
| Selasa, 4 November 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Karyawan Lembur Ngepaki SarungTEGAL - Peningkatan permintaan sarung ibarat air bah. Sebab, datangnya begitu tiba-tiba dan tak terduga. Padahal setahun sebelumnya, pasar lokal sarung ibarat mati suri. Permintaan pasar meningkat mulai awal Ramadan ini sehingga puluhan karyawan PT Asaputex, Kota Tegal, terpaksa kerja lembur sampai sahur. Direktur PT Asaputex Nusantara Jamaludin Ali Alkatiri, kemarin mengatakan, dirinya tak begitu memahami kenapa permintaan lokal meningkat. ''Yang pasti, ini berkat Allah SWT di bulan suci ini dan doa karyawan serta mitra kami,'' ujarnya. Dia yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia tekstil mengakui kondisi ini tak diduga. Sebab sebelumnya, dia hampir putus asa untuk memacu permintaan pasar lokal. Kelesuan itu mungkin berkaitan dengan faktor situasi, khususnya menurunnya daya beli masyarakat. Hampir semua pengusaha tekstil di tanah air, jelas dia, pesimis dengan kondisi itu. Bahkan belakangan ini, acapkali terdengar ada pengusaha mem-PHK pekerjanya. Karena pasar lokal sepi, agar karyawan tak terkena PHK, Jamaludin kemudian banting setir dengan membidik pasar ekspor, khususnya ke Afrika. ''Untungnya tidak banyak, tapi lebih baik sedikit bersusah-susah mencari pekerjaan daripada memberhentikan karyawan,'' ujarnya. Namun kondisi berbalik, menjelang puasa, permintaan lokal naik pesat. Menurut penjelasan Jamal, panggilan akrab Jamaludin, akibat pasar lokal membaik, hampir semua jenis sarung palekat habis terjual. Untuk memenuhi permintaan pasar, puluhan karyawannya terpaksa dikerahkan untuk lembur sampai sahur. Anehnya lagi, kata Jamal, dari sejumlah merek dan jenis sarung yang diproduksinya seperti Riezca, Rutob, yang paling laris adalah yang bermerek Pohon Korma. Apa karena nama itu berkait pula dengan tradisi puasa, dia tak mengetahui secara persis. Sebab, rezeki yang datang itu merupakan hikmah puasa. Dia pun tak mengambil banyak keuntungan. Jamal mengatakan, karyawan kerja lembur sampai sahur juga karena membaiknya pasar lokal secara dadakan. Untuk mengepak barang sampai sahur, Jamal mengerahkan sekitar 50 karyawan. Tiap orang mendapat tambahan honor Rp 50.000. Beberapa pekerja seperti Salim, Hadi, Kholik mengaku, meski lelah dan mengantuk, dia bangga bisa membantu perusahaan. ''Kami memulai kerja lembur seusai shalat tarawih hingga sahur,'' ujar Ubed. (aj-58n) |