logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 30 Oktober 2003 Sala  
Line

Wajah Solo Akan Tampak dari Pasar Cendera Mata

BALUWARTI - Pasar Cendera Mata di bagian barat Alun-alun Lor, perlu dipertegas lagi peruntukannya, apakah sudah sepantasnya menyediakan komoditas untuk mendukung objek wisata Keraton atau konteks lokasinya sebagai peninggalan sejarah, atau harus bervariasi seperti pasar umum/tradisional?

Sebab, bagaimanapun lokasi itu adalah bagian dari wajah Keraton Surakarta, yang nota bene akan menjadi bagian dari wajah Kota Solo.

"Jadi, prinsipnya dalam penataan kawasan Keraton, ada beberapa bangunan yang terpaksa mengalami alih fungsi, disesuaikan dengan realitas perkembangannya. Kemudian kita pertanyakan dan kita pertegas, pengunjung yang ke Keraton itu butuh barang-barang seperti apa? Ini yang harus kita pikirkan," tegas GPH Dipokusumo, Pengageng Parentah Keraton Surakarta ketika ditemui di pendapa Sasana Mulya, Baluwarti, kemarin.

Putra dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII yang akrab disapa Gusti Dipo itu, tidak langsung menjawab benar atau tidak, mengenai keinginan sebagian pedagang Pasar Cendera Mata agar tempat berdagang dijadikan Pasar Klewer II. Dia hanya menjelaskan, secara prinsip, kawasan Alun-alun Lor tetap menjadi bagian dari wajah Keraton, sekalipun ada beberapa bangunan di dalamnya yang terpaksa mengalami alih fungsi.

Suami RAy Febri Hapsari ini justru mengambil contoh keberadaan Keraton dan Pasar Klewer, sebagai dua objek aktivitas yang sama-sama berkait langsung atau tidak langsung dengan penataan atau revitalisasi itu. Artinya, ketika semua prasarana yang ada ditata dan dipugar, mana yang lebih mendapat keuntungan sebagai akibat dari realitas perkembangan situasi yang ada.

"Apakah akan memberi keuntungan kepada Keraton atau Pasar Klewer? Kemudian perlu dipertanyakan lagi, kalau ada orang berbondong-bondong datang di kawasan Alun-alun Lor, mereka itu menuju Keraton, Klewer, atau Masjid Agung? Ini kan perlu diidentifikasi. Sebab ini akan menentukan kira-kira barang-barang apa yang dicari pengunjung dan layak disajikan para pedagang?" jelas ayah BRM Nusantara (5) dan BRA Kusuma Dewi (2) itu.

Beberapa pertanyaan itu, dimaksudkan oleh Gusti Dipo juga berlaku untuk kawasan yang diberi nama Pasar Cendera Mata, yang kini tengah dikeluhkan sebagian pedagang karena pendapatannya menurun akibat dagangannya tidak laku. Namun dia bisa memahami, alih fungsi beberapa bangunan untuk keperluan yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas kepariwisataan, tentu harus ada batas waktu toleransinya.

Tak Sekadar Nama

Di tempat terpisah, KP Edy Wirabhumi selaku tim teknis revitalisasi Alun-alun Lor tidak keberatan apabila ada pedagang yang usul agar lokasi tempatnya berdagang dijadikan Pasar Klewer II. Sama dengan pengakuan GPH Dipokusumo, pihaknya belum pernah menerima usulan para pedagang secara resmi dengan surat, ditujukan ke Keraton.

"Kalau kami belum pernah menerima usulan itu. Enggak tahu apakah Pengageng Parentah Keraton sudah. Kalau saya, biar saja mereka usul. Yang penting, bagaimana ketika dibahas dalam rapat bersama nanti," tegas menantu Sri Susuhunan Paku Buwono XII itu.

Menurutnya, apa yang terjadi di Pasar Cendera Mata dan dinamika yang berkembang akhir-akhir ini, tidak sekadar perubahan nama dari kawasan situs budaya menjadi Pasar Cendera Mata, atau menjadi Pasar Klewer II, atau apa pun yang diinginkan kemudian. Menurut dia, apa pun keinginan itu harus dirujuk pada kesepakatan berbagai pihak yang sejak awal sudah mengakui, konsep revitalisasi harus berlandaskan pada konsep ideal yang bersumber pada kesejarahan dan kultural. (won-80i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA