logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 29 Oktober 2003 Sala  
Line

Akibat Kerusakan Lingkungan Pemprov Diminta Cabut Izin Begu

KLATEN - Hadirnya sejumlah alat berat begu untuk menambang pasir di daerah Kemalang, Klaten, menyebabkan kondisi alam di daerah lereng Gunung Merapi itu memprihatinkan.

Tak hanya pasir di daerah penambangan Kaliworo yang digali, tetapi juga pasir di pekarangan rumah penduduk hingga belasan meter dalamnya ikut digali.

Sampai saat ini, Pemkab Klaten masih kesulitan untuk mengendalikan operasi begu, sebab perizinannya ditangani Pemprov Jateng. Padahal, bila tak segera ditangani, tak hanya penambang tradisional yang tersisih, tetapi kelestarian alam jadi taruhan.

Menghadapi protes para pecinta alam, Pemkab Klaten tak berdaya sebab mereka tak memegang kendali perizinan. Setelah disoroti masyarakat cukup lama, akhir-akhir ini Bupati Klaten mencoba meminta agar izin operasi begu di Klaten yang dikeluarkan Pemprov Jateng itu dicabut.

Dengan pencabutan izin itu berarti tak ada begu yang bisa disewa masyarakat untuk menggali pekarangannya. ''Yang tahu kondisi di Klaten kan kami, maka kami minta izin itu dicabut untuk menyelamatkan lingkungan di sana yang sekarang sudah mulai kritis. Saya sudah bertemu gubernur dan tinggal menunggu jawaban,'' kata Bupati Klaten H Haryanto Wibowo, kemarin.

Semakin Parah

Dia pernah meninjau langsung kerusakan alam di Kemalang yang diakibatkan oleh begu. Bila tak segera dihentikan, kerusakannya akan semakin parah. Keadaan itu berbahaya bila terjadi hujan.

''Saya lihat sendiri ada pekarangan yang digali sampai sekitar 12 meter. Apa mereka tidak berpikir kalau sampai anaknya jatuh ke lubang itu kan bahaya, tetapi saya bisa apa kalau mereka bilang itu lahannya sendiri,'' ujar Haryanto.

Dia sangat memahami desakan masyarakat. Salah satunya Forum Penyelamat Merapi (FPM) yang mendesak Pemkab Klaten untuk menghentikan penambangan pasir dan batu di Kaliworo dengan menggunakan begu. Sebab, penggunaan alat berat itu menimbulkan ancaman yang serius pada kelestarian lingkungan hidup.

Joko Sartopo, aktivis FPM mengatakan, dulu penambangan pasir hanya dilakukan di sepanjang alur Sungai Kaliworo, namun kini dengan mobilitas begu yang tinggi penambangan sudah merambah ke lahan produktif.

Menurut pengamatannya, penggunaan begu sudah sampai pada pengeksploitasian lahan milik Perhutani. Selama ini, penggunaan begu juga telah mengubah pola penambangan yang sebelumnya dilakukan secara manual yang melibatkan banyak tenaga kerja. Kini, penambangan cukup dilakukan beberapa oleh orang.

Dikhawatirkan, lambat laun, penambang tradisional yang mengandalkan tenaga manusia akan tersingkir, sebab tenaga manusia sangat tidak mungkin berhadapan dengan tenaga mesin yang kuat.

Saat ini, sebagian besar warga di sekitar Kaliworo yang semula menggantungkan hidupnya dengan mencari pasir di Kaliworo, banyak yang menganggur. Mereka tak mampu bersaing dengan begu. Kalau masih ada yang menambang, itu karena keadaan, tetapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kenyataan itu memperbanyak angka kemiskinan.

Hal yang paling menyedihkan dari beroperasinya begu adalah kerusakan lingkungan yang parah. Karena itu, sejumlah aktivis lingkungan mendesak pemerintah untuk menghentikan aktivitas begu-begu itu.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh begu terjadi begitu cepat. Dalam beberapa menit, lahan yang luas bisa berubah menjadi lobang dengan kedalaman belasan meter karena diambil pasirnya.

Mata pencahariannya sebagai penambang tradisional kalah dengan begu. Karena itu, upaya penanganannya harus berpacu dengan waktu. Lubang galian begu tak hanya merusak tanah dan lingkungan, tetapi bila hujan datang akan menjadi potensi bahaya baru. Penambang pasir tradisional yang hanya mengandalkan tenaga manusia juga tak mampu bersaing dengan alat bertenaga besar itu.(F5-14n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA