
| Sabtu, 1 November 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Penggelontoran Air Diusulkan Digilir
GROBOGAN - Untuk menyelamatkan tanaman padi di Grobogan dan sekitarnya, petani mengusulkan agar Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Jateng dan Dinas PU Pengairan tetap mendistribusikan air dari Waduk Kedungombo. Namun, pendistribusiannya tidak digelontorkan 50 m3/detik, perlu dibatasi seminim mungkin dengan cara digilir. Dengan demikian belasan ribu hektare tanaman padi di daerah itu tidak kekurangan air. ''Petani pada umumnya gelisah setelah diberi tahu Dinas PU Pengairan, Waduk Kedungombo akan ditutup. Sebab, elevasinya terus menurun. Mereka gelisah karena sebagian petani di Toroh dan Purwodadi telanjur menanam padi musim penghujan I,'' kata Juremi (40), petani di Toroh Grobogan, kemarin. Seperti diberitakan sebelumnya, kalau sampai 31 Oktober ini waduk itu tidak mendapat tambahan air hujan atau dari sungai-sungai sekitarnya, elevasinya semakin menurun. Karena itu, PSDA dan Dinas PU Pengairan se-Bakorlin Wilayah I Pati sepakat menutup waduk itu pada elevasi 67,58 meter. Sekarang ini elevasinya tercatat 68,30 meter, atau tinggal 0,80 cm dari batas toleransi elevasi 67,58 meter. Karena itu, tanaman padi di Grobogan, Pati, Kudus, Demak dan sekitarnya tidak mendapatkan suplai air dari waduk tersebut. Padahal, petani di daerah-daerah tersebut mulai menanam padi untuk musim tanam Oktober-Maret (Okmar). Dia menambahkan, bila dengan digilir tidak bisa dipastikan jatah untuk PDAM Grobogan dan Kota Semarang lewat irigasi Sidorejo, Sungai Serang dan Lusi akan ''direbut'' petani dengan cara dipompa dengan mesin. Tidak menutup kemungkinan di sepanjang Sungai Serang dan Lusi akan dipenuhi dengan pompa-pompa penyedot air. Sebab, hanya dengan jalan itu tanaman padi mereka dapat terselamatkan dari ancaman mati, akibat kekurangan air. ''Mereka sadar cara seperti itu mengganggu distribusi air untuk PDAM. Tetapi mereka tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan tanaman padi, kecuali menyedot jatah air bersih itu,'' ujarnya. Kalau minggu ini hujan terus turun di Grobogan dan sekitarnya, lanjut dia, besar kemungkinan belasan ribu hektare tanaman padi jenis IR 64 tersebut akan terselamatkan. Hujan belakangan ini memang jarang turun. Padahal, menurut ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Semarang sekarang ini daerah Grobogan dan sekitarnya memasuki musim hujan. Namun, entah mengapa justru jarang turun hujan. Pimpro Operasional Pemeliharaan (OP) Jaringan Irigasi Kedungombo Dinas PU Pengairan Grobogan H Margono ST MM mengatakan, permintaan petani untuk mendistribusikan air Kedungombo dengan jalan digilir itu sebagai masukan yang baik. Hanya, untuk kali ini PSDA tidak dapat memenuhi, karena elevasi waduk tersebut dalam keadaan kritis. ''Daerah hulu Kedungombo pun jarang diguyur hujan. Akibatnya elevasi waduk itu tidak dapat bertambah. Justru sebaliknya terus menurun, karena setiap detik digelontorkan untuk kepentingan tanaman pangan 50 m3,'' tuturnya. (A23-63k) |