
| Kamis, 30 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Tanaman Padi Terancam Tak Terairi
GROBOGAN - Waduk Kedungombo di Desa Rambat Kecamatan Geyer Grobogan belakangan ini dalam kondisi kritis. Sebab, airnya terus menyusut hingga melebihi batas toleransi. Bahkan kemarin elevasi waduk terbesar di Indonesia itu tinggal 68,97 meter. ''Sekarang ini air Kedungombo digelontorkan untuk kepentingan pertanian tanaman pangan dan air bersih PDAM per detik 50 m3. Itu sebabnya elevasinya terus menurun,'' kata Pimpinan Proyek Operasional Pemeliharaan (Pimpro OP) Jaringan Waduk Kedungombo Dinas PU Pengairan Grobogan H Margono ST MM, kemarin. Dijelaskannya, kalau sampai akhir Oktober ini waduk itu tidak mendapat tambahan air hujan atau sungai-sungai sekitarnya, dipastikan elevasinya semakin menurun tajam. Karena itu, Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Jateng dan Dinas Pengairan di Bakorlin Wilayah I Pati sepakat menutup waduk itu untuk kepentingan tanaman padi. Meskipun saat ini di daerah Grobogan, Pati, Kudus, Demak dan sekitarnya yang mendapat suplai dari Kedungombo tengah ramai-ramainya tanam padi musim hujan. ''Kalau tak ditutup keselamatan tanggul waduk itu akan terancam. Sebab, tanggul besar yang berfungsi sebagai penahan air di Desa Rambat Kecamatan Geyer tersebut akan mengering,'' katanya. Jika tanggul dalam kondisi kering, bisa berakibat tanah tanggul bergerak, bahkan tidak menutup kemungkinan merekah, sehingga membahayakan. Lebih-lebih jika waduk terisi penuh dengan tiba-tiba. ''Karena itu penggelontoran untuk kepentingan tanaman pertanian dihentikan, kecuali untuk air bersih PDAM Grobogan lewat jaringan irigasi Sidorejo dan Kota Semarang lewat Bendung Klambu,'' paparnya. Tanaman Jagung Margono menyadari, puluhan ribu petani di daerah Grobogan, Pati, Kudus, Demak, dan sekitarnya sekarang ini membutuhkan air Kedungombo untuk tanam padi. Sebab, musim tanam itu disepakati kelompok tani di beberapa daerah tersebut Oktober-Maret. Meski demikian, petani di Grobogan dan beberapa daerah itu masih banyak yang belum mempersiapkan tanam padi. Pasalnya, di sawah mereka masih ada tanaman jagung. Beberapa petani di Toroh dan Purwodadi mengatakan, kalau jaringan irigasi Kedungombo ditutup lagi, dipastikan tanaman padi di daerah tersebut mengering. Sebab, hujan sudah seminggu tidak turun di daerah itu. Partono (35), petani Toroh, mengatakan, petani di wilayah jaringan Kedungombo belakangan ini hanya mengandalkan air untuk tanaman padi dari waduk itu. Hal itu karena sungai-sungai masih dalam keadaan mengering, akibat curah hujan di Grobogan belum normal. ''Sehari hujan, beberapa hari kemudian tidak hujan. Sebaiknya mulai sekarang distribusi air Kedungombo ke daerah hilir diirit. Bila perlu digilir, sehingga air waduk itu bisa untuk menunjang kelangsungan tanam padi. Atau paling tidak dapat menyelamatkan tanaman tersebut dari ancaman kekeringan,'' paparnya. (A2-84k) |