logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 30 Oktober 2003 Budaya  
Line

Film Uptown Girls

Lara Membawa Dewasa

APA jadinya, bila kekayaan dengan rentengannya -kemewahan dan kemudahan- yang biasanya menyertai kehidupan seseorang, dalam hitungan hari tiba-tiba terbang dan raib entah ke mana? Nestapa, jawabnya. Namun, kemiskinan tidak melulu meninggalakan kemiskinan belaka, jika kita mampu memaknainya menjadi sesuatu yang mendewasakan dan membijaksanakan kehidupan pada akhirnya.

Itulah kira-kira, pesan yang ingin disampaikan lewat film teranyar produksi MGM Pictures dan Greenstreet Films berjudul Uptown Girls.

Dengan gaya penuturan yang sangat membumi, film yang dibesut oleh Boaz Yakin berdasarkan skenario yang bernas hasil kolaborasi tiga penulis -Julia Dahl, Mo Ogrodnik, dan Lisa Davidowitz- itu banyak membagikan kebijakan dalam dialognya. Intinya, meski terkesan klise, pencarian eksistensi diri bisa didapatkan dari arah dan jalan mana pun, selama kita dengan bijak mau dan mampu menyikapi hidup ini.

Apalagi dengan dukungan para pemain muda belia, seperti Brittany Murphy, yang bermain apik sebagaimana di dalam film-filmnya terdahulu, yaitu Clueless, Girl Interupted, Don't Say a Word, dan terakhir bermain sebagai kekasih rapper Eminem dalam film 8 Mile.

Kemudian ada pula bintang muda belia, Dakota Fanning, yang masih berusia delapan tahun, dan pernah meraih Screen Actor Guild Award, ketika menjadi lawan main Sean Penn dalam film nominator Academy Award, I Am Sam.

Film Uptown Girls juga mendapat dukungan artis senior Heather Locklear, yang di Indonesia dikenal lewat serial Melrose Place. Maka, lengkaplah film yang mulai menangguk sukses secara pelan dan pasti di Amerika itu menjadi alternatif tontonan dan hiburan.

Bangkrut

Tersebutlah Molly Gunn (Brittany Murphy), putri satu-satunya mantan legenda rock yang telah mangkat dengan segala warisan kekayaannya. Dengan statusnya tersebut, ia menjadi incaran perancang busana nomor wahid, dan buruan para sarjana moncer yang berlomba mengencaninya.

Singkatnya, hidup Molly adalah never-ending party. Namun, semua kehidupannya berubah 180 derajat ketika akuntan pribadinya membawa lari seluruh hak waris yang diturunkan oleh mendiang ayahnya. Tentu saja Molly bangkrut, dan ia harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam hidup ini; bekerja keras.

Dengan uluran karibnya, Ingrid (Marley Shelton) dan Huey (Donald Faison), Molly melamar bekerja sebagai nanny (pengasuh) anak perempuan seorang produser musik, Roma Schleine (Heather locklear). Ia harus mengasuh Ray Schleine (Dakota Fanning), seorang putri berusia delapan tahun dengan keseriusan, dan kesempurnaan hidup layaknya perempuan berusia 40 tahun.

Dan karena kesibukan ibundanya mencari nafkah dengan konsekuensi mencukupi segala kebutuhannya, Ray tentu saja secara emosional berjarak dengan ibunya. Karena orang yang paling dekat dengannya adalah sang pengasuh, Molly, akhirnya mereka berdua mencoba menguak kedukaannya masing-masing untuk menjadikan hari-harinya lebih bermakna.

Maka, mulailah dialektika antara pengasuh dan yang diasuh -yang sudah tak berjarak itu- untuk saling berbagi serta belajar tentang hidup dan kehidupan. Di film tersebut, usia menjadi tak ada arti, karena kebijakan dapat datang dari siapa saja. Bahkan dari seorang anak yang masih belia sekalipun. (Benny Benke-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA