
| Kamis, 30 Oktober 2003 | Budaya |
Gelar Budaya AdhiluhungYAYASAN Gris dan Undip Semarang, baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan yang cukup menarik. Pada kegiatan itu, disuguhkan tari klasik Gambyong Pareanom, peragaan kebaya modifikasi kreasi Adhi Krisna/ Tiara Suci Salon, peragaan Temanten Semarangan karya Maudy Salon, dan tarian anak kreasi baru secara kolosal diusung oleh Sanggar Padma Diva Semarang. Tontonan itu menjadi marak dan menawan, sekaligus mampu menimbulkan decak kagum dari pemirsanya. Sebab, hampir semua paket hiburan tersebut dikemas dan didesain secara matang, terpadu, dan sinergis. Baik itu tata dekorasi, tata gending, maupun penyinaran (lighting)nya. Semua menjadi hidup, dan di luar dugaan para pengurus dan staf yayasan tersebut. Terlebih, kemasan kalimat pengantar acara dari pranatacara (yang baru diwisuda saat itu), dibuat eksotis, serta lain dari kemasan-kemasan biasanya. Hal itu, memberikan nuansa dan rasa baru, dan merupakan sebagai bukti bahwa karya Pawiyatan Pranatacara Gris memang agak lain. Semua itu, menurut Penananggung Jawa Pawiyatan, Drs T Soetojo MM MBA, memang telah disiapkan dengan konsepsi yang matang dan kaya kreativitas. Konsep tersebut, ujarnya, cukup mengagumkan, unik, dan aneh, sekaligus menguak idea yang cemerlang. Dalam acara tersebut, para wisudawan diberi minum toya wening (air bersih) sebagai lambang nyecep ngelmu budaya Jawa, untuk di-salira, dilestarikan, dan dikembangkan. Prosesi itu, berlangsung khidmat dan sangat meraik sebagai karya budaya yang layak diappresiasi. Sebagai puncak acara, diselenggarakan sarasehan budaya dengan tema "Menatap ke depan Pembangunan Bangsa dengan Menyalira Tri Dharma Budaya Jawa" . Tri Dharma tersebut intinya adalah mulat salira hangrasa wani, melu handarbeni, dan wani hanggondheli. Tampil sebagai pembicara kunci, Prof Dr Sri Rahayu Prihatmi MA dengan bahasan "Memimpikan Eksistensi Budaya Jawa Adhiluhung", Prof Dr Soetomo WE dengan judul makalah "Mengemas Seni Budaya Jawa Sesuai Zaman dan Pasarnya dengan Tidak Meninggalkan Keadhiluhungannya", serta orasi budaya oleh Drs T Soetojo MM MBA dengan topik bahasan "Asu Tenan ?". Sarasehan tersebut dipandu oleh moderator Drs. Sukirno MSi, Rektor Untag Semarang.(41) |