logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Berita Utama  
Line

Mahathir Mengangkat Kejayaan Malaysia (1)

Program Awal saat Dilantik, Bersihkan WC

Malaysia kini semakin diakui dalam percaturan dunia, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Semua itu tak lepas dari peran Dr Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri sejak 1981 hingga 2003. Bagaimana dia memimpin negeri berpenduduk 22 juta jiwa itu, serta hasil-hasil karya besarnya, wartawan Suara Merdeka Muhammad Ali dari Kualalumpur mengirimkan laporannya yang dimuat secara bersambung.

JIKA Tun Abdul Razak dianggap sebagai Perdana Menteri Malaysia (1970-1976) yang membawa kaum Melayu atau bumiputra keluar dari kemiskinan dan ketinggalan dari kaum lain, Dr Mahathir dapat dikatakan membawa negara itu ke arah kemajuan dalam segala bidang.

Dia telah berhasil memimpin Malaysia ke arah modernisasi dan negara maju. Dia punya cita-cita untuk melihat Malaysia setaraf dengan negara-negara maju dalam segi pembangunan dan kesejahteraan kehidupan rakyat.

Dia banyak meletakkan dasar-dasar untuk menuju ke arah itu berdasarkan Wawasan 2020. Program ini bertujuan mewujudkan Malaysia menjadi negara maju dengan caranya sendiri, tanpa terikat dengan cara dan corak negara-negara maju yang ada sekarang.

Kemajuan yang dicita-citakan adalah kemajuan sempurna, yang tidak semata-mata diukur dari segi pencapaian lahiriah, tetapi meliputi perwujudan satu masyarakat yang sempurna dengan nilai moral dan etika yang tinggi.

Wawasan 2020 itu tidak hanya slogan semata, tetapi menjadi kerangka kerja tindakan bagi setiap rakyat untuk mengambil langkah tertentu. Ini untuk memastikan Malaysia menjadi negeri yang benar-benar maju dan makmur.

Mahathir adalah tokoh yang pandai menggugah semangat rakyatnya. Dalam berbagai kesempatan dia mengemukakan, rakyat Malaysia mampu menandingi bangsa-bangsa lain. Dia memopulerkan slogan "Malaysia Boleh".

Slogan ini telah membawa semangat baru bagi semua rakyat dari berbagai golongan untuk memajukan diri. Hasilnya, Malaysia kini berubah dari sebuah negara yang bergantung pada hasil pertanian menjadi sebuah negara industri serta berteknologi.

Mobil buatan Malaysia, Proton, pembangunan Koridor Raya Multimedia, perkembangan industri berat dan lain-lain adalah bukti keberhasilan yang diperkenalkan oleh Perdana Menteri Keempat Malaysia itu. Negeri jiran ini kini juga bisa berbangga, karena banyaknya mercusuar tanda keberhasilan pembangunan, seperti Menara Kembar Petronas, Lapangan Kapal Terbang Internasional Kualalumpur, dan kompleks pusat pemerintahan di Putrajaya.

Dalam ketahanan ekonomi, Malaysia juga dianggap yang terbaik dari negara-negara lain. Mahathir dinilai sukses menanggulangi krisis ekonomi yang juga melanda negara-negara lain, termasuk Indonesia pada pertengahan 1997 hingga 1998.

Pada waktu itu, Mahathir dengan penuh keyakinan mengambil kebijakan rezim seleksi pertukaran uang asing terpilih (selective exchange control regime). Kebijakan yang dipilih Mahathir itu ternyata memberi kekuatan kepada Malaysia dalam melewati krisis ekonomi.

Menurut pandangan Mahathir pada waktu itu, krisis luar biasa itu merupakan puncak dari konspirasi spekulator mata uang dengan dukungan bank-bank antarbangsa dalam membuat perencanaan yang begitu rapi untuk meruntuhkan ekonomi Malaysia.

Mahathir adalah sosok pemimpin yang tidak hanya memberi perintah. Sejak kebijakan keuangan itu diterapkan pada 1 September 1998, dia senantiasa mengawalnya. Dan ternyata berhasil, bukan hanya karena dia berani menentukan pilihan itu, melainkan juga berkat kerajinan dan kecakapannya dalam memantau situasi ekonomi setiap hari. Langkah ini diambil agar dapat mengambil tindakan segera untuk menangkis ancaman dan memperbaiki keadaan bilamana perlu.

Tindakan dia yang menolak bantuan IMF waktu itu dikecam hebat oleh masyarakat Barat dengan sindiran sinis, "Apa seorang dokter tahu soal ekonomi?"

Sekarang ekonomi Malaysia semakin kukuh dan dianggap sebagai negara berkembang yang paling maju. Malah IMF terpaksa harus mengakui kehebatan Malaysia dan Mahathir. Meski seorang dokter, Mahathir sebenarnya pandai berniaga. Ini bukan sesuatu yang mengherankan, karena pada zaman Jepang, dia berdagang di Pekanbaru.

Mengubah Sikap

Kebangkitan Malaysia tak lepas dari kepemimpinan Mahathir dalam mengubah sikap dan budaya rakyat Malaysia untuk berdisiplin dari soal yang kecil sekalipun. Sejak awal dilantik menjadi perdana menteri, dia menyatakan ingin melihat WC-WC di Malaysia lebih bersih. Hal itu diungkapkan dalam sidang kabinetnya yang pertama.

Sebagian orang menganggap, ungkapannya itu sebagai gurauan semata, tetapi kemudian dia meninjau sendiri WC umum, parit, dan selokan. Ini bukti dia serius dalam memperhatikan masalah-masalah tersebut.

Dia menggunakan pendekatan seorang dokter untuk menangani permasalahan rakyat dan negara. Bagi seorang dokter, sebelum melakukan suatu pembedahan, mesti terlebih dulu ada pembersihan.

Sebelum pemikiran rakyat dibedah, mereka mesti dilatih untuk mengutamakan kebersihan yang merupakan asas disiplin. Setelah WC dan selokan dibersihkan, satu demi satu perubahan diperkenalkan untuk mengubah sikap para pegawai negeri dan rakyat.

Perubahan waktu yang dia canangkan, serta penyeragaman waktu Malaysia Timur dan Malaysia Barat adalah pembaharuan awal yang bertujuan mengubah sikap rakyat-nya supaya menjadi pekerja yang rajin, berdisplin, dan berdedikasi. Perubahan waktu itu adalah mempercepat 30 menit waktu di Semenanjung untuk disamakan dengan waktu di Serawak dan Sabah.

Pemerintahan Mahathir adalah era mengubah sikap dan meniup semangat, mencairkan kebekuan pikiran, dan memulihkan semangat yang lemah, yang merupakan warisan peninggalan penjajah yang belum sepenuhnya diatasi.

Dalam mengubah watak rakyatnya, dia juga memanfaatkan dunia pendidikan. Dr Mahathir yang pernah menjadi menteri pendidikan pada 1974 melakukan berbagai pembaharuan di dunia ini.(64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA