
| Selasa, 4 November 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Pasar Malam Kajen Diprotes
KAJEN - Sekitar seratus lebih pedagang yang mengaku mewakili 300 pedagang sandang dan kelontong Pasar Kajen, kemarin mendatangi Kantor Setda Kabupaten Pekalongan. Mereka menuntut agar pasar malam atau bazar sandang yang digelar kelompok pedagang sandang keliling di Alun-alun Kajen segera ditutup. Begitu sampai di Sekretariat Pemkab, mereka minta agar bisa bertemu dengan Bupati Drs Amat Antono. Mereka mengaku akan menyampaikan keluhan soal keberadaan pasar malam tersebut. Kedatangan bulan Ramadan, kata pedagang, sudah lama dinanti. Sebab, pada bulan itulah mereka bisa panen dan mendapat penghasilan lumayan. Namun penantian itu akhir-akhir ini sia-sia. Sebab, banyak pembeli yang justru tersedot ke pasar malam yang ada di Alun-alun Kajen. Para pedagang itu menyesalkan sikap Pemkab yang memberikan izin pembukaan pasar malam selama hampir satu bulan penuh. ''Jika pelaksanaannya cuma satu minggu, kami tak masalah. Ini hampir satu bulan penuh hingga malam Lebaran. Otomatis mematikan kami,'' ujar salah satu pedagang kepada wartawan. Setelah negosiasi dengan beberapa petugas di Setda, sembilan wakil pedagang akhirnya bisa menemui Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Drs Eddy Toto MM untuk berdialog. Tidak Melindungi Dalam dialog itu, para pedagang ngotot meminta kepada Pemkab agar segera menutup pasar malam tersebut. Mereka menyesalkan sikap Pemkab yang tidak melindungi pedagang dengan memberikan izin pasar malam terlalu lama. ''Kenapa Pemkab tidak melindungi pedagang seperti kami,'' ujar Pudjiastuti (38), salah satu wakil pedagang. Ramadan yang sudah dinanti oleh para pedagang, kata Pudjiastuti, menjadi sia-sia. Sebab, banyak pembeli yang beralih ke pasar malam yang buka sejak pukul 15.00. ''Saya heran, kenapa Pemkab mengizinkan pasar malam, padahal jelas mematikan kami. Sebab, pasar malam itu diadakan sejak awal Ramadan sampai malam Lebaran,'' ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Dialog itu pun sempat diwarnai perdebatan. Sebab, Eddy Toto yang mewakili Bupati mengaku tak bisa memutuskan secepatnya. Sementara itu pedagang minta agar tuntutannya dipenuhi saat itu juga. Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi dalam waktu tiga hari, para pedagang mengancam tak akan lagi membayar retribusi pasar. Sebab, Pemkab dinilai tidak lagi melindungi keberadaan mereka. Tidak Janji Kepada Suara Merdeka, Eddy Toto mengaku sulit memenuhi keinginan mereka. Namun dia berjanji akan berbicara dengan para pedagang di pasar malam dan menyampaikan aspirasi pedagang Pasar Kajen. ''Biarlah mereka langsung menyampaikan kepada Bupati. Bagi kami juga serba sulit, sebab pedagang di pasar malam juga warga daerah ini,'' ujarnya. Setelah beberapa saat menunggu, sembilan wakil pedagang tersebut akhirnya bisa menghadap Bupati Drs Amat Antono di ruang kerjanya. Hingga berita ini ditulis, pertemuan tertutup tersebut masih berlangsung. Sementara itu pedagang yang lain, satu per satu pulang. (G16-49n) |