logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 1 November 2003 Jawa Tengah - Muria  
Line

Tiap Desa Dimotivasi Membuat Embung

MESKI hujan sudah turun beberapa kali, sisa-sisa penderitaan sebagian warga di sejumlah desa di Blora masih terasa. Di sebagian desa ada yang mudah mendapatkan air, namun tidak sedikit pula warga yang sulit mendapat air. Ini hanyalah satu dari sekian banyak dampak yang dirasakan warga Blora setiap musim kemarau.

Blora memang termasuk salah satu kabupaten dari 10 kabupaten di Jawa Tengah yang rawan bencana, baik tanah longsor, kekeringan, maupun banjir. Pakar Teknik Hidro Undip Dr Ir Robert J Kodoatie MEng berpendapat, satu-satunya jalan untuk menekan ancaman bahaya itu adalah dengan membuat embung atau sejumlah tempat resapan air.

Bupati Blora Ir H Basuki Widodo, dalam rangka memotivasi setiap desa untuk membuat embung, sekitar sepekan lalu mendatangkan peralatan berat berupa begu dan buldoser. "Dengan dua alat berat tersebut, Pemkab akan memotivasi tiap-tiap desa untuk membuat embung," jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Setda Blora, Slamet Pamudji SH kepada Suara Merdeka, kemarin.

Sebagai uji coba, dua peralatan itu kini berada di Kelurahan Wulung, Kecamatan Randublatung, untuk merampungkan proyek percontohan embung di kawasan hutan kota milik KPH Randublatung.

Tempat Resapan Air

Pembuatan embung, menurut Slamet, dimaksudkan bukan sebagai tandon air, melainkan langkah dasar untuk membuat tempat resapan air sebanyak mungkin di Kabupaten Blora. Dengan demikian, air permukaan tanah tidak terus menurun.

Saat ini sejumlah embung memang sudah dibuat Dinas Pertanian. Hanya, waktu itu tujuan utamanya sebagai tandon air yang diharapkan membantu petani di musim kemarau. Misalnya, untuk ngocori tanaman jagung, meski sebenarnya secara otomatis bisa sebagai tempat resapan air.

Dalam tahun anggaran 2003 ini, DPUK melalui Subdin Pengairan juga membuat sejumlah embung di beberapa tempat. Diharap kan dengan kucuran Dana Pembanguan Desa dan Kelurahan (DPDK), bisa digunakan sebagai dana pancingan membuat embung.

Slamet Pamudji tidak menampik jika kucuran dana ke semua desa berupa Dana Pedesaan dan Kelurahan (DPDK) memang sangat diharapkan bisa memotivasi masyarakat untuk membuat embung. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, besar dana DPDK ditingkatkan. Jika sebelumnya hanya Rp 50 juta, pada 2003 menjadi Rp 75 juta untuk masing-masing desa.

Pembangunan bidang pertanian di Blora memang cukup menjanjikan, menyusul mulai tahun ini kucuran dana dari Asian Development Bank (ADB) untuk sebagian desa sudah turun. Rencananya, setiap desa di Blora akan mendapat kucuran dana cukup besar, sekitar Rp 270 juta/desa.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Ir Bambang Sulistya, prinsipnya dana itu akan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana pertanian di pedesaan. Namun, tidak menutup kemungkinan nantinya Pemkab mengkaji apakah dana tersebut bisa untuk membuat embung atau sejumlah tempat resapan air.(Urip Daryanto-74s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA