logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Kerupuk Sijeruk Hanya Mengandalkan Terik Matahari

MUSIM kemarau merupakan berkah bagi sebagian orang. Sinar matahari yang terpancar penuh adalah pengharapan bagi sejumlah pengusaha kerupuk petis di Dukuh/Kelurahan Sijeruk, Kendal Kota. Hasil dari beberapa industri rumahan berupa kerupuk setengah jadi memenuhi halaman-halaman rumah warga, hingga jalan kampung.

Sejak 1980-an, beberapa warga di kampung yang terletak di tengah persawahan itu sudah dikenal sebagai perajin kerupuk petis. Jika saat itu hanya ada dua atau tiga warga yang berkecimpung dalam usaha kerupuk, kini telah berkembang menjadi 12 pengrajin.

Kerupuk petis yang awalnya hanya diproduksi oleh Ny Asmiyatun dan Basari, sekarang juga sudah ditekuni beberapa warga setempat. Kerupuk petis adalah makanan ringan berbahan baku utama tepung tapioka yang diberi campuran bumbu dapur, seperti bawang, ketumbar, garam, dicampur petis atau olahan rebon (bibit udang lokal).

''Jika penjemuran tidak maksimal lantaran sinar matahari kurang, kerupuk setengah jadi yang dihasilkan kualitasnya berkurang. Kadar air tidak sepenuhnya mengering, sehingga memunculkan jamur,'' ujar Sapari (51) warga Sijeruk yang baru tiga tahun lalu menekuni pekerjaan membuat kerupuk petis.

Di musim penghujan atau saat cuaca kurang mendukung lebih baik tidak memaksakan membuat kerupuk petis. Untuk membuat kerupuk setengah jadi dibutuhkan penjemuran di bawah terik matahari selama dua hari.

Pameran

''Meski belum dapat dijadikan gantungan hidup, hasil membuat kerupuk ini cukup membantu keluarga kami. Setiap satu kilogram tepung tapioka dapat menghasilkan kerupuk petis satu kilo, asalkan tepung yang digunakan juga berkualitas.''

Bersama istrinya Ny Asiah (45), bapak tiga anak tersebut kini telah memiliki tiga tenaga pembantu. Dia menjelaskan, harga 50 kilogram tepung tapioka berkisar Rp 85.000, sedangkan kerupuk hasil produksinya dijual Rp 3.500 per kilogram.

''Kami masih harus mengeluarkan biaya untuk membeli bumbu dan kayu bakar, mengupah tenaga kerja sekaligus menanggung makan dan rokok. Setelah dipotong biaya operasional, dalam memproduksi 50 kilogram tepung tapioka, kami memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 10.000.''

Dia mengemukakan, keuntungan yang diperoleh itu akan semakin besar jika penjualannya lancar. ''Dalam satu minggu, kami mampu memproduksi dua ton kerupuk setengah jadi. Dalam penjualannya, kami sangat menggantungkan bakul yang datang ke sini. Kerupuk ini disetor ke Kaliwungu.''

Staf Kelurahan Sijeruk Sri Wahyuningsih mengemukakan, pemasaran kerupuk petis di wilayahnya dikoordinir oleh salah seorang perajin kerupuk setempat. ''Namun kelurahan tidak lepas begitu saja, contoh kerupuk Sijeruk diusahakan ikut dalam pameran, khususnya di tingkat lokal. Untuk menjaga mutu, bersama Dinkes dan Disperindag, setiap bulan secara rutin memberikan penyuluhan kepada perajin.'' (Setyo Sri Mardiko-83)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA