logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Berita Utama  
Line

Pemilu 2004

Akbar Bantah Dongkrak Popularitas

  • Soal Kunjungannya ke Daerah-daerah
SALAMI KORBAN: Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir H Akbar Tandjung menyalami Agus Karyanto (36), salah seorang kader partai itu yang menjadi korban bentrok parpol di Batang. Agus yang sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari, sengaja menemui Akbar di Kantor DPD Partai Golkar Jateng Jumat (31/10), dan menceritakan peristiwa penganiayaannya. (43)

SEMARANG- Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung tampaknya tengah berusaha untuk mendongkrak popularitasnya di arena Konvensi Partai Golkar untuk pemilihan calon presiden. Terutama di daerah Jateng yang tergolong jeblok.

Namun dugaan itu ditepisnya sewaktu melakukan kunjungan Safari Ramadan di kantor DPD Golkar Jateng, kemarin. Kepada wartawan, ia menjelaskan kedatangannya dalam rangka silaturahmi Ramadan, dan menuntaskan kunjungan Bhakti Golkar. Ia mengaku sebelumnya sudah mengunjungi beberapa daerah di Jatim, sekarang giliran Jateng dan setelah itu NTT.

''Bukan dalam rangka memompa (popularitas) karena konvensi kemarin. Kalau pun ada, untuk memompa kader dalam rangka Pemilu 2004 mendatang,'' bantahnya. Dia menjelaskan, saat ini lebih memfokuskan pada penggalangan dan pemenangan Pemilu 2004. Hal itu lebih signifikan daripada Konvensi Partai Golkar untuk pemilihan calon presiden.

Menanggapi dugaan money politics, terkait kemenangan Prabowo Subianto dalam Konvensi Golkar DPD Jateng beberapa waktu lalu, mantan Ketua HMI ini menyerahkan masalah ini kepada panitia konvensi. Dia pun menganggap tidak ada masalah soal itu.

Soal Bentrok

Mengenai insiden bentrokan antara kader Golkar dan PDI-P di Batang, Tabanan, dan Buleleng, Akbar yang menjadi terdakwa kasus dana nonbudgeter Bulog ini juga menyerahkan penyelesaiannya kepada aparat hukum.

''Segala sesuatunya harus diselesaikan secara hukum, karena negara kita merupakan negara hukum. Tapi secara fisik, kader kita memang diserang, dan aparat harus menangkap pelakunya, karena mereka sudah melanggar hak asasi,'' kata suami Nina Tandjung ini.

Menjawab pertanyaan tentang pembicaraaannya dengan elite PDI-P terkait kasus bentrok antarkader dua partai itu, Akbar mengaku belum melakukakannya. Pembicaraan antarelite partai tentang masalah ini belum dilakukan. Demikian pula mengenai pembicaraan mengenai persiapan dan keterlibatan dalam Pemilu 2004.

Sementara menanggapi imbauan Panwaslu, agar bendera Partai Golkar di berbagai tempat diturunkan, dia menganggapnya tidak relevan. Bahkan, hal itu tidak mencerminkan adanya demokrasi.

Menurut dia, pengibaran bendera partainya di berbagai tempat tidak bermasalah. Masing-masing partai pun juga mengibarkan benderanya. Karena itu, masing-masing parpol harus menghormati perbedaan yang ada.

'' Wajarlah, seperti saya datang hari ini. Bendera Golkar ada di mana-mana. Partai lain pun sama, misalnya saat Ibu Megawati datang. Untuk diketahui, saat di Buleleng, bendera kami banyak. Tetapi bendera parpol lain lebih banyak, lebih besar, dan lebih tinggi. Jadi, tidak ada aturan yang dilanggar,'' katanya.

Belum selesai diwawancarai, salah seorang ketua DPP Slamet Effendi Yusuf langsung memangil Akbar. Ia diminta untuk mendekati salah seorang korban bentrok kader Golkar-PDIP di Batang, Agus Karyanto (36). Kepada Akbar, Agus lantas wadul menceritakan kronologi kejadian itu. Setelah itu, Akbar kemudian menuju aula untuk melanjutkan acara di kantor DPD. (H6-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA