
| Kamis, 30 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
90 % Wilayah Cilacap Rawan Bencana Alam
CILACAP- Kabupaten Cilacap masih menempati urutan pertama daftar daerah rawan bencana di Provinsi Jateng. Sebab, luas daerah rawan bencana di kabupaten itu hampir mencapai 90% dari luas wilayah keseluruhan, yakni 225.360,84 hektare. Terbukti, dari 24 kecamatan di kabupaten itu, yang dinilai paling aman dari bencana alam hanya tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Cilacap Utara, Selatan, dan Cilacap Tengah. Itu pun tidak berarti aman 100%. Adapun 21 kecamatan termasuk katagori rawan bencana, seperti banjir, tanah longsor, angin topan, dan tanah bergerak. Meski dinilai sebagai daerah yang paling rawan bencana alam di Provinsi Jateng, Cilacap juga dinilai sebagai daerah yang paling berpengalaman dalam penanganan bencana, terutama banjir dan tanah longsor. ''Karena dianggap berpengalaman, pada saat Rakor Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) tingkat Provinsi Jateng di Solo, beberapa waktu lalu, Cilacap diminta untuk memberikan paparan,'' Kata Ketua Satkorlak PBP Cilacap, Drs H Sudarno MM ketika dihubungi Suara Merdeka, Rabu (29/10). Lebih lanjut Asisten II Sekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu mengatakan, untuk mengantisipasi bencana alam selama musim hujan tahun ini semua posko PBP, mulai tingkat kabupaten sampai desa/kelurahan, telah diaktifkan kembali. Kebutuhan logistik dan semua barang/peralatan yang bakal dibutuhkan juga telah disiapkan. Kebutuhan logistik yang telah tersedia di posko PBP kabupaten yakni, 51.200 kg beras, 50 dus mi instan, 7 dus kecap, 7 dus saus/sambal, dan 7 dus sarden. Sudah Disiapkan Barang/peralatan yang sudah disiapkan terdiri atas 595 sak semen, 13.000 lembar karung plastik, dan 7 unit perahu karet. Ditambah, 2 unit perahu jukung, 3 unit perahu fiberglass, 4 mesin tempel, 2 unit radio RIQ, 5 unit pesawat HT, 3 unit tenda peleton, 46 pasang sepatu boot, dan 4 unit peralatan dapur umum. Keempat set peralatan dapur umum tersebut sudah ditempatkan di empat kecamatan, yaitu Majenang, Sidareja, Cipari, dan Kawunganten. ''Selain itu, kami juga telah menyiapkan peralatan lain berupa 45 kompor, 16 ceret, 16 tempat nasi, 44 wajan besar, 1.130 sarung, 42 kaus dewasa, 42 daster, dan 25 dus pakaian pantas pakai,'' kata Sudarno. Untuk mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor di jalur arus mudik Lebaran 1424 H, lanjut dia, Dinas Binprasda telah menyiapkan beberapa peralatan berat. Peralatan tersebut siap digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Di jalur arus mudik antara perbatasan Ciamis-Cilacap sampai pertigaan Wangon, Banyumas terdapat beberapa titik rawan bencana. Khusus di wilayah Kabupaten Cilacap, jalur mudik yang rawan tanah longsor adalah kawasan perkebunan karet Cikukun, Kecamatan Wanareja. Adapun jalur mudik yang rawan banjir, yaitu Wanareja, Pahonjean (Majenang), Cilemeuh (Cimanggu), dan Tayem (Karangpucung). Jalur alternatif yang rawan banjir, yaitu Desa Bantar, Meluwung, Cilongkrang (Wanareja), Cipari, Sidareja, Bantarsari, dan Kawunganten. ''Kami mengantisipasi sampai sejauh itu, karena November-Desember merupakan puncak musim hujan tahun ini. Padahal Lebaran 1424 H, Insya Allah, akan dirayakan pada 25-26 November 2003,'' katanya. (ag-20i) |