
| Kamis, 30 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Ramadan Ya RamadanKarena Kolak, Pisang Muhardi LarisPURWOKERTO- Muhardi (47), warga Desa Ciberem Kecamatan Sumbang, Banyumas tiga hari pertama bulan puasa ini bernapas lega. Maklum, dagangan pisangnya mulai banyak dibeli orang. Sebelum memasuki bulan Ramadan, dagangannya selalu sepi. Hal serupa juga dialami sekitar 39 orang penjual pisang lain, yang biasa mangkal di Jalan Wihara. Pada hari biasa para pembeli kebanyakan pelanggan warungan. Namun sekarang bertambah, karena masyarakat umum juga banyak membeli. ''Lumayan, sekarang agak ramai. Sebelumnya sepi terus,'' tutur dia di sela-sela melayani pembeli, kemarin. Diceritakannya, sebelum bulan puasa, satu hari berjualan, mulai pukul 06.00 hingga pukul 16.00, pemasukan bersih hanya sekitar Rp 20.000 - Rp 25.000. ''Namun gingga siang ini (pukul 14.00), saya sudah mendapat untung Rp 50.000. Pembelinya kebanyakan ibu-ibu. Kata mereka, pisang tersebut untuk kolak,'' ujar dia. Kolak pisang saat berbuka memang menjadi pilihan favorit kaum muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa. Selain rasanya manis sehingga dapat menghilangkan rasa pahit di tenggorokan kering, juga baik untuk kesehatan. Perut kosong kalau langsung diisi makanan yang keras bisa berbahaya terhadap saluran pencernaan. Karena itu menu pilihan sebagai pembuka sebelum nasi, selain buah-buahan umumnya adalah kolak pisang. Pisang Kepok Pedagang yang berjualan di kompleks Pasar Wage Purwokerto hampir enam tahun itu mengatakan, pisang yang laris terjual adalah jenis kepok dan pisang nangka. Satu epek atau satu sisir dijual antara Rp 1.500 - Rp 2.500. Adapun jenis lain, yaitu pisang ambon, buah dan pisang layang lakunya hampir merata. Karmin (50) pedagang asal Purbalingga menambahkan, pisang tersebut dibeli dari para penjual asongan yang mengambil langsung dari petani atau pemilik kebun pisang, kini jumlahnya lebih dari 200 orang. Dari pemasok/penjual asongan dibeli secara borongan. Satu keranjang berharga antara Rp 75.000 - Rp 100.000. ''Harganya tidak tetap, tergantung pada jenis, besar kecilnya, dan kualitas barang,'' ujarnya. (G22-20i) |