logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Berita Utama  
Line

Dr M ke Pak Lah Mulus

  • Asia Memuji, Barat Bungkam
TERIMA BUKU : Perdana Menteri Malaysia yang baru Abdullah Ahmad Badawi (kanan) memperlihatkan buku biru berisi dokumen pribadi Mahathir Mohamad, yang baru saja diterimanya dari pendahulunya itu, di Putrajaya, Kuala Lumpur, kemarin. (43)

KUALALUMPUR- Pergantian kepemimpinan secara cantik, mulus, dan mengundang pujian banyak pihak betul-betul terjadi di Malaysia, Jumat (31/10). Dengan disaksikan Dr Mahathir Mohamad, Abdullah Ahmad Badawi diambil sumpahnya oleh Raja Syed Sirajuddin Jamalullail menjadi Perdana Menteri Malaysia. Dia menggantikan Mahathir yang secara legawa melepas jabatan yang telah dia pegang selama 22 tahun.

Pelantikan itu juga disaksikan segenap anggota kebinet, anggota parlemen, Panglima Angkatan Tentara Malaysia, dan Ketua Polisi Negara. Abdullah Badawi yang sering disapa dengan Pak Lah, merupakan perdana menteri kelima setelah Tunku Abdul Rahman (1967-1970), Tun Abdul Razak (1970-1976), Tun Hussein Onn (1976-1981), dan Dr Mahathir Mohamad (1981-2003).

Ini dapat dikatakan sebagai pergantian kepemimpinan yang sangat mulus di dunia. Tak ada gejolak politik dalam negeri. Tak ada pula gejolak ekonomi.

Wartawan Suara Merdeka Muhammad Ali melaporkan dari Kualalumpur, situasi keamanan tetap tenang, masyarakat tetap melaksanakan aktivitas sehari-hari. Tak ada protes, tak ada demo. Yang ada adalah ungkapan perasaan bangga dan terima kasih kepada Mahathir, karena berkat kepemimpinannya kini Malaysia menjadi negara maju di bidang ekonomi, teknologi, industri, dan disegani negara-negara lain. Juga ungkapan harapan terhadap Abdullah Ahmad Badawi untuk meneruskan apa yang telah dilakukan Mahathir.

Upacara pengambilan sumpah Abdullah itu berlangsung di Istana Negara, Kualalumpur. Upacara berlangsung relatif singkat, setengah jam, dari pukul 15.00 hingga 15.30 waktu setempat. Tak ada pidato dalam acara itu, selain pembacaan dan penandatanganan sumpah oleh Abdullah serta penganugerahan penghargaan bagi Mahathir dan istrinya.

"Wallahi, saya Abdullah Ahmad Badawi bersumpah akan menunaikan kewajiban itu dengan jujur," demikian antara lain bunyi sumpah yang dibaca Abdullah.

Mahathir menerima penghargaan dari Sri Maharaja Mengkunegara berupa gelar kebesaran Tun, sehingga namanya kini menjadi Tun Dr Mahathir Mohamad. Istrinya, Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, menerima penghargaan dari Sri Setia Mahkota (istri Raja) berupa gelar kebesaran Tun, sehingga nama lengkapnya kini menjadi Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali.

Sehabis acara pengambilan sumpah, Mahathir dan Abdullah sama-sama menuju ke kantor perdana menteri di Putrajaya, kawasan baru pusat pemerintahan yang dibangun begitu megah. Di kantor itu, Mahathir Mohamad menyerahkan setumpuk arsip kertas kerja kepada Abdullah dan mengadakan pembicaraan empat mata.

Dan, tepat pukul 17.00 waktu setempat (16.00 WIB), Mahathir keluar dari kantor yang menandai berakhirnya dia memangku tugas perdana mentari. Banyak warga Malaysia menunggu di halaman gedung yang megah itu untuk bersalaman dan memberi hormat kepadanya.

Abdullah Ahmad Badawi yang lahir pada 26 November 1939 adalah tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam politik dan pemerintahan. Di Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), kariernya dititi dari bawah hingga mencapai posisi puncak sebagai Presiden UMNO menggantikan Mahathir.

Reaksi Dunia

Sementra itu, pengunduran diri Mahathir, kemarin, mendapat sambuat beragam. Para pemimpin Asia memujinya namun Barat bungkam setelah pernyataan Mahathir tentang Yahudi membuat marah internasional.

AS, Eropa Barat, Australia, dan tentunya Israel, protes atas pidato Mahathir pada satu KTT Islam dua pekan sebelum dia mundur. Kala itu, dia menyebut kaum Yahudi mendominasi dunia.

Saat meninggalkan kantornya untuk kali terakhir, Mahathir ditanya wartawan apakah dia punya nasihat untuk Presiden AS, George W Bush. Dia menjawab: ''Tak ada gunanya mengatakan sesuatu yang tidak benar.''

Bush mengatakan dia marah pada Mahathir atas komentarnya tentang Yahudi saat mereka bertemu pada satu KTT di Bangkok awal bulan lalu. Mahathir membantahnya, dan juga mempertanyakan kebenaran AS menginvasi Irak.

As dan negara-negara Barat lainnya tidak banyak komentar tentang hari bersejarah bagi Malaysia itu.

''Kedutaan belum menerima pesan apa pun dari Gedung Putih,'' kata seorang pejabat kedutaan di Kuala Lumpur. Dia menambahkan, banyak staf Kedubes lebih memfokuskan diri pada festival Halloween ketimbang hari terakhir Mahathir menjabat PM.

Mahathir juga pernah membuat bingung Barat ketika mantan deputinya, Anwar Ibrahim, dipenjara selama 15 tahun atas tuduhan menyalahgunakan kekuasaan dan sodomi. Washington menyebut pengadilan atas Anwar itu bernuansa politik.

Anwar, dalam respons tertulisnya kepada Reuters, melepaskan tembakan kepada Mahathir dari penjara. Dia menuduh Mahathir menghancurkan pemerintahan publik. Reaksi dari Australia, yang digambarkan Mahathir sebagai ''jenis pemindahan dari daerah lain'', juga bungkam.

''Saya tidak punya komentar kecuali menekankan kembali kenyataan bahwa hubungan antara Australia dan Malaysia sangat panjang, hubungan itu sangat dalam,'' kata PM John Howard kepada stasiun radio Melbourne.

Bekas penguasa kolonial Inggris, yang mengalami sikap perlawanan Mahathir saat dia melancarkan kampanye ''Beli Inggris Terakhir'' pada 1980-an, melakuakn protokol diplomatik.

''Pesan keinginan baik dikirim kepada Badawi. Ini merupakan praktik biasa mengirim seseorang yang akan menjadi pemimpin,'' kata pejabat senior di Komisi Tinggi Inggris di Kuala Lumpur.((A19, niek, rtr, ben-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA