logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Setiap Bulan PDAM Rugi Rp 225 juta

  • Kebocoran Capai 25 Persen

CILACAP - Tingkat kebocoran air di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cilacap kini mencapai 25% dari total produksi perusahaan tersebut. Akibat kebocoran itu, PDAM rugi Rp 225 juta per bulan. ''Kendati kinerjanya mulai sehat, kebocoran air PDAM masih sekitar 25%,'' kata Direktur Utama PDAM Cilacap Deddy Warella kepada Suara Merdeka, baru-baru ini.

Dia mengatakan, PDAM Cilacap sudah berusaha keras menekan kebocoran air, tapi tetap saja kebocoran mencapai 25% per bulan. Kebocoran tersebut, lanjut Deddy, merupakan gabungan kebocoran riil dan kebocoran tak riil.

Kebocoran riil adalah kebocoran karena rusaknya pipa distribusi atau instalasi dari PDAM ke rumah-rumah pelanggan yang menyebabkan air hilang begitu saja. Adapun kebocoran tak riil adalah kebocoran akibat berbagai sebab di luar kerusakan pipa distribusi dan instalasi.

''Yang termasuk kebocoran tak riil misalnya akibat meteran air tak akurat atau karena ketidaktelitian petugas pencatat sehingga jumlah antara air yang masuk dan keluar tidak sama. Ketidakseimbangan jumlah air tersebut lantas dihitung sebagai jumlah air hilang,'' papar Deddy.

Dari data di kantor PDAM diketahui, pelanggan PDAM Cilacap saat ini ada 28.581 orang. Pada bulan September, total produksi air PDAM 804.364 meter kubik.

Libatkan Pihak Ketiga

Dari jumlah tersebut yang dapat disalurkan kepada para pelanggan hanya 783.567 meter kubik. Itu berarti tingkat kebocoran 24,39%. Angka tersebut naik turun setiap bulan dengan rata-rata kebocoran per bulan 25%.

Soal solusi untuk mengurangi kebocoran tersebut, Deddy memberikan dua alternatif. Pertama, dengan mempekerjakan konsultan atau pihak ketiga sebagai petugas yang menangani kebocoran tersebut.

''Rasanya kalau kami yang mengawasi, kebocoran selalu ada di kisaran angka tersebut. Bisa jadi dengan mempekerjakan pihak ketiga kebocoran akan berkurang. Sebab, untuk setiap 1% kebocoran yang dapat ditekan pihak ketiga uang yang kami bayar ke mereka tidak sedikit,'' lanjut Deddy tanpa memerinci jumlah uang yang pasti.

Alternatif kedua, dengan mengganti meteran air yang ada dengan meteran elektronik. Langkah itu, kata Deddy, dapat meningkatkan keakuratan pencatatan jumlah air masuk dan keluar jika dibandingkan dengan tenaga manual. Dengan begitu, kebocoran tidak riil dapat teratasi. (G21-34e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA