
| Selasa, 4 November 2003 | Ekonomi |
Bisnis Konveksi Masyarakat Desa Tingkir Lor Laris hingga Luar Jawa
SIAPA menyangka bahwa pemasaran produk home industry konveksi yang dilakukan masyarakat Desa Tinggkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, sudah mencapai hingga Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Tidak jelas sejak kapan usaha konveksi sebagian masyarakat Desa Tingkir Lor itu dimulai. Ada pengusaha yang mengungkapkan usaha tersebut dimulai pada 1980-an dan ada pula yang mengatakan pada awal 1990-an. Setiap bulan ratusan hingga ribuan kodi pakaian berbagai jenis dibawa oleh pedagang perantara ke daerah-daerah tersebut. Jutaan rupiah omzet perdagangan juga mengalir, baik ke tangan pedagang perantara maupun ke tangan pemilik usaha. Pedagang perantara tersebut pada umumnya adalah warga sekitar Karanggede Kabupaten Boyolali yang sering berjualan pakaian hingga ke Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Mereka memilih daerah-daerah tersebut sebagai pangsa pasar produk konveksi mereka karena di Jawa produk tersebut kurang diminati. Usaha konveksi di Desa Tingkir Lor sebagian besar menggunakan bahan kain sisa potongan pabrik yang bernilai ekonomis rendah. Namun, bukan berarti produk pakaian jadi yang dihasilkan masyarakat tidak bernilai ekonomis tinggi. Kain dari beberapa pabrik di Salatiga dan sekitar Kabupaten Semarang tersebut sering diantar sendiri oleh para perantara. Harga yang ditawarkan pada umumnya lebih murah karena panjang kain sisa itu maksimal tinggal 5 meter. Berbagai jenis pakaian mulai celana pendek untuk laki-laki dan perempuan diproduksi, hingga berbagai jenis kemeja dan busana wanita. Bahkan, untuk meningkatkan harga jual pakaian, para pemilik konveksi menambah bordiran aneka macam dan warna pada produk mereka. Sejumlah partai politik di kabupaten lain menjelang pemilu juga memesan kaus partai mereka di Tingkir Lor. Hal yang sama juga mereka lakukan pada pemilu yang lalu. Setiap keluarga yang memiliki usaha konveksi paling tidak memiliki dua mesin jahit, baik yang digerakkan secara manual maupun dengan listrik. Tenaga kerja mereka minimal tiga orang, biasanya masih punya hubungan keluarga. Mulai Berkembang Salah satu pemilik usaha konveksi yang cukup terkenal adalah Hj Ning, yang memiliki omzet usaha Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan. Dia memiliki mesin jahit listrik lebih dari enam buah. Usaha konveksinya mulai berkembang pada saat krisis ekonomi pada 1997-an. Permintaan produk pakaian jadinya meningkat hingga ratusan kodi setiap bulan. Namun, peningkatan tersebut bukan berarti dia meninggalkan kualitas produk. Sebab, para pembeli pakaian pada umumnya memahami kualitas produk jahitan yang bagus dan yang tidak. Dia membeli bahan baku kain mulai Rp 6.500/kg dengan kualitas biasa dan 17.500/kg untuk kain berkualitas baik. Kualitas tersebut jelas memengaruhi harga akhir produk jadi yang ditawarkan kepada pembeli. ''Di Desa Tingkir Lor ada tiga usaha konveksi yang mulai berkembang besar termasuk milik saya. Namun, jika tidak dapat mempertahankan kualitas produk, kepercayaan pedagang perantara akan hilang dan akhirnya akan meninggalkan produk usahanya,'' tutur dia. Kemajuan perkembangan usaha tersebut membuat Dinas Koperasi dan Deperindag sering memberikan bantuan berupa penyuluhan dan dana.(Surya Yuli P-82e) |