SEMARANG - Pembongkaran dan pemindahan besar-besaran kerangka jenazah yang ada di Makam Kristen Kobong Jl Pengapon berlangsung Rabu (29/10). Penggalian dilakukan oleh dua belas pekerja yang dikerahkan Subdin Pemakaman Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota. Dari hasil pembongkaran, ternyata banyak kerangka jenazah yang sudah tidak utuh lagi.
Sayangnya kegiatan tersebut terganggu oleh air yang menggenangi areal makam seluas hampir satu hektare tersebut. Para pekerja pun harus berjalan dengan badan terendam sampai perut untuk menuju ke beberapa nisan.
Pembongkaran dilakukan mulai pukul 08.30. Pada pukul 16.00, kegiatan untuk sementara dihentikan dan dilanjutkan hari ini (30/10). Selanjutnya kerangka yang sudah tergali dan dimasukkan dalam peti dibawa ke Makam Kedungmundu Kristen untuk dikubur kembali. Di lokasi baru tersebut, sudah tersedia 250 liang kubur baru yang masing-masing berukuran panjang 80 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 50 cm.
Kerangka jenazah yang lain nantinya akan dikubur kembali di Makam Kedungmundu Cina dan Kedungmundu Veteran. Di masing-masing pekuburan tersebut, juga sudah disiapkan 250 liang dengan ukuran sama dengan liang di Kedungmundu Kristen.
Peti yang disiapkan Subdin Pemakaman berukuran panjang sekitar 70 cm, serta lebar dan tinggi 30 cm. Untuk mempermudah pekerjaan, masing-masing pekerja membawa peti terlebih dulu dan diletakkan di atas batu nisan yang akan dibongkar kuburnya.
Pada makam yang nisannya berukuran besar, para pekerja terpaksa menggempur terlebih dulu dengan martil. Setelah itu baru melakukan penggalian dengan cangkul. Jika ada rerumputan yang mengganggu, pekerja membersihkannya dengan sabit.
Pada penggalian beberapa makam, hanya ditemukan tulang yang sudah tidak utuh. Bahkan sudah tidak ada tulang tengkoraknya. Ada juga makam yang di dalamnya terdapat boneka. Anehnya boneka tersebut masih utuh.
Sekitar pukul 12.00, baru pekerja menemukan kerangka yang masih ada tulang tengkoraknya. Langsung saja dua tengkorak manusia tersebut menjadi tontonan warga. Bahkan anak-anak sekitar, tak canggung memegangnya.
Apalagi dari kerangka tersebut tidak menebarkan bau busuk. Bau tak sedap justru dari genangan yang ada di makam.
Proses pembongkaran makam tersebut memang menjadi tontonan menarik dari warga yang lewat. Sejumlah pengemudi kendaraan bahkan berhenti sejenak untuk mengetahui kegiatan tersebut.
Data dari Subdin Pemakaman, kedua tengkorak tersebut adalah milik Kasimah yang meninggal pada 2 Juni 1963 dan Kaminah yang meninggal 23 Januari 1972. Ada juga kerangka milik Ferhand yang meninggal pada 20 Januari 1930 dan FWH Vertel yang meninggal 26 Mei 1918.
Kasubdin Pemakaman Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Sugiyono mengatakan, diperkirakan ada 810 kerangka yang akan digali. Pihaknya hanya menyediakan 750 liang. Pertimbangannya, ada makam susun karena suami-istri.
Untuk mengidentifikasi kerangka, pihaknya membawa peta dan buku yang berisikan nama-nama orang yang dimakamkan di tempat tersebut.
Soal genangan, dia mengatakan sudah berusaha menyedotnya. Namun karena ada lubang yang terhubung dengan saluran di Jl Pengapon, airnya kembali lagi ke makam, sehingga tak bisa surut.
Dilumuri Oli
Proses pembongkaran Makam Kobong yang tergenang air memang terasa menjijikkan sekaligus mengerikan. Sebab selain airnya berwarna hitam kental karena terkontaminasi dengan limbah pabrik dan rumah tangga, ilalang yang begitu tinggi menutupi sebagian makam sehingga rentan menjadi sarang ular dan hewan berbisa lainnya.
''Disuruh turun sebentar saja ke air tersebut dan dibayar Rp 50.000 pun saya tidak mau,'' kata Didin (27), warga yang menyaksikan pembongkaran makam itu.
Keengganan untuk masuk ke dalam makam pun dirasakan para fotografer serta kameramen media cetak dan elektronik yang meliput proses pembongkaran itu. Mereka memilih memotret dan menunggu hasil pembongkaran di pinggir jalan. Kalau tidak ada genangan air mereka berani masuk ke dalam makam.
Daim (40), salah satu tenaga bongkar makam menuturkan, kedalaman areal makam ada yang mencapai 1 meter. (G7,G17-45)