logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Sala  
Line

Jambore Pramuka Bikin Pemancar Radio FM

MEMASUKI era sistem komunikasi global, hak untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi terbuka luas. Karena ingin memperoleh informasi dan berkomunikasi secara cepat dan murah, Dewan Kerja Cabang (DKC) Gerakan Pramuka XI-14 Sragen mendirikan pemancar radio FM Wira Karya Saksi (Wiyasa).

Radio yang bekerja pada gelombang 95,5 MHz itu untuk mempermudah komunikasi dan memberikan informasi ke anggota pramuka. Apalagi di Sragen ada 10.000 anggota pramuka aktif.

Kendati menggunakan pemancar bertenaga kecil, hanya 100 Watt, radio yang sering menyiarkan kegiatan kepramukaan di Bumi Perkemahan Kiai Srenggi, Sambirejo, di sisi baratlaut Gunung Lawu itu dapat menjadi alat penyampai informasi efektif, murah, dan menyenangkan.

''Kegiatan kepramukaan di Bumi Perkemahan Kiai Srenggi bisa terpantau melalui radio,'' kata Rini (16), peserta perkemahan Jambore Cabang 2003, kemarin. Namun pemancar radio garapan pramuka itu hanya diaktifkan saat ada kegiatan kepramukaan.

Sukirman, seorang kru Radio Wiyasa menuturkan semula radio milik pramuka itu bernama Radio Tunas Asri. Namun berdasar pertimbangan dan masukan anggota pramuka namanya diubah menjadi Wiyasa. Alumnus SMU 1 Gemolong itu mengelola radio bersama ketiga rekannya. Yakni, Juwandi (18), Marwoto (19), dan Eka (18), siswa kelas III SMUN 3 Sragen.

Punya Buletin

Da menyatakan radio itu menyampaikan informasi kepramukaan secara cepat dan tepat, terutama saat Jambore di Bumi Perkemahan Kiai Srenggi, Desa Dawung, Sambirejo, 22 - 25 Oktober 2003.

Bumi perkemahan itu sangat luas. Jadi jika pengumuman disampaikan melalui pengeras suara (mikrofon) sulit didengar. Apalagi jika turun hujan. Sebaliknya, jika pengumuman disampaikan lewat radio FM pada gelombang 95,5 MHz, penerima yang membawa radio saku FM bisa menerima pesan dan pengumuman penting dengan suara jelas.

Jika tidak ada tugas kepramukaan, siaran radio diselingi lagu-lagu pop, perjuangan, dan campursari. Setiap regu peserta jambore cabang atau setiap tenda diwajibkan membawa minimal dua unit radio saku bergelombang FM.

Ke mana pun pergi, regu dalam tenda wajib memasang radio FM. Misalnya, ada regu bertugas mencari jejak di hutan karet dan meninggalkan tenda dengan api masih menyala, bisa dipanggil untuk memberesi kemah terlebih dulu.

Kendati peralatan pemancar sederhana dengan tinggi antena tak lebih 25 m ternyata Radio Wiyasa bermanfaat dan menumbuhkan motivasi dan kreativitas anggota pramuka. Program acara radio itu bervariasi dan mengudara pukul 04.00 - 24.00. DKC kini juga menerbitkan Buletin Jambore. (Anindito AN-14g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA