi kerugian yang diderita BNI sangat material, sehingga tidak bisa diabaikan begitu saja dan sudah masuk ke wilayah tanggung jawab manajemen. Karena itu, direksi bank tersebut harus diganti. Dia mencurigai kasus yang hampir sama dengan BNI juga terjadi di bank-bank BUMN lain karena lemahnya pengawasan internal. Dia meminta investor mempertimbangkan risiko itu, sehingga tidak overestimate terhadap penawaran umum perdana (IPO) saham BRI yang akan digelar dalam waktu dekat. (wa-82e) |