logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Kecelakaan Travel Vs Trailer ( 2-Habis)

Uang Rp 20,3 Juta untuk Beli Sawah Raib

RUSNATI, termasuk wanita yang peka melihat peluang bisnis. Ketika menjenguk suaminya di tempat kerja di kompleks perumahan Pondok Karya, seputar Joglo, Jakarta Barat, dia tergugah untuk membuat warung makan kecil-kecilan guna mencukupi kebutuhan makan para pekerja proyek.

Niat itu pun akhirnya kesampaian, berkat dukungan sang suami, Taryanto, yang dipercaya bos PT Sabar Ganda sebagai mandor bangunan. Bangunan warung makan dengan modal pas-pasan berdiri di kompleks perumahan tersebut, sekitar dua tahun lalu.

Hasil dari jualan makanan sedikit demi sedikit ditabung. ''Saya memang berencana membeli sebidang sawah. Karena itu, istri giat menabung tiap bulan,'' papar Taryanto di kediamannya, kemarin.

Sampai Selasa lalu (28/10) Rusnati berhasil mengumpulkan uang Rp 17.700.000, hasil jualan warung makan ditambah penghasilan suami selama menjadi mandor di metropolitan. Wanita itu kemudian pamit kepada sang suami untuk membawa uang tersebut ke kampung.

Kebetulan anaknya, Casyamin, dan beberapa kuli bangunan lain juga akan pulang kampung. Para pekerja kasar tersebut pada Sabtu 25 Oktober lalu, baru menerima upah mingguan dari pihak perusahaan yang mengontrak mereka.

Mereka sepakat pulang bersama menggunakan mobil milik Nurkholik, yang baru datang dari kampung Desa Cikeusal Lor, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Selepas magrib, mobil minibus L 300 putih B-7101-RF sudah menunggu di kompleks perumahan Pondok Karya.

Ternyata rombongan yang mau pulang kampung 18 orang. Mereka pun duduk berdesak-desakan di mobil travel Permata Indah, dengan pengemudi Rustam.

''Anak saya Casyamin ketika itu membawa uang Rp 2,6 juta hasil kerja satu bulan di Jakarta. Adapun istri bawa Rp 17,7 juta. Semua uang itu hilang saat kecelakan,'' tutur Taryanto sedih.

Kesedihan lelaki tiga anak tersebut, bukan soal kehilangan uang yang dibawa istri dan anaknya ketika kecelakaan di ruas jalan Desa Kecipir, Kecamatan Losari, Brebes, Rabu dini hari lalu. Namun, karena dalam kecelakaan itu, istri dan anak berserta tujuh penumpang travel Permata Indah meninggal dunia.

''Ini memang suatu peringatan dari Tuhan. Karena semua sudah suratan, saya pasrah,'' ujar Taryanto.

Sedianya, setelah istri mudik ke kampung sore hari, Rabu pagi Taryanto akan menyusul pulang. Dia tak bisa berangkat bersama-sama, karena masih ada urusan dengan bos PT. Tak tahunya, istri dan anak pulang untuk selama-lamanya.

Taryanto menikahi Rusnati pada 1974, menghasilkan keturunan tiga orang anak. Yakni, Casyamin (28), Turyamah (20), dan Slamet (5).

Yang menjadikannya sedih ditinggal istri, karena si bungsu, Slamet, sangat dekat dengan ibunya. ''Dari kemarin dia rewel dan menangis terus.''

Adapun Casyamin, meninggalkan istri, Tati (25), dan anak satu-satunya, Reni (2). Keberadaan Taryanto sebagai mandor bangunan di Desa Cikeusal Lor, yang jauh dari kota, sudah diakui orang kampung. Dia banyak membawa anak desa yang menganggur untuk bara kerja di Jakarta.

Taryanto sendiri memulai kerja 30 tahun lalu, diawali dengan menjadi kuli kasar. Setelah bertemu dengan para bos perusahaan, dia diangkat menjadi mandor.

Kesedihan warga Desa Cikeusal terlihat ketika Suara Merdeka memasuki perkampungan tersebut. Banyak warga bergerombol membicarakan musibah kecelakaan lalu lintas maut, yang baru saja menimpa warga desa itu.

Sebagian besar dari mereka mengetahui kejadian tersebut dari berita televisi. Namun, ketika mengetahui kedatangan wartawan dari surat kabar yang memuat berita kecelakaan itu, mereka langsung meminta koran yang kebetulan dibawa. (Wahidin Soedja-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA