logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 29 Oktober 2003 Sala  
Line

Berkarier dari Tahun 1975

WONOGIRI - Drs H Triwibowo MM, Sekda Wonogiri yang sejak Senin (28/10) diberhentikan dari jabatannya oleh Bupati H Begug Poernomosidi SH, mengawali karier PNS-nya sejak tahun 1975, saat daerah itu dipimpin Bupati S Harmoyo.

Kariernya dimulai golongan pangkat IIIA, setelah sebelumnya menyelesaikan kuliah di Fakultas Sosial Politik Undip. Dia dikenal sebagai putra daerah dan lahir 3 Agustus 1949. Sekolahnya sejak dari SD, SMP sampai SMA pun di Wonogiri.

Untuk sampai ke jejang puncak karier di jajaran eksekutif, yakni sebagai sekda, dia menjalani sejak titik paling bawah, yakni staf di Pemda Wonogiri. Pada tahun 1977 dipercaya menjadi Kepala Badan Pengelola Objek Wisata (BPOW), embrionya Dinas Pariwisata.

Dua tahun kemudian dia dipromosikan sebagai Kepala Sub Bagian Pariwisata (1979), promosi Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) tahun 1981. Tahun 1987 dilantik menjadi Pembantu Bupati (Wedana) untuk Wilayah Distrik Jatisrono. Pada periode 1987 sampai 1992, merangkap jabatan sebagai Camat Girimarto.

Tanggal 30 November 1992 dimutasi menjadi Pembantu Bupati untuk distrik Wuryantoro. Selanjutnya, sejak 30 April 1999 dipromosikan menjadi Ketua Bappeda, sebelum akhirnya terhitung 16 Juni 2000 diangkat menjadi sekda.

Tumbu Oleh Tutup

Pria yang memiliki hobi menyanyi dan memainkan musik ini, sering menyumbangkan suara emasnya pada saat acara-acara tertentu. Seperti ketika ada pergelaran musik di pendapa kabupaten atau saat menghadiri acara yang kebetulan didaulat untuk menyanyi.

Kemampuannya menyanyi cukup andal. Dia tidak saja mampu menyanyi lagu-lagu pop Indonesia, tetapi juga langgam, keroncong, dangdut, barat, dan bahkan sampai tembang campursari yang diiringi musik kerawitan gamelan.

Banyak warga Wonogiri memandang dia bagai tumbu oleh tutup ketika datang Bupati H Begug Poernomosidi SH yang juga hobi mendalang. Sebab pada acara adegan "Limbuk-Cangik", sering Begug meminta Triwibowo untuk nembang di adegan gecul (jenaka) limbukan itu.

Kecintaannya terhadap seni budaya yang cukup tinggi menjadikannya dia ikut diwisuda sebagai abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat. Pada awalnya dia mendapat gelar sebagai bupati sepuh dengan sesebutan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wibowo Adinegoro.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tingalan jumenengan dalem Ingkang Sinuwun Paku Buwono (PB) XII, 28 September lalu, gelarnya dari Keraton dinaikkan menjadi Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT).

Menyikapi nasibnya yang mendadak diberhentikan dari jabatan sekda ini, dia memilih bersikap diam dan enggan memberikan komentar kepada wartawan. (Bambang Pur-17k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA