logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 30 Oktober 2003 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Ratusan Nelayan Waswas, Sering Kecelakaan

  • Korban Tewas Berjatuhan

KEBUMEN - Ratusan nelayan Desa Pasir Kecamatan Ayah, Kebumen, merasa waswas melaut di pantai. Sebab, saat mendarat, mereka kerap mengalami kecelakaan, menghantam tetrapot yang berada di bibir pantai.

Tetrapot itu semula berfungsi sebagai pemecah gelombang. Berhubung tertutup pasir dan membahayakan nelayan, kini keberadaannya digeser. Namun, ternyata tetrapot itu masih mengganggu kenyamanan nelayan yang mendarat.

Sadimin (36), ketua rukun nelayan pasir, kemarin mengatakan, dalam dua bulan terakhir terjadi beberapa kecelakaan yang merenggut nyawa serta merusak kapal-kapal nelayan. Sebelumnya, pernah pula terjadi beberapa kecelakaan.

Dia mengungkapkan, pada 13 September lalu, kapal nelayan dari Desa Banjarharjo menabrak tetrapot dan hancur. Akibatnya, nelayan bernama Rakum meninggal.

Pada 21 September, kapal Intisari milik nelayan pasir juga menghantam tetrapot. Kapal beserta mesin dan isinya yang terdorong ombak, hancur. Pada 1 Oktober, perahu fiberglass Mino Samudra berantakan setelah menabrak pemecah gelombang tersebut di tepi pantai.

Dalam musibah tersebut, seorang nelayan, Subari, hilang ditelan ombak. Mayat nelayan baru ditemukan lima hari kemudian. "Sejak itu kami semakin waswas dan berharap semua tetrapot disingkirkan," ungkap Sadimin.

Para nelayan mengakui, awalnya tetrapot itu sebagai pemecah gelombang di Pantai Pasir bersamaan proyek pusat pendaratan ikan (PPI) dari Dinas Perikanan Provinsi Jateng.

Berhubung kondisi alam dan gelombang laut besar, tetrapot itu justru membahayakan keselamatan nelayan.

Para nelayan meminta Gubernur Jateng H Mardiyanto ikut memberikan perhatian. Hal itu terkait dengan Program 100 Hari Gubernur agar bisa mengatasi keluhan para nelayan pantai selatan Kebumen.

Tidak Mampu

Secara terpisah Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (Peperla) Kebumen drh Jatmiko mengakui ada keluhan dari para nelayan tersebut.

Jatmiko menyatakan, seharusnya provinsi segera turun tangan. Pasalnya, yang paling besar menikmati retribusi hasil laut pantai selatan justru Pemprov. Pendapatan nelayan Kebumen selama setahun mencapai Rp 16 miliar, tetapi retribusi ke Pemkab hanya Rp 156 juta.

Khusus di Pantai Pasir, selama Januari-Oktober hasil tangkapan mencapai sekitar 2.259 ton ikan dengan raman Rp 4,5 miliar.

Dia mengatakan, melalui SK bupati, pihaknya membangun tiga tempat pelelangan ikan, yaitu TPI Rawa Mirit, Srati Ayah, dan Tanggulangin Klirong.

Pengelolaan TPI itu menjadi kewenangan Pemkab, termasuk pengaturan retribusi. Selama ini retribusi masuk ke Pemkab hanya 0,95%, dengan TPI baru itu kabupaten memperoleh 30%.(B3-76i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA