logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 November 2003 Budaya  
Line

Kerendahan Hati Sindhen Londo

SENJA itu, semilir angin yang bertiup di sekitar Pendapa Taman Budaya Surakarta (TBS) lumayan kencang. Angin itu, kemudian mengurai rambut pirang sesosok gadis yang sedang duduk di emperan pendapa yang sering digunakan untuk menggelar kegiatan budaya tersebut.

Esther Jane Wilds, demikian nama gadis yang baru saja terurai rambutnya itu. Melihat postur tubuh, warna kulit, rambut, dan hidung mancung yang menghiasi wajah cantiknya, orang akan mudah mengenalinya sebagai gadis bule.

Namun tak segampang itu, orang bisa menebak apa yang dilakukannya ketika berada di Solo selama ini. Apalagi, profesi yang dilakukannya itu termasuk dalam kategori yang nyleneh untuk ukuran orang asing. Profesi itu, sekaligus juga bisa membuat orang yang melihatnya akan berdecak kagum.

Betapa tidak? Gadis asal Stoke-Sub-Hamdhon Inggris itu adalah seorang sindhen Jawa, atau swarawati yang sering mendukung pergelaran karawitan (klenengan) dan wayang kulit purwo gaya surakartanan.

Ya, dengan balutan busana kebaya (tradisi Jawa) sama dengan swarawati lain, dia memang sering ''menghiasi'' pergelaran karawitan atau wayang kulit purwo di berbagai tempat. ''Tapi saya masih belum bisa bagus seperti sindhen lain yang ada di sini. Saya masih harus banyak belajar lagi, agar bisa seperti mereka,'' ujarnya merendah.

Cengkok Tembang

Esther memang lebih banyak merendah saat itu. Padahal, banyak seniman yang mengakui kemampuannya dalam bidang tersebut, termasuk Ki Purbo Asmara SKar MHum, seorang dalang yang selama ini paling sering mengajak Esther pentas di berbagai tempat.

''Walaupun orang Eropa, tapi dasar suaranya bagus untuk ukuran pesindhen Jawa. Dan itu (potensi suara tersebut), masih didukung dengan kemampuannya yang cepat sekali menyerap materi,'' ujar dalang asal Kampung Gebang, Kelurahan Kadipiro, Surakarta tersebut.

Karena telah memiliki dasar suara yang baik, lanjutnya, maka dalam hal cengkok tembang Esther juga tidak kalah dengan pesindhen asli dari Jawa. Bahkan saat gadis yang mengaku masih lajang itu sedang melantunkan tembang, kadang juga bisa memunculkan cengkok khas yang mungkin hanya dimilikinya saja.

''Kalau hanya ngelak-ngeluk swara lazimnya cara pesindhen, saya kira dia tidak akan kesulitan untuk menerapkannya. Apalagi dengan bekal itu tadi -cepat menyerap materi-, asalkan diajarkan, dia akan bisa dan hasilnya pasati bagus,'' papar Ki Purbo, yang mendapat julukan dalang priyayi tersebut.

Bagi Ki Purba Asmara, selain bagus sebagai seorang sindhen, ada alasan lain mengapa dia sering mengajak Esther manggung. Menurut dia, alasan itu berhubungan dengan kondisi yang ada pada diri Esther. ''Bagaimanapun, kapasitas dirinya sebagai orang asing menjadi daya tarik tersendiri. Dan itu bisa mendukung kesuksesan saya dalam menggelar kelir (wayang),'' ujar Purba menjelaskan alasannya.

Namun demikian, Esther tetaplah Esther. Seorang sindhen yang tetap rendah hati, meski kemampuannya telah diakui di kalangan para seniman. Gadis tersebut tak ingin, pengakuan itu kemudian menghentikan niatnya untuk belajar. Itlah sebabnya, Ada atau tidak ada pengakuan akan kemampuannya, semangatnya untuk terus belajar tetap menyala.

Sama seperti saat kali pertama dia masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta 2001 lalu. Atau sama pula dengan saat kali pertama dia ngangsu kawruh (belajar) kepada Sudarti, pesindhen asal Solo yang sampai sekarang masih terus mengasah kemampuanya dalam berolah vokal.

''Saya tidak hanya ingin sekadar bisa wangsalan dalam tembang Jawa; setiap kali melafalkan syair riris halda palwa, itu pasti jawabnya dresing karsa. Tidak, tidak hanya demikian. Saya ingin bisa lebih dari itu,'' ujarnya menyemburatkan sebuah prinsip yang pantas dihargai. (Wisnu Kisawa-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA